Lestarikan Permainan Tradisional, KOTI Mulai Perkenalkan Permainan Tradional di 34 Provinsi

eiring perkembangan zaman, permainan mulai kehilangan pamornya dan kalah bersaing dengan games yang ada saat ini.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Erik Sinaga
Istimewa/Dok Foto KOTI
Suasana pengenalan permainan trasional untuk menggali Mutiara Pancasila di berbagai Provinsi di Indonesia. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia (KOTI) Pusat kembali lakukan sosialisasi olahraga tradisional di 34 Provinsi yang ada di Indonesia.

Seiring perkembangan zaman, permainan mulai kehilangan pamornya dan kalah bersaing dengan games yang ada saat ini.

Untuk itu KOTI mulai kembali melakukan sosialisasi dengan bekerjasama bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk mengenalkan permain tradisional kepada seluruh anak di berbagai Provinsi di Indonesia.

"Kita lakukan kerjasama dengan BPIP untuk mengenalkan berbagai macam permainan tradisional ini. Ini sudah berjalan di 5 Provinsi. Untuk Yogyakarta, Kalimantan dan Tapanuli Utara sudah kita sambangi juga," kata Divisi Penggalian dan Pelestarian KOTI, Fadlu Rachman saat dikonfirmasi, Selasa (27/8/2019).

Nantinya permainan tradisional juga akan digabungkan dengan permainan khas Provinsi masing-masing. Sebagai contoh di Tapanuli Utara, terdapat permainan balap goni, engklek, lari balok, dampu dan sarung karambia.

Penemuan 4 Kerangka Manusia di Banyumas: Pembunuhan Antarsesama Anggota Keluarga Karena Warisan

Orangtua Relakan Kepergian Murid SD yang Tewas Diduga Tersetrum di Sekolahnya

Nyaris Jadi Arang, Penyebab Kematian Pupung dan Dana Tak Dapat Diketahui

"Kita ingin menggali Mutiara Pancasila melalui pengenalan olahraga tradisional. Sehingga sasarannya ke anak-anak dan masyarakat luas dalam rangka menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui permainan tradisional," sambungnya.

Dengan berjalannya kegiatan seperti ini, Fadlu berharap anak-anak maupun masyarakat luas dapat mengenal budaya mereka sendiri. Kemudian dapat dilestarikan bahkan dikenalkan ke generasi berikutnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved