Putranya Diringkus Densus 88, Orangtua Terduga Teroris di Bekasi Masih Syok
Densus 88 menggelar sejumlah operasi penangkapan terduga teroris di sejumlah wilayah salah satunya di rumah kontrakan RT 007/002, Kota Bekasi.
Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar
TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI TIMUR - Detasmen Khusus Antiteror (Densus 88) menggelar sejumlah operasi penangkapan terduga teroris di sejumlah wilayah salah satunya di rumah kontrakan RT 007/002, Kelurahan Aren Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Senin, (23/9/2019) kemarin.
Lokasi tersebut merupakan kediaman dari terduga teroris berinisial ASH (26).
Denny Suwarton ketua RT setempat mengatakan, proses penangkapan dilakukan secara singkat dan tanpa perlawanan.
"Kejadiannya kemarin sekitar jam 07.00 pagi, cepat enggak ada perlawanan Densus datang ke rumah saya dulu abis itu langsung ke rumah itu (terduga) langsung di bawa pakai mobil," kata Denny kepada TribunJakarta.com, Selasa (24/9/2019).
ASH kata Denny tinggal bersama kedua orangtua dan istrinya, saat penangkapan berlangsung, keluarga berada di rumah dan hanya bisa menyaksikan putranya diringkus Densus 88.
"Orangtuanya sekarang juga masih ada di rumah tapi dari kemarin sudah amanah ke saya kalau ada apa-apa ke saya aja, soalnya masih syok," jelas dia.
Menurut data yang disimpan lingkungan RT, keluarga ASH sudah mendiami rumah kontrakan di Arenjya cukup lama.
Namun orangtuanya cukup dikenal baik dilingkungan sekitar.
"Kalau orangtuanya saya kenal karena udah cukup lama tinggal di sini, udah lebih dari 5 tahun, tapi kalau anaknya memang saya kurang akrab karena jarang keluar juga di lingkungan," jelas dia.
Adapun saat ditangkap, ASH dibawa menggunakan mobil oleh Densus 88, selain itu, sejumlah barang bukti seperti buku-buku dan tas kecil disita dari dalam rumah terduga teroris.
"Kalau pas geledah saya kebetulan melihat sendiri, semua isi rumah diperiksa Densus, ada lebih 5 orang yang geledah bawa senjata lengkap ada yang berseragam ada yang pakaian preman," jelas dia.
Penggrebekan Pasutri Terduga Teroris di Bekasi, Dikenal Jarang Keluar Hingga Kecurigaan Warga
Warga Kampung Rawakalong Poncol, Desa Karangsatria, RT02/04, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, digegerkan dengan penangkapan pasangan suami istri (pasutri) terduga teroris, Senin (23/9/2019).
Dari informasi yang diterima TribunJakarta.com, pasutri terduga teroris yang diringkus diketahui, suami berinisial AR (23) dan istri berinisial S (19). Penangkapan dilakukan sekitar pukul 06.00 WIB, disebuah rumah kontrakan.
Baru Satu Bulan Mengontrak
Pasutri terduga teroris, AR dan S menurut keterangan warga sekitar, baru tinggal di rumah kontrakan itu satu bulan lalu. Mereka tinggal berdua dan belum sempat melapor ke RT setempat.
"Warga baru, belum kasi KTP ke saya, saya juga kurang kenal," kata Qurtubi ketua RT setempat.
Dikenal Tertutup
Karmen (36), warga yang mengontrak bersebelahan dengan pasutri terduga teroris mengatakan, selama tinggal bertetangga, dia tidak pernah berbincang atau mengetahui secara personal.
"Saya kurang kenal baru sebulan disini, tinggal berdua aja suami istri," kata Karmen kepada TribunJakarta.com.
Pasutri ini sangat tertutup, keseharian mereka lebih sering dilakukan di dalam kontrakan. Sejak pertama kali pindah, mereka juga tidak pernah mengenalkan diri kepada tetangga samping atau depan rumah kontrakan.
"Jarang keluar, paling suaminya aja kalau solat jumat ke masjid, sama ke warung aja, keluar aja ada saya juga enggak negor (menyapa) lewat aja," jelas dia.
Saking tertutupnya, aktivitas seperti menjemur pakaian juga dilakukan malam hari, bahkan mereka selama tinggal jarang sekali beraktivitas keluar rumah meski menurut infomasi warga, suaminya mengaku bekerja di sebuah perusahaan.
"Enggak pernah ngobrol tapi kalau kata orang-orang sini ngakunya kerja, tiap pagi cuma saya enggak pernah liat dia berangkat kerja," jelas dia.
Warga Curiga
Karmen (36), tetangga yang mengontrak berselahan dengan terduga teroris mengatakan, sebelum operasi penangkapan, dua hari lalu ia kerap melihat sejumlah orang yang tidak dikenal melintas di sekitaran kontrakan.
"Udah dari kemarin ada orang, dua hari ini udah ada orang mondar-mandir, mulai curiga, biasanya enggak pernah lewat sini, bawa motor, mukanya lihat ke sini mulu, dari hari sabtu-lah itu kira-kira," kata Karmen kepada TribunJakarta.com.
Selanjutnya, malam hari sebelum kejadian, orang yang sama juga masih terlihat melintas di sekitaran rumah kontrakannya. Saat itu, dia tidak menegur atau mencari infomasi lebih lanjut tentang keberadaan orang-orang tersebut.
"Badannya besar-besar pakai baju biasa, saya pikir bank keliling (rentenir)," ungkap Karmen.
Hal yang sama diungkapkan Nyai (54), warga yang tinggal di depan rumah kontrakan pasutri terduga teroris membenarkan perihal keberadaan orang-orang yang mengintai sebelum aksi penangkapan.
"Dari malem polisi sudah muter-muter bae, dari kemarin lah. Malem muter lagi, nanyain rumah pak RT," jelas dia.
• VIDEO Massa Aksi Gejayan Diberi Buah dari Atap Rumah, Pemilik: Begitu Besar Perjuangan untuk Rakyat
• VIDEO Massa Gejayan Memanggil dapat Ratusan Buah, Pemilik: Begitu Besar Perjuangan untuk Rakyat
• Kumpulkan Donasi Aksi Mahasiswa di DPR, Ananda Badudu Sebut Jokowi Tersandera Kepentingan Politik
• Warga Cipayung Jakarta Keluhkan Layanan Jemput Bola Akta Kelahiran dan KIA: Ngaret!
Penggrebekan berlangsung singkat
Nyai (54), warga sekitar lokasi mengaku sempat kaget ketika melihat puluhan personel dari Dunsus 88 Antiteror Mabes Polri diterjunkan dalam proses penangkapan tersebut.
"Polisi banyak pertama datang 4 mobil, terus langsung ke kontrakan ada kali 8 orang dobrak pintu," ungkap Nyai warga yang tinggal bersenelahan dengan kontrakan terduga teroris.
Polisi dari Densus 88 Mabes Polri itu langsung melakukan sterilisasi lokasi penangkapan, Nyai menyebutkan, jalan menuju ke arah kontrakan sempat ditutup. Warga dilarang memdekat ketika proses penangkapan sedang berlangsung.
"Ini setiap jalan dijaga polisi pada bawa senjata, ada yang pake seragam kaya Densus ada yang pakai baju biasa, kita disuruh masuk semua enggak boleh ada yang keluar," jelas dia.
Proses penangkapan ini berlangsung cukup singkat, sekitar pukul 07.30 WIB, kedua terduga teroris pasutri langsung dibawa ke ke dalam mobil bergantian.
"Pertama suaminya dibawa masuk ke mobil, baru abis itu istrinya, udah diborgol kalau suaminya cuma pakai kolor warna cokelat, kalau istrinya biasa udah rapih baru dibawa, enggak ads perlawanan sepi aja gitu," kata Nyai.
Buku-buku Turut Dibawa Densus 88
Selain membawa pasutri terduga teroris, Densus juga menggeledah isi rumah kontrakan. Bahkan, tangga miliknya sempat dipinjam untuk digunakan memetiksa loteng rumah kontrakan.
"Dibawa motor, kasur lantai dibawa, buku tebel-tebel banget dibawa pakai tiga kantong plastik sama kotak kardus," jelas dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/denny-suwarton-ketua-rt-007002-kediaman-terduga-teroris-ash.jpg)