Penangkapan Terduga Teroris

Terduga Teroris di Bekasi Pernah Jadi Saksi Parpol Saat Pilpres 2019

ASH (26), terduga teroris yang diciduk Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror sempat menjadi saksi parpol saat Pilpres 2019 lalu.

Terduga Teroris di Bekasi Pernah Jadi Saksi Parpol Saat Pilpres 2019
TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Denny Suwarton ketua RT 007/002, Kelurahan Aren Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi kediaman terduga teroris ASH (26). 

Baru Satu Bulan Mengontrak

Pasutri terduga teroris, AR dan S menurut keterangan warga sekitar, baru tinggal di rumah kontrakan itu satu bulan lalu. Mereka tinggal berdua dan belum sempat melapor ke RT setempat.

"Warga baru, belum kasi KTP ke saya, saya juga kurang kenal," kata Qurtubi ketua RT setempat.

Dikenal Tertutup

Lokasi kontrakan pasutri terduga teroris di Kampung Rawakalong Poncol, Desa Karangdatria, RT02/04, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi.
Lokasi kontrakan pasutri terduga teroris di Kampung Rawakalong Poncol, Desa Karangdatria, RT02/04, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. (TRIBUNJAKARTA.COM/Yusuf Bachtiar)

Karmen (36), warga yang mengontrak bersebelahan dengan pasutri terduga teroris mengatakan, selama tinggal bertetangga, dia tidak pernah berbincang atau mengetahui secara personal.

"Saya kurang kenal baru sebulan disini, tinggal berdua aja suami istri," kata Karmen kepada TribunJakarta.com.

Pasutri ini sangat tertutup, keseharian mereka lebih sering dilakukan di dalam kontrakan. Sejak pertama kali pindah, mereka juga tidak pernah mengenalkan diri kepada tetangga samping atau depan rumah kontrakan.

"Jarang keluar, paling suaminya aja kalau solat jumat ke masjid, sama ke warung aja, keluar aja ada saya juga enggak negor (menyapa) lewat aja," jelas dia.

Saking tertutupnya, aktivitas seperti menjemur pakaian juga dilakukan malam hari, bahkan mereka selama tinggal jarang sekali beraktivitas keluar rumah meski menurut infomasi warga, suaminya mengaku bekerja di sebuah perusahaan.

"Enggak pernah ngobrol tapi kalau kata orang-orang sini ngakunya kerja, tiap pagi cuma saya enggak pernah liat dia berangkat kerja," jelas dia.

Warga Curiga

Karmen (36), tetangga yang mengontrak berselahan dengan terduga teroris mengatakan, sebelum operasi penangkapan, dua hari lalu ia kerap melihat sejumlah orang yang tidak dikenal melintas di sekitaran kontrakan.

"Udah dari kemarin ada orang, dua hari ini udah ada orang mondar-mandir, mulai curiga, biasanya enggak pernah lewat sini, bawa motor, mukanya lihat ke sini mulu, dari hari sabtu-lah itu kira-kira," kata Karmen kepada TribunJakarta.com.

Selanjutnya, malam hari sebelum kejadian, orang yang sama juga masih terlihat melintas di sekitaran rumah kontrakannya. Saat itu, dia tidak menegur atau mencari infomasi lebih lanjut tentang keberadaan orang-orang tersebut.

"Badannya besar-besar pakai baju biasa, saya pikir bank keliling (rentenir)," ungkap Karmen.

Hal yang sama diungkapkan Nyai (54), warga yang tinggal di depan rumah kontrakan pasutri terduga teroris membenarkan perihal keberadaan orang-orang yang mengintai sebelum aksi penangkapan.

"Dari malem polisi sudah muter-muter bae, dari kemarin lah. Malem muter lagi, nanyain rumah pak RT," jelas dia.

VIDEO Massa Aksi Gejayan Diberi Buah dari Atap Rumah, Pemilik: Begitu Besar Perjuangan untuk Rakyat

VIDEO Massa Gejayan Memanggil dapat Ratusan Buah, Pemilik: Begitu Besar Perjuangan untuk Rakyat

Kumpulkan Donasi Aksi Mahasiswa di DPR, Ananda Badudu Sebut Jokowi Tersandera Kepentingan Politik

Warga Cipayung Jakarta Keluhkan Layanan Jemput Bola Akta Kelahiran dan KIA: Ngaret!

Penggrebekan berlangsung singkat

Nyai (54), warga sekitar lokasi mengaku sempat kaget ketika melihat puluhan personel dari Dunsus 88 Antiteror Mabes Polri diterjunkan dalam proses penangkapan tersebut.

"Polisi banyak pertama datang 4 mobil, terus langsung ke kontrakan ada kali 8 orang dobrak pintu," ungkap Nyai warga yang tinggal bersenelahan dengan kontrakan terduga teroris.

Polisi dari Densus 88 Mabes Polri itu langsung melakukan sterilisasi lokasi penangkapan, Nyai menyebutkan, jalan menuju ke arah kontrakan sempat ditutup. Warga dilarang memdekat ketika proses penangkapan sedang berlangsung.

"Ini setiap jalan dijaga polisi pada bawa senjata, ada yang pake seragam kaya Densus ada yang pakai baju biasa, kita disuruh masuk semua enggak boleh ada yang keluar," jelas dia.

Proses penangkapan ini berlangsung cukup singkat, sekitar pukul 07.30 WIB, kedua terduga teroris pasutri langsung dibawa ke ke dalam mobil bergantian.

"Pertama suaminya dibawa masuk ke mobil, baru abis itu istrinya, udah diborgol kalau suaminya cuma pakai kolor warna cokelat, kalau istrinya biasa udah rapih baru dibawa, enggak ads perlawanan sepi aja gitu," kata Nyai.

Buku-buku Turut Dibawa Densus 88

Selain membawa pasutri terduga teroris, Densus juga menggeledah isi rumah kontrakan. Bahkan, tangga miliknya sempat dipinjam untuk digunakan memetiksa loteng rumah kontrakan.

"Dibawa motor, kasur lantai dibawa, buku tebel-tebel banget dibawa pakai tiga kantong plastik sama kotak kardus," jelas dia.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved