Efek Rumah Kaca, Konduktor Kritis Penjaga Demokrasi

"Kemanusiaan itu. Seperti terang pagi. Rekahkan harapan. Menepis kabut kelam," ribuan suara mahasiswa di pelataran parkir Kampus UIN Jakarta, Ciputat.

Tribunjakarta.com/Jaisy Rahman Tohir
Efek Rumah Kaca di atas panggung pada acara Ciputat Memanggil, Mendesak Tapi Santuy di pelataran parkir Kampus UIN Jakarta, Ciputat, Rabu (17/10/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, CIPUTAT - "Kemanusiaan itu. Seperti terang pagi. Rekahkan harapan. Menepis kabut kelam," ribuan suara mahasiswa lepas ke udara dipimpin konduktor Efek Rumah Kaca di atas panggung pada acara Ciputat Memanggil, Mendesak Tapi Santuy di pelataran parkir Kampus UIN Jakarta, Ciputat, Rabu (17/10/2019).

Lagu berjudul "Rahim Ibu" begitu karib bagi ribuan mahasiswa yang hadir pada acara dengan jargon #reformasidikorupsi itu.

Efek Rumah Kaca menjadi bintang sekaligus penutup acara.

Efek Rumah Kaca di atas panggung pada acara Ciputat Memanggil, Mendesak Tapi Santuy di pelataran parkir Kampus UIN Jakarta, Ciputat, Rabu (17/10/2019).
Efek Rumah Kaca di atas panggung pada acara Ciputat Memanggil, Mendesak Tapi Santuy di pelataran parkir Kampus UIN Jakarta, Ciputat, Rabu (17/10/2019). (Tribunjakarta.com/Jaisy Rahman Tohir)

Semangat pergerakan yang masih tersisa setelah rangkaian aksi beberapa waktu lalu, kembali menyala disulut lirik-lirik kritis band yang terbentuk sejak 2001 itu.

"Di Udara" dan "Mosi Tidak Percaya" bergantian dinyanyikan Cholil Mahmud, sang vokalis.

Latar betotan bass dari Poppie Airil dan pukulan halus snare drum Akbar Bagus Sudibyo membentuk nada-nada magis yang menyihir ribuan mahasiswa turut bernyanyi bersama.

Di atas panggung, Cholil dengan gaya terpaku depan mikrofon berdiri, seperti tengah mengumandangkan sabda lewat nada tinggi nan merdunya.

Sementara Poppie begitu menikmati musik yang dibuatnya sendiri. Badannya bergerak maju mundur seperti tanpa kontrol, hanya mengikuti irama.

Pukulan snare Akbar laiknya genderang yang membangkitkan semangat ribuan mahasiswa kembali ke jalannya.

Jadilah malam yang sejuk itu, semacam orkestra besar yang membuat merinding bagi siapa saja yang menyaksikannya

Seperti diketahui, Efek Rumah Kaca memang memiliki misi tersendiri yang disuarakan lewat musiknya.

Dari mulai isu HAM, lingkungan, politik hingga sosial tak luput dari garapan musik Efek Rumah Kaca.

"Ngamen" di kampus bukan yang pertama dilakukan Efek Rumah Kaca. Mereka tidak lelah berkeliling ke kantong-kantong pergerakan dari mulai kampus sampai gedung KPK yang kerap dijadikan lokasi aksi membela lembaga antirasuah itu.

Cholil bercerita kepada TribunJakarta.com, apa sebenarnya motif dari band yang sudah menelurkan tiga album itu, untuk mau ikut dalam sekena pergerakan, utamanya mahasiswa.

Menurut Cholil Indoensia saat ini sudah memiliki sistem terbaik, yakni demokrasi.

Namun ancaman terus berdatangan, seperti pelemahan KPK dan pasal-pasal ngawur pada RKUHP. kehadiran Efek Rumah Kaca ada dalam upaya mempertahankan demokrasi.

"Merasa mendapatkan sistem demokrasi ini layak diperjuangkan gitu. Jadi kalau ada gejala-gejala yang membahayakan demokrasi, sangat digarapkan orang itu turun memperjuangkan, karena ini semangat demokrasi adalah dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, jadi sudah mesti rakyat ikut memantau, ikut turun, bukan hanya lima tahun sekali, karena demokrasi yang kita jalanin setiap hari," ujar Cholil.

Syahrul Gunawan Optimis Lolos Jadi Calon Bupati Bandung: Saya Tidak Ingin Sombong

Polda Metro Jaya Ringkus Anggota dan PNS BNN, Diduga Jual 2,5 Kg Sabu

Bagi Cholil, Indonesia belum seujung kuku menjalani demokrasi.

Budaya turun ke jalan masih dilakukan sampai sekarang di negeri yang bahkan sudah lebih lama memberlakukan demokrasi sekalipun.

"Kita pasti ingin tentu saja damai, supaya terus membesar karena di negara-negara demokrasi yang sdah lama, turun ke jalan upaya memperjuangkan demokrasi terus ada sampai sekarang gitu, apa lagi kita yang baru 20 tahun sudah menjelang enak-enak dan ini mau direnggut, kita mempertahankan saja sekuat mungkin," ujarnya.

Tentu mempertahankan tenaga dan semangat untuk terus bernyanyi menyuarakan kritik bukan hal yang mudah.

Namun bagi Efek Rumah Kaca, di situlah perannya. Selagi masih kuat mereka terus bersuara.

"Ya mumpung masih bisa lah, dari pada nanti nyesel, kita masih punya tenaga tapi kita enggak berusaha, paling enggak sudha mengusahakan yang sebisa mungkin. Cape ya sudahlah ya. Biasa, kerja juga cape," ujarnya.

Cholil dan kawan-kawan tidak tahu kapan harus berhenti. Hal itu karena target mereka bukan meraih, melainkan mempertahankan demokrasi.

"Sampai kita bisa mempertahankan demokrasi," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved