Kabinet Jokowi Maruf Amin

Prabowo Jadi Menteri Jokowi: Cara Bertahan Gerindra, Ambisi Pribadi, dan Peringatan PA 212

Gerindra sedang mempertahankan eksistensinya sebagai partai politik untuk periode 5 tahun ke depan. Selama dua periode ini, Gerindra menjadi oposisi

Tayang:
Penulis: Erik Sinaga 2 | Editor: Wahyu Aji
ISTIMEWA/Tangkap layar Kompas TV
Presiden Joko Widodo bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019). 

TRIBUNJAKARTA.COM- Dua kali menjadi rival, Prabowo Subianto dan Joko Widodo akhirnya bekerja sama.

Joko Widodo yang menjadi presiden kali kedua atau periode 2019-2024, memilih Prabowo Subianto menjadi menterinya, tepatnya menteri pertahanan. Prabowo segera diumumkan menjadi menteri di Kabinet Jokowi Jilid 2.

Simak selengkapnya:

1. Mengapa Prabowo mau?

Mengapa Prabowo mau menjadi menteri Jokowi?

Kepala Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia Aditya Perdana menilai, sikap Prabowo dan Gerindra merupakan hal yang wajar dan alamiah dalam politik.

“Pertimbangannya pasti matang, meskipun pasti akan dicibir oleh banyak orang, banyak kelompok, termasuk kelompok-kelompok Islam pendukungnya Beliau. Itu semuanya pasti kan akan berpandangan negatif ya,” kata Aditya, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (22/10/2019).

Selain itu, ia menilai, ada dua alasan di balik merapatnya Gerindra ke barisan kekuasaan. Apa saja?

Cara Gerindra bertahan

Pertama, menurut Aditya, dengan berada di lingkar kekuasaan, Gerindra sedang mempertahankan eksistensinya sebagai partai politik untuk periode 5 tahun ke depan.

Selama dua periode ini, Gerindra menjadi oposisi dan tak mencicipi kue kekuasaan.

“Jadi masuk akal kalau kemudian Gerindra punya keinginan atau ambisi yang sangat kuat, bukan agresif ya, untuk menjadi bagian pemerintahan. Secara alamiah memang itu fungsinya partai politik, dia harus menjadi bagian dari kekuasaan,” kata Aditya.

Tujuannya, menurut dia, untuk mendapatkan ruang mempertahankan eksistensi partainya.  Dengan demikian, nama Gerindra tidak akan tenggelam dan kehilangan dukungan pada pemilu selanjutnya.

“Karena kalau kita bicara survival-nya partai politik, maka untuk next election di 2024 mereka harus memperhitungkan resource, sumber daya,” ujar dia.

“Sumber daya itu bukan cuma soal uang ya, sumber daya itu bukan soal orang. Tapi ini juga soal popularitas, elektabilitas dari partai tersebut untuk dilirik,” tambah Aditya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved