Digugat Orangtua Murid yang Anaknya Tidak Naik Kelas, Pihak SMA Kolese Gonzaga Bungkam

Sekolah Menengah Atas (SMA) Kolese Gonzaga Jakarta Selatan masih bungkam terkait orangtua yang menutut pihak sekolah karena anaknya tak naik kelas.

Digugat Orangtua Murid yang Anaknya Tidak Naik Kelas, Pihak SMA Kolese Gonzaga Bungkam
TRIBUNJAKARTA.COM/ANNAS FURQON HAKIM
Tampak depan SMA Kolese Gonzaga, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim

TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR MINGGU - Pihak Sekolah Menengah Atas (SMA) Kolese Gonzaga Jakarta Selatan masih bungkam terkait gugatan perdata yang dilayangkan salah satu orangtua murid.

TribunJakarta.com coba mendatangi ruang guru SMA Kolese Gonzaga, Pejaten Barat, Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2019).

Namun, belum sampai ke ruang guru, seorang petugas sekuriti melarang untuk masuk.

"Saya coba tanya guru atau perwakilan sekolah ke dalam, bapak tunggu sini," kata sekuriti tersebut.

Sikap Alumni SMA Gonzaga Terkait Kasus Orangtua yang Tuntut Sekolah Karena Anaknya Tak Naik Kelas

Kembali dari ruang guru, sekuriti itu mengatakan bahwa tidak ada yang bersedia memberikan pernyataan.

"Guru-guru bilang itu bukan kewenangan mereka. Lebih baik langsung ke kepala sekolah atau pengacara," ujar dia.

"Tapi kepala sekolah, pengacara, sama Pak Dewa (guru sosiologi kelas XI) lagi keluar dari pagi. Nggak tahu ke mana," tambahnya.

Sikap Alumni SMA Gonzaga Terkait Kasus Orangtua yang Tuntut Sekolah Karena Anaknya Tak Naik Kelas

Yustina Supatmi, salah satu orangtua murid di SMA Kolese Gonzaga, mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Ia menggugat pihak sekolah karena anaknya berinisial BB yang duduk di kelas XI tidak naik kelas.

Pada perkara ini, Yustina menggugat Kepala SMA Kolese Gonzaga Paulus Andri Astanto, Wakil Kepala Sekolah (Wakepsek) Bidang Kurikulum Himawan Santanu, Wakepsek Bidang Kesiswaan Gerardus Hadian Panamokta, dan guru Sosiologi Kelas XI Agus Dewa Irianto.

Ia pun turut menggugat Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Provinsi DKI Jakarta.

Dalam gugatannya, Yustina menilai keputusan sekolah bahwa anaknya tidak berhak naik kelas adalah cacat hukum.

Ia juga meminta Hakim menghukum para tergugat dengan membayar ganti rugi materil Rp 51,683 juta dan imateril Rp 500 juta. (*)

Penulis: Annas Furqon Hakim
Editor: Suharno
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved