Deddy Mizwar Gabung, Fahri Hamzah Sebelumnya Sebut Partai Gelora Banyak Tawaran Berkoalisi

Belum juga didirikan, Fahri Hamzah mengaku sudah banyak ajakan atau tawaran dari pihak atau partai lain berkoalisi.

Deddy Mizwar Gabung, Fahri Hamzah Sebelumnya Sebut Partai Gelora Banyak Tawaran Berkoalisi
Tribunnews.com/Jeprima
Deddy Mizwar gabung ke Partai Gelora Baru 

TRIBUNJAKARTA.COM- Wakil Ketua DPR RI  berencana mendirikan partai baru, yakni Partai Gelora.

Belum juga didirikan, mantan politikus PKS itu mengaku sudah banyak ajakan atau tawaran dari pihak atau partai lain berkoalisi.

“Saya punya banyak teman, termasuk dari partai lain, dan sudah banyak yang mengajak (berkoalisi). Tapi setelah kami jadi partai bolehlah nanti kita tawarkan sebuah nota kesepahaman untuk jadi sebuah koalisi, konsorsium atau sejenisnya. Jangan belum jadi apa-apa sudah melebur ke tempat lain, itu yang kami hindari,” ungkap Fahri dalam sesi wawancara bersama Tribunnews.com di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (27/9/2019).

Keyakinan partai sebagai pasar ide dan kontestasi pikiran membuat Fahri yakin untuk mendirikan partai baru.

Ia pun menyinggung bila melihat kehadiran partai baru sebagai kompetisi pikiran yang sehat seharusnya tak ada pihak yang merasa kalah atau tersaingi.

Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua DPR Bambang Soesatyo dan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah saat bertemu pimpinan DPR di Istana Kepresidenan, Senin (23/9/2019).
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua DPR Bambang Soesatyo dan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah saat bertemu pimpinan DPR di Istana Kepresidenan, Senin (23/9/2019). (Biro Pers Setpres/Rusman)

“Karena partai adalah pasar ide maka kita berani untuk menawarkan kepada masyarakat sebagai juri ide-ide yang bertaburan ini. Kalau sebuah partai hadir untuk membuat kontestasi pikiran makin bervariasi kenapa tidak, seharusnya jangan ada yang merasa tersaingi, tersakiti atau takut kalah,” tegasnya.

Fahri pun menceritakan pihaknya sudah mencoba balik atau islah ke partai lamanya yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

“Saya sudah mencoba islah dengan PKS, tapi mereka tidak mau, bahkan mereka mencoba menjauh, katanya bilang menjaga perasaan ustaz ini, ustaz itu. Itu yang saya kritik pada PKS, yaitu mereka tidak menonjolkan ide tapi perasaan pimpinannya,” tegasnya.

“Feodalisme di PKS menurut saya agak lebih mengerikan daripada partai lainnya menurut saya. Harusnya semua didialogkan, jangan berusaha menyingkirkan dengan cara main belakang,” pungkas Fahri.

Oktober Dikonkretkan 

Halaman
1234
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved