Presiden Jokowi Singgung Rangkulan Surya Paloh dan Sohibul Iman, PSI: Sindiran, PDIP: Itu Guyonan

Presiden Jokowi singgung rangkulan Surya Paloh dan Sohibul Iman, PSI Anggap Sindiran, PDIP: Itu Hanya Guyonan.

Penulis: Suharno | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Youtube
Jokowi singgung Surya Paloh 

TRIBUNJAKARTA.COM - Presiden Joko Widodo ternyata menyoroti pertemuan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan Presiden PKS Sohibul Iman di Kantor DPP PKS, Rabu (30/10/2019).

Bahkan Presiden Jokowi juga membicarakan pertemuan itu saat menghadiri HUT ke-55 Partai Golkar di Hotel Sunan Jakarta, Rabu (6/11/2019) kemarin.

Dilansir dari Youtube Sekretariat Presiden, Jokowi dalam sambutannya tampak seperti menyindir pertemuan yang terjadi antara Surya Paloh dengan Sohibul Iman.

Ustaz Abdul Somad Singgung Radikal Tak Akui Pancasila, Sebut Nama Rizieq Shihab & Tengku Zulkarnain

Seperti biasanya, dalam pidato sambutannya, Jokowi menyapa satu persatu tokoh yang hadir pada acara HUT ke-55 Golkar.

Tak ketinggalan, Jokowi menyapa para pimpinan partai yang saat itu hadir.

Namun, Jokowi tampak memberikan perhatian kepada Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh yang saat itu juga hadir.

"Bapak Surya Paloh, yang kalau kita lihat malam hari ini beliau lebih cerah dari biasanya," sapa Jokowi yang kemudian disambut tepuk tangan para hadirin.

"Sehabis pertemuan beliau dengan Pak Sohibul Iman di PKS," lanjut Jokowi yang kemudian terdengar tawa dari para peserta.

"Wajahnya cerah, setelah beliau berdua berangkulan dengan Pak Sohibul Iman," sambungnya.

"Saya tidak tahu maknanya apa? Tetapi rangkulannya tidak seperti biasanya, gak pernah," imbuh Jokowi.

"Tidak pernah saya dirangkul Bang Surya seerat beliau merangkul Pak Sohibul Iman," ungkap mantan Wali Kota Solo itu.

Gagal Sidak ke Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya Karena Terkunci, Menpora Cium Aroma Sampah

Setelah itu, Jokowi mengaku menanyakan kepada Surya Paloh tentang pertemuannya dengan Presiden PKS tersebut.

"Tadi di holding (ruang tunggu), saya tanya ada apa? Tapi, nanti di lain waktu mau dijawab," ujar Jokowi menirukan Surya Paloh.

"Ya, saya boleh bertanya dong, karena beliau masih di koalisi pemerintah," tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh bertemu dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Rabu (30/10/2019).

Dikutipdari Kompas.com, Rabu (30/10/2019), pertemuan itu dilakukan secara tertutup.

Surya Paloh menemui Sohibul di kantor DPP PKS di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Dalam pertemuan itu, Surya Paloh tak sendiri, ia ditemani oleh petinggi Partai Nasdem lain.

Di antaranya ada Ketua DPP Nasdem Willy Aditya, Sekjen Partai Nasdem Johnny G Plate dan Sekretaris Fraksi Partai Nasdem Saan Mustafa.

Pertemuan itu berlangsung sejak pukul 16.00 WIB, dan selesai satu jam kemudian.

Seusai pertemuan, Surya Paloh dan Sohibul Iman menggelar konferensi pers (konpers).

Dalam konpers tersebut, Sekjen PKS Mustafa Kamal mengatakan, pihaknya menghormati keputusan Partai Nasdem yang berada dalam pemerintahan.

Sementara PKS tetap memilih menjadi oposisi dan tidak bergabung dengan pemerintahan.

Ia juga menekankan, perbedaan sikap politik tak menjadikan Partai Nasdem dan PKS mengurangi fungsi pengawasan di DPR.

Mustafa menyatakan pentingnya demokrasi yang sehat untuk mengatasi tantangan bangsa ke depan di bidang politik, ekonomi, keagamaan, pendidikan, kesehatan dan budaya.

"Perbedaan sikap politik kedua partai tidak menjadi penghalang untuk berjuang bersama menjaga demokrasi agar tetap sehat dengan memperkuat fungsi check and balance di DPR," ujar Mustafa.

Setelah pertemuan tersebut, Surya Paloh meninggalkan Kantor DPP PKS.

Sohibul Iman pun mengantar Surya Paloh hingga dekat bus yang digunakan oleh petinggi Partai Nasdem.

Pada kesempatan tersebut, Surya Paloh terlihat merangkul pundak Sohibul.

Guntur Romli Anggap Sindiran

Sindirian Presiden Jokowi terhadap Surya Paloh ini mengundang perhatian sejumlah pihak termasuk politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Mohamad Guntur Romli.

Dirinya menilai pernyataan yang disampaikan Jokowi itu merupakan sindiran keras terhadap Surya Paloh.

Hal tersebut disampaikannya lewat akun twitternya @GunRomli; pada Kamis (6/11/2019).

Dalam postingannya, Guntur Romli menyebut manuver politik yang yang dilakukan oleh Surya Paloh sangat dini dan terlalu jauh.

Mengingat kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 baru saja usai, tetapi Surya Paloh sudah membidik Pilpres 2024 mendatang.

"Banyak yg menganggap manuver Surya Paloh belakangan ini sbg upaya membangun 'Poros Baru 2024' , padahal 2019 baru selesai, NasDem dapat 3 menteri, Jokowi sdah melihat manuver ini kejauhan, yg potensial bisa ganggu koalisi khususnya dlm pemerintahan... Ini sindiran keras Jokowi," tulis Guntur Romli menyertai video sambutan Jokowi.

Bek Persib Bandung Fabiano Beltrame Resmi Jadi WNI, Kemenpora Perketat Aturan Naturalisasi

Memang diakuinya, periode 2019-2024 merupakan tahun terakhir kepemimpinan Jokowi berkuasa, akan tetapi Jokowi menurutnya memiliki keinginan untuk mewariskan pemerintahan yang bekerja nyata, bukan manuver politik yang dapat merusak koalisi.

"2019-2024 adalah periode terakhir Jokowi, dia ingin meninggalkan warisan pemerintahan yg nyata, tdk punya kepentingan 2024 (berbalik dgn manuver yg ditunjukkan Surya Paloh, manuver yg terlalu dini dan jauh. Ingat loh kata Jokowi 'saya tidak punya beban lagi'," tulisnya mengutip pernyataan Jokowi.

Teguran yang disampaikan Jokowi lewat sindiran atas kedekatan Surya Paloh dengan Sohibul Iman itu dianalogikan Guntur Romli layaknya seorang pelatih kepada para pemain sepak bola. Jokowi yang berperan sebagai pelatih tidak ingin para pemainnya tidak fokus bekerja dan justru bermanuver sendiri hingga terjebak permainan lawan politik.

"Ibarat pelatih bola, Jokowi sedang teriak pada pemainnya yg cuma asyik dgn permainannya sendiri bukan bermain secara tim, cuma goreng2 bola sendiri, berlarian kesana kemari, gak sadar posisinya, malah ikut permainan lawan," tulis Guntur Romli.

"Jokowi ingin koalisinya serius dan solid bekerja bukan malah pamer akrobat politik tidak jelas, permainan politik sudah selesai dgn 2019, saatnya serius bekerja, saatnya singsingkan lengan baju giat bekerja bukan malah rangkul2an tdk jelas," tutupnya.

PDIP Anggap Itu Hanya Guyonan

Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menilai, sindiran Presiden Jokowi kepada Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, merupakan sebuah guyonan atau candaan atau gojekan.

Apalagi, Presiden Jokowi menggunakan istilah wajah Surya Paloh terlihat lebih cerah setelah bertemu Presiden PKS Sohibul Iman.

"Saya maknai bukan sebagai sindiran, tapi itu gojekan khas ala Pak Jokowi," kata Hasto Kristiyanto seusai menghadiri HUT ke-55 Partai Golkar di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (6/11/2019) malam.

Menurut Hasto Kristiyanto, candaan yang dilontarkan Presiden Jokowi saat memberikan sambutan merupakan hal yang biasa. Hal itu dimaksudkan untuk memancing gelak tawa.

"Ya itu biasa, supaya suasananya akrab dan kita lihat semuanya tertawa."

"Pak JK (Jusuf Kalla) juga kelihatan happy, semuanya kelihatan happy. Ini ulang tahun enggak ada sindir-sindiran," ujar Hasto Kristiyanto.

Mantan Sekretaris TKN Joowi-Maruf Amin ini menilai, ucapan Presiden Jokowi bukan peringatan dari koalisi untuk Partai NasDem.

Ia menilai pertemuan NasDem dan PKS merupakan bentuk dialog politik.

"Tidak, kan Pak Surya Paloh menyatakan apa yang dilakukan adalah bagian dari dialog," ucap Hasto Kristiyanto. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved