Mantan Teroris Bongkar Ciri-ciri Mahasiswa yang Bisa Direkrut, Singgung Pemimpin ISIS Bahrum Naim

Mantan teroris yang dirahasiakan namanya itu menuturkan awal mula mahasiwa yang menjadi targetnya.

Penulis: Kurniawati Hasjanah | Editor: Siti Nawiroh
YouTube/Najwa Shihab
Mantan Teroris Beberkan Ciri-ciri Mahasiswa yang Bisa Direkrut, Singgung Sosok Pemimpin ISIS Bahrum Naim 

TRIBUNJAKARTA.COM - Mantan teroris perekrut mahasiwa menceritakan pengalamannya saat menjalani tugas untuk mencari target untuk diajak masuk ke kelompoknya.

Diungkapnya cara untuk merekrut mahasiswa ini seiring dengan diketahui bahwa pelaku bom di Polrestabes Medan berstatus mahasiswa berdasarkan KTPnya.

Mantan teroris perekrut mahasiswa itu menceritakannya saat menjadi narasumber di program acara Mata Najwa yang tayang pada Rabu malam (13/11/2019).

Dalam penjelasannya tersebut, mantan teroris perekrut mahasiwa ini rupanya juga menyinggung sosok pemimpin ISIS asal Indonesia, Bahrum Naim

TONTON JUGA:

Mantan teroris yang dirahasiakan namanya itu menuturkan awal mula mahasiwa yang menjadi targetnya.

"Kita lihat apakah orang itu rajin ibadahnya atau tidak, setelah itu kita tanya juga pemahaman dia tentang agama," tuturnya.

Mahfud MD Ogah Disebut Kecolongan Karena Bom di Medan, Achmad Baidowi Lantang: Ini Bukan Main-main!

Lebih lanjut, Ia menuturkan saat berbincang terkait agama dan tampak kertetarikan dari mahasiswa tersebut maka akan diajak untuk mengobrol soal jihad.

Dalam merekrut mahasiswa, biasanya dilakukan secara face to face seperti bertemu di sebuah masjid.

"Misalnya ketemu di masjid terus cocok mengobrolnya maka kita akan mengujungi indekos seraya minum kopi dan membahas soal jihad," paparnya.

Mantan Teroris Beberkan Ciri-ciri Mahasiswa yang Bisa Direkrut, Singgung Sosok Pemimpin ISIS Bahrum Naim
Mantan Teroris Beberkan Ciri-ciri Mahasiswa yang Bisa Direkrut, Singgung Sosok Pemimpin ISIS Bahrum Naim (YouTube/Najwa Shihab)

Mantan teroris mengaku, dalam merekrut mahasiswa saat ini juga masih ada melalui kampus.

Meski demikian, Ia enggan membocorkan lebih lanjut mengenai hal tersebut.

"Saya sudah bertekad meninggalkan itu jadi enggak mau ikut campur, tetapi jelasnya memang masih ada," tuturnya.

Ahok Dikabarkan Jadi Dirut PLN, Staf Khusus Menteri BUMN Beri Kesaksian

Mantan teroris itu menuturkan, kemudahan komunikasi dengan perkembangan teknolohi juga menjadi metode perekrutan mahasiwa untuk bergabung.

"Sekarang walaupun tak bertemu tatap muka, kita bisa lewat Telegram atau WhatsApp. Itu lebih efektif dibandingkan dahulu," ucapnya.

Menurut mantan teroris itu, dalam penggunaan Telegram atau WhatsApp memudahkan perekrut untuk memberikan materi dakwah seperti video.

Rumah kontrakan terduga teroris NAS di Kampung Rawa Kalong, Desa Karang Satria, RT002/04, Tambun Utara, Bekasi.
Rumah kontrakan terduga teroris NAS di Kampung Rawa Kalong, Desa Karang Satria, RT002/04, Tambun Utara, Bekasi. (TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR)

Tak cuma merekrut, rupanya mantan teroris itu pernah mendalangi serangkaian teror bom di Indonesia bersama sejumlah mahasiwa yang dicuci otaknya.

"Seperti Bahrum Naim (red: pemimpin ISIS asal Indonesia) yang di Suriah, saya tak dikenal. Tetapi direkrutnya setelah saya masuk, jadi bawaan dari saya," paparnya.

M Qodari Bandingkan Sistem Anggaran Ahok & Anies, Karni Ilyas Semprot: Jangan Salah-salah!

INI VIDEONYA:

Diduga Anggota JAD

Rabbial Muslim Nasution (24), pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Medan diduga kuat merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Ia diyakini satu jaringan dengan Syawaluddin Pakpahan, pelaku penyerangan Polda Sumut 2017 silam.

"Kemungkinan kelompok JAD Medan.

Sudah direncanakan untuk melakukan penyerangan dengan merekrut pengantin.
Artinya, Medan menjadi tempat JAD cukup berkembang.

Aceh, Padang dan Riau juga," kata Pengamat Teroris Al Chaidar kepada Tribun-Medan.com, Rabu (13/11/2019).

JAD di Indonesia diketahui berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS). Tujuan utamanya adalah melakukan penyerangan terhadap pemerintah, khususnya kepolisian.

"Latar belakangnya karena mereka menganggap polisi adalah alat thogut.

Thogut itu adalah lawan daripada Tuhan.

Musuh Tuhan inilah dianggap harus diserang.

Sebab, polisi tidak mau memberlakukan hukum syariat Islam," ucap Chaidar.

Setelah peledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan, lanjutnya, belum dapat dipastikan apakah serangan-serangan akan berhenti sampai di situ saja. 

Sebab, anggota-anggota JAD di Medan disinyalir sudah berkembang pesat.

"Gambaran ke depannya akan ada banyak serangan-serangan yang dilakukan karena mereka merekrut banyak sekali pengantin dari berbagai kalangan, terutama anak muda.

Kemungkinan serangan terjadi pada Desember, perayaan Natal dan Tahun Baru.

Mereka akan menyerang polisi pada saat-saat itu dan mungkin juga gereja-gereja," jelasnya.

Sedangkan pengamat teroris Sidney Jones dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) mengatakan  "bom bunuh diri" di Polrestabes Medan, pada Rabu (13/11) sekitar pukul 08.40 WIB, terjadi karena "polisi menjadi musuh nomor satu" kelompok teroris.

Menurut Sidney, penyerangan terhadap polisi dan aset-asetnya dapat dirunut hingga 2010 ketika ada kamp pelatihan terduga teroris yang dibongkar oleh polisi di Aceh sehingga menewaskan sejumlah terduga teroris.

"Sejak itulah polisi menjadi target nomor satu, walaupun kemudian sudah ada justifikasi ideologis juga, tapi umumnya motifnya balas dendam.

Polisi adalah instansi yang menangkap dan dilihat sebagai orang yang paling legitimate sebagai target oleh mereka," papar Sidney kepada wartawan BBC News Indonesia, Liza Yosephine.

"Dan yang ditargetkan bukan Densus, yang bertanggung jawab atas memberantas terorisme, tapi justru polisi yang biasa saja," sambungnya.

Sidney menambahkan, institusi kepolisian kerapkali menjadi sasaran target serangan, karena "lebih gampang dan polisi ada di mana-mana".

Serangan bom bunuh diri di Polrestabes Medan, Sumatra Utara, bukanlah serangan pertama terhadap kantor kepolisian di Indonesia.

Dalam dua tahun terakhir, setidaknya ada enam kasus serangan atas kantor kepolisian terkait terorisme.

Terakhir, tiga bulan lalu, seorang terduga teroris menyerang dua anggota polisi di Polsek Wonokromo, Surabaya, dengan menggunakan senjata tajam.

Namun Sidney mengatakan terlalu dini untuk menyebut ada korelasinya dengan JAD.

"Kita nggak tahu. Terlalu dini.

Kalau kemungkinan bahwa terkait JAD, ya ada.

Tapi Medan, apalagi sejak ISIS lahir tahun 2013, ada beberapa kasus di mana orang Medan melakukan kasus amaliyah tanpa terkait JAD," jelas Sidney. 


Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved