Korban KDRT Minta Visum

Tak Hanya Tindak Pidana, Pembuktian Tes DNA Anak juga Termasuk Visum

Meski awalnya difungsikan sebagai pembuktian tindak pidana secara ilmiah, visum terus berkembang seiring perkembangan dunia medis dan hukum.

Tak Hanya Tindak Pidana, Pembuktian Tes DNA Anak juga Termasuk Visum
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Kaopsnal Yandokpol RS Polri Kombes Edy Purnomo di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (1/7/2019). 

Dalam kasus ini visum ditangani dokter spesialis syaraf dan jiwa guna memastikan orang tua tersebut memang lupa memiliki seorang anak.

"Apakah seseorang benar-benar lupa atau berbohong bisa dipastikan lewat visum, oleh dokter spesialis syaraf dan jiwa. Kalau benar lupa berarti semua tindakannya batal di mata hukum," tuturnya.

Beda dengan visum saat korban didampingi polisi yang biayanya ditanggung negara, visum perdata didampingi pengacara berbayar.

Untuk tarif tes DNA di Sentra Visum dan Medikolegal RS Polri Kramat Jati, Edy mengatakan harga yang harus dibayar sekitar Rp 6 juta.

"Rp 6 juta itu harga tes DNA untuk satu orang ya. Dalam tes DNA anak minimal ada tiga orang harus diperiksa, ayah, ibu, dan anaknya sendiri. Nah harga untuk satu orang Rp 6 juta," lanjut Edy.

Perbedaan dokter spesialis yang menangani pemeriksaan membuat visum tak dapat disebut milik satu bidang kedokteran atau ilmu spesialis.

Setiap rumah sakit yang mampu melayani pembuatan visum mengerahkan seluruh dokter spesialis yang dipekerjakan mereka.

"Intinya visum berkaitan dengan hukum, baik perdata dan pidana. Makanya namanya Sentra Visum dan Medikolegal. Medikolegal artinya berkaitan dengan hukum," ujarnya.

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved