Breaking News:

Pemerintah Dinilai Perlu Benahi ‘Supply Chain Management’ Agar Produk Dalam Negeri Mampu Bersaing

Upaya meningkatkan daya saing terhadap produk-produk dalam negeri, pemerintah perlu memberikan perhatian Supply Chain Management

Tribunnews.com/Herudin
Kegiatan ekspor dan impor di Pelabuhan Tanjung Priok 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Upaya meningkatkan daya saing terhadap produk-produk dalam negeri, pemerintah perlu memberikan perhatian Supply Chain Management.

Hal ini karena meskipun ada permintaan yang kuat dari pasar ekspor seringkali produk-produk dalam negeri gagal memenuhi permintaan tersebut akibat Supply Chain Management yang tidak mampu dikelola dengan baik.

Demikian disampaikan oleh Dr. I Made Adnyana, SE, MM, Ketua Program Studi Manajemen S2 MM Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional, dalam Focuss Group Discussion (FGD) diselenggarakan oleh PKSP ( Pusat Kajian Sosial Politik dan Program Studi Hubungan Internasional, FSIP, Universitas Nasional, Jakarta, kemarin.

Adnyana mengingatkan, dalam Supply Chain Management (SCM), ada integrasi kepentingan antara perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi maupun mengirimkannya ke pemakai akhir.

“Pendekatan yang ditekankan dalam SCM adalah terintegrasi dengan semangat kolaborasi,” tegas Adnyana seraya menambahkan, perusahaan yang berada dalam supply chain intinya ingin memuaskan konsumen dengan bekerja sama membuat produk yang murah, mengirimkan tepat waktu dan dengan kualitas yang bagus.

Meskipun kelihatannya sederhana, menurut Ketua Program Studi Manajemen S2 MM Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional itu, dalam banyak hal kita gagal memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun pasar ekspor karena ketidakpastian rantai pasok yang disebabkan oleh bebagai hal, termasuk aspek permintaan (demand) maupun aspek pasokan (supply).

Ia menunjuk contoh biaya pengangkutan sapi dari Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Jakarta itu 40% lebih mahal daripada dari Australia.

Sedangkan biaya pengiriman daging sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) hampir 4 kali lipat dibandingkan dari Australia.

Demikian juga, lanjut Adnyana, biaya pengangkutan ikan dari Ambon ke Surabaya rata-rata Rp1.800 per kilogram.

Sementara dari China ke Surabaya rata-rata hanya Rp700 per kilogram.

Halaman
123
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved