Pemerintah Dinilai Perlu Benahi ‘Supply Chain Management’ Agar Produk Dalam Negeri Mampu Bersaing

Upaya meningkatkan daya saing terhadap produk-produk dalam negeri, pemerintah perlu memberikan perhatian Supply Chain Management

Editor: Muhammad Zulfikar
Tribunnews.com/Herudin
Kegiatan ekspor dan impor di Pelabuhan Tanjung Priok 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Upaya meningkatkan daya saing terhadap produk-produk dalam negeri, pemerintah perlu memberikan perhatian Supply Chain Management.

Hal ini karena meskipun ada permintaan yang kuat dari pasar ekspor seringkali produk-produk dalam negeri gagal memenuhi permintaan tersebut akibat Supply Chain Management yang tidak mampu dikelola dengan baik.

Demikian disampaikan oleh Dr. I Made Adnyana, SE, MM, Ketua Program Studi Manajemen S2 MM Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional, dalam Focuss Group Discussion (FGD) diselenggarakan oleh PKSP ( Pusat Kajian Sosial Politik dan Program Studi Hubungan Internasional, FSIP, Universitas Nasional, Jakarta, kemarin.

Adnyana mengingatkan, dalam Supply Chain Management (SCM), ada integrasi kepentingan antara perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi maupun mengirimkannya ke pemakai akhir.

“Pendekatan yang ditekankan dalam SCM adalah terintegrasi dengan semangat kolaborasi,” tegas Adnyana seraya menambahkan, perusahaan yang berada dalam supply chain intinya ingin memuaskan konsumen dengan bekerja sama membuat produk yang murah, mengirimkan tepat waktu dan dengan kualitas yang bagus.

Meskipun kelihatannya sederhana, menurut Ketua Program Studi Manajemen S2 MM Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional itu, dalam banyak hal kita gagal memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun pasar ekspor karena ketidakpastian rantai pasok yang disebabkan oleh bebagai hal, termasuk aspek permintaan (demand) maupun aspek pasokan (supply).

Ia menunjuk contoh biaya pengangkutan sapi dari Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Jakarta itu 40% lebih mahal daripada dari Australia.

Sedangkan biaya pengiriman daging sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) hampir 4 kali lipat dibandingkan dari Australia.

Demikian juga, lanjut Adnyana, biaya pengangkutan ikan dari Ambon ke Surabaya rata-rata Rp1.800 per kilogram.

Sementara dari China ke Surabaya rata-rata hanya Rp700 per kilogram.

I Made Adnyana juga mengaku mendengar adanya ketidakmampuan eksportir memenuhi permintaan pasar ekspor karena tingginya biaya pengiriman dan ketidakmampuan mempertahankan mutu produk akibat tdk mampu menjaga rantai pasok komoditas.

Faktor-faktor tersebut, jelas Adnyana, jelas diluar kemampuan produsen dalam negeri untuk menyelesaikannya.

Pemerintah perlu turun tangan untuk menyelesaikan faktor-faktor di luar produksi tetapi pada ujungnya berpengaruh terhadap harga dan kualitas produk dalam negeri itu.

Apabila rantai pasok komoditas tidak dibenahi, Adnyana mengingatkan, bisa terjadi ancaman ketersediaan dan daya saing komoditas lokal, sehingga akan mengganggu ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.

Menurut Adnyana, saat ini merupakan momentum tepat perencanaan penyelenggara pangan melalui perbaikan rantai pasok dengan mengacu kepada Undang-Undang Pangan.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved