Kisah Yuyun, Setiap Hari Jualan Tisu Hingga Dini Hari Demi Nafkahi Anaknya

Sudah coba bertahan hidup di Batam selama satu tahun, rupanya Yuyun mengatakan tak kuat dan ingin merantau.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Yuyun dan Mouriz saat sedang berjualan tisu di sekitaran Kalibata, Jakarta Selatan 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN - Suaminya meninggal akibat stroke, membuat Yuyun (50) banting tulang untuk menghidupi anak sematawayanganya, Mouriz (10).

Sejak menikah dengan Andi pada puluhan tahun lalu, Yuyun tinggal di Batam, Kepulauan Riau.

Saat itu, Andi bekerja serabutan dan menjadi kuli bangunan.

Kendati demikian, penghasilan Andi saat itu cukup untuk memenuhi biaya hidup Yuyun dan buah hati mereka, Mouriz.

Namun, pada tahun 2013, musibah datang menimpa Andi. Tepat di usia Mouriz menginjak usia 4 tahun, Andi menderita stroke dan sakit keras.

"Akibat sakit itu, suami saya akhirnya meninggal dunia," ucapnya sedih di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (29/11/2019).

Sepeninggalan suaminya, Yuyun menuturkan tak memiliki uang tabungan atau simpanan sama sekali.

Kondisi anak yang masih kecil dan butuh asupan gizi yang cukup, memaksanya harus bekerja.

Terlebih ia yang merupakan warga asli Lampung tinggal seorang diri di Batam.

"Sejak suami saya meninggal, saya harus banting tulang. Selama setahun pertama kepergian suami, saya masih bertahan di Batam. Apa saja saya kerjakan, mulai dari berjualan gorengan keliling juga saya kerjakan sambil bawa anak," sambungnya.

Sudah coba bertahan hidup di Batam selama satu tahun, rupanya Yuyun mengatakan tak kuat dan ingin merantau.

"Saya jualan gorengan di sana itu sepi. Akhirnya di tahun 2015 saya putuskan pindah. Saya akhirnya mengontrak rumah di Cikarang," ungkapnya.

Meskipun harus banting tulang, Yuyun tak memilih kembali ke Lampung, kota kelahirannya.

Ia sama sekali tak ingin mengharap belas kasih dari ke-4 saudaranya yang juga hidup pas-pasan.

Akhirnya, tanpa tahu suasana di Cikarang, modal uang sejumlah Rp 1 juta yang dibawanya ikut ludes tak sampai hitungan minggu.

"Prinsip saya enggak mau merepotkan saudara. Akhirnya ke Cikarang dan di situ istilahnya masih buta banget, belum tahu seluk beluk cari uang di sini. Habis lah uang yang saya bawa," katanya.

Ingatan hari itu masih membekas bagi Yuyun.

Dengan suara bergetar dan air mata yang mengalir, ia mulai menceritakan perlahan perkenalannya terhadap suasana mencari uang di kota besar.

Dijelaskannya, kala itu ia berjalan dan menggendong Mouriz sambil berlinang air mata menuju kontrakannya akibat kehabisan uang.

Setibanya dipertengahan jalan, tiba-tiba saja ia diberikan uang oleh seseorang sejumlah Rp 150 ribu.

"Saya ingat betul hari itu. Ada orang baik datang memberikan uang, kemudian uang itu saya gunakan untuk berjualan tisu keliling. Mulai dari situ usaha saya berjalan sampai sekarang," ungkapnya.

Akhirnya sejak tahun 2015 hingga saat ini Yuyun dan Mouriz masih berjualan keliling.

Ia pun menjadikan pekerjaan ini sebagai pekerjaan tetap, dengan penghasilan kotor yang hanya Rp 150 ribu.

Yuyun dan Mouriz saat sedang berjualan tisu di sekitaran Kalibata, Jakarta Selatan
Yuyun dan Mouriz saat sedang berjualan tisu di sekitaran Kalibata, Jakarta Selatan (TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina)

Jualan di Sekitaran Jakarta Selatan

Sejak memutuskan berjualan tisu, Yuyun tak pernah meninggalkan Mouriz.

Sejak usia 4 tahun, ia selalu membawa Mouriz. Hingga akhirnya Mouriz kini tercatat sebagai murid kelas 3 Sekolah Dasar Negeri (SDN) Karang Baru 03, Cikarang Utara, Bekasi, Jawa Barat.

Ya, sejak Mouriz bersekolah, Yuyun tak lagi berkeliling berjualan tisu di Cikarang.

Ia memilih berjualan di lokasi yang ramai. Hal ini bertujuan agar 80 tisu kecil yang dibawanya dapat habis dalam satu hari.

Akhirnya, ia pun memilih kawasan Jakarta Selatan tepatanya di sekitaran Kalibata dan Pasar Minggu.

"Semenjak anak sekolah otomatis kan pengeluarannya lebih juga. Karena KTP saya hilang akhirnya anak enggak dapat bantuan seperti KJP. Saya mau ngurus ke Lampung juga enggak ada biaya. Akhirnya saya pilih pindah lokasi jualan biar satu hari habis," ungkapnya.

Ketika mengajak Mouriz berjualan, Yuyun harus menunggu anak sematawayangnya itu pulang sekolah.

Sehingga ia selalu berjualan sore hari bila dihari Senin-Jumat.

"Dia kan masuknya siang, pulangnya sore. Ya sudah saya tungguin dia pulang, saya mandiin dulu baru berangkat ke sini (Jakarta Selatan) naik kereta," ungkapnya.

Melihat kondisi seperti ini, hati kecil Yuyun sebenarnya menangis. Apalagi ketika melihat Mouriz yang harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dan belajar di sela mereka berdagang.

Hal ini lantaran, Yuyun dan Mouriz baru berjualan sore hari dan kembali ke rumah di Cikarang esok harinya, sekitar pukul 01.30 WIB.

"Ini anaknya rajin. Dia bawa buku PR buku sekolahnya juga. Sambil temani saya, dia belajar, kerjakan PR sendiri. Ya Allah sedih juga saya sebenarnya. Tapi kalau ditinggal nanti dia sama siapa di rumah. Saya sebatang kara di sini tanpa saudara, akhirnya kan mau enggak mau dia saya bawa," katanya.

Menteri Agama Ingin Berangkatkan Korban First Travel, Jaksa Agung: Uangnya Dari Mana?

Michelle Ziudith Ungkap Kebiasaan Konsumsi Boba 4 Kali Sehari

Timnas U-23 Indonesia Diprediksi akan Tampil di Final SEA Games 2019

Setiap harinya, Yuyun dan Mouriz selalu berjualan di sekitaran Kalibata dan Pasar Minggu.

Untuk harga satu tisunya, ia jual seharga Rp 5 ribu dan Rp 10 ribu untuk 3 buah tisu.

"Modal saya sebenarnya Rp 150 ribu untuk satu dus tisu. Alhamdulillah semenjak di sini sehari pasti habis. Jadi paling keuntungan saya Rp 150 ribu. Tapi itu belum dikurangi ongkos pulang pergi," jelasnya.

Kendati demikian, ia pun mengharapkan agar anaknya bisa belajar bahwa hidup ini memang harus dijalani dengan ikhlas.

Selain mental yang kuat, Yuyun juga berharap anaknya bisa mandiri.

"Doa saya cuma satu, supaya anak saya jadi orang sukses dan mandiri. Jadi ketika melihat Ibunya seperti ini, dia enggak menyerah sama kehidupan dan enggak mengharap belas kasih," tandasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved