Breaking News:

Polemik Pembangunan Hotel di TIM

Seniman Kritik Revitalisasi TIM, Anies Baswedan: Berbeda Imajinasi, Kami yang Disalahkan

Padahal, Anies menyebut, Pemprov DKI berencana menjadikan kawasan itu sebagai pusat kesenian dan kebudayaan bertaraf internasional.

TRIBUNJAKARTA.COM/MUHAMMAD RIZKI HIDAYAT
Suasana lahan yang akan dijadikan hotel di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (25/11/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali angkat bicara soal kritikan sejumlah seniman atas revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM).

Dimana para seniman itu menentang pembangunan hotel bintang lima dan masuknya PT Jakarta Propertindo (Jakpro) sebagai pengelola kawasan pusat budaya dan kesenian itu.

"Soal pembangunan TIM ini kalau imajinasinya berbeda repot. Orang-orang membuat imajinasi, lalu kita yang disalahkan," ucapnya, Jumat (29/11/2019).

"Karena imajinasi soal TIM yang kita buat beda dengan imajinasinya, maka itu kita disalahkan," tambahnya.

Padahal, Anies menyebut, Pemprov DKI berencana menjadikan kawasan itu sebagai pusat kesenian dan kebudayaan bertaraf internasional.

"Artinya apa? Yang nantinya hadir di TIM itu adalah pelaku-pelaku kebudayaan dari seluruh dunia," ujarnya di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat.

Kesal Putrinya Diajak Kencan, Seorang Ayah di Cakung Nyaris Bacok Pacar Anaknya

Dengan pembangunan hotel dan wisma, para seniman dari berbagai belahan dunia tak perlu repot mencari menginapan bila datang berkunjung ke Jakarta.

"Pelaku seniman dunia itu datang ke Jakarta tidak tinggal di luar (komplek TIM), tapi bisa di dalam. Selama 24 jam dia di situ," kata Anies.

Seperti diketahui, pembangunan hotel bintang lima dalam proyek revitalisasi TIM mendapat penolakan dari sejumlah pihak, termasuk DPRD DKI Jakarta.

DPRD DKI pun memangkas usulan dana PMD dalam Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2020 untuk revitalisasi TIM yang awalnya sebesar Rp 600 miliar menjadi hanya Rp 200 miliar.

Pemotongan dana sebesar Rp 400 miliar ini pun menyebabkan PMD yang diterima oleh Jakpro untuk 2020 mendatang hanya sebesar Rp 2,7 triliun dari usulan awal Rp 3,1 triliun.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved