Ini Tanggapan Panitia Soal Petisi Tolak Izin Reuni 212
Sekretaris Panitia Reuni Mujahid 212, Slamet Maarif, angkat bicara ihwal petisi tolak izin reuni 212 melalui lama change.org.
Penulis: Muhammad Rizki Hidayat | Editor: Wahyu Aji
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat
TRIBUNJAKARTA.COM, SENEN - Sekretaris Panitia Reuni Mujahid 212, Slamet Maarif, angkat bicara ihwal petisi tolak izin reuni 212 melalui lama change.org.
Menurutnya, petisi tersebut dilakukan tanpa alasan.
"Saya pikir itu kerjaan tiap tahun yang tidak beralasan," ujar Slamet kepada Wartawan, di Jalan Kramat Raya nomor 45 Jakarta Pusat, Jumat (29/11/2019).
• Tak Ada Undangan Khusus untuk Prabowo, Panitia Reuni Mujahid 212: Beliau di Turki
Tak hanya petisi tersebut, kata Slamet, penolakan reuni mujahid 212 juga terdapat pada selebaran dan stiker.
"Tahun ini saya melihat ada sebuah selebaran meme dan stiker yang akan demo ke balai kota (Jakarta) menolak izin. kelihatan politisnya, izin keluar Anies (Gubernur DKI) lengser," kata dia.
Slamet mengaku heran lantaran adanya penolakan.
"Padahal ini kan politisnya apa sih, Pilpres (Pemilihan presiden) sudah selesai, kemudian kami tidak mengundang tokoh-tokoh partai," ujar dia.
"Kami ingatkan sekali lagi apa yang selama ini tersekat-sekat di reuni, nanti bisa kami satukan lagi," sambungnya.
Penelurusan TribunJakarta.com hari ini, terdapat petisi berjudul 'Tolak Izin Reuni dan Bubarkan PA 212.'
Petisi tersebut dimulai oleh akun bernama 7inta Putih yang disebarkan di lama ini sejak empat hari yang lalu.
Begini isi petisinya;
Peringatan Reuni Alumni 212 adalah suatu bentuk banalitas budaya. Sedari awal gerakan 212 adalah gerakan politik yang berjubah agama. Sungguh kebijakan yang sangat dangkal jika Anies Baswedan pada saat pasca Pemilu 2019 memberikan ijin Reuni Alumni 212 yang rawan disusupi sekaligus ditunggangi kepentingan elit politik.
Menguatnya politik identitas agama dan politisasi agama seolah tak pernah usai dikarenakan adanya pihak-pihak yang senantiasa terus menyemai dan mengobarkannya. Mereka tidak peduli anak bangsa bermusuhan, saling hujat bahkan berkelahi demi ambisi kekuasaannya.
Dimana nalar Gubernur Anies Baswedan yang katanya terdidik dan terpelajar namun tak memahami bacaan atas situasi lapangan saat ini. Atau mungkin dia sedang mencari dukungan dan mengambil hati kepada segerombol massa alumni 212 karena Anies Baswedan setahun ke belakang ini "no achievement, no progress"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/sekretaris-panitia-reuni-mujahid-212-slamet-maarif.jpg)