Cerita Rahmat, 29 Tahun Jualan Bale Bambu Keliling: Bermimpi Bisa Kuliahkan Anak

Rahmat (45), penjual bale bambu keliling selalu bermimpi dapat menguliahkan anak-anaknya.

Tayang:
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Wahyu Aji
Tribunjakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Rahmat, penjual bale bambu dari Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/12/2019) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, PONDOK MELATI - Rahmat (45), penjual bale bambu selalu bermimpi dapat menguliahkan anak-anaknya.

Membahagiakan anak tentunya hal yang didambakan tiap orang tua.

Memenuhi kebutuhan mereka dan memberikan pendidikan terbaik terus diupayakan tiap orang tua.

Rahmat, penjual bale bambu dari Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/12/2019)
Rahmat, penjual bale bambu dari Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/12/2019) (Tribunjakarta.com/Nur Indah Farrah Audina)

Tak perduli panas atau hujan, siang atau malam, sakit atau sehat, orang tua tetap melakukan segalanya untuk anak.

Tak jarang mereka rela tak makan untuk menghemat uang agar anak-anaknya bisa menikmati kehidupan yang layak.

Hal itu juga yang dilakukan oleh Rahmat, penjual kursi bambu atau bale.

Sejak usianya 16 tahun, Rahmat yang tinggal di Cibinong, Bogor, Jawa Barat sudah terbiasa membawa beban berat di pundaknya.

Rasa sakit dari beban bale yang ditopangnya, kini tak terasa lagi akibat sudah terbiasa.

Selepas salat subuh, ia selalu berangkat dari Cibinong ke sejumlah kota seperti Jakarta dan Bekasi, Jawa Barat.

Tak lupa tiap langkahnya selalu diiringi doa agar balenya segera laku terjual, meskipun ia tak punya tujuan hari ini harus berkeliling kemana.

Yang terpenting hanyalah satu buah bale besar yang dibawanya dapat terjual dan ia tak pulang dengan tangan kosong.

Sebab, bila tak laku maka istri dan ke-3 anaknya tak bisa makan dihari itu.

"Doanya cuma biar cepat laku. Karena di rumah ada yang nunggu hasil uangny kan. Buat makan dan buat keperluan ini itu," ucapnya dengan mata berkaca, Jumat (6/12/2019).

Tiap bale yang dijualnya, Rahmat mengaku bisa mendapatkan untung ratusan ribu.

Namun, keuntungan ini terbilang sebanding dengan jauhnya jarak yang ia tempuh dan tenaga yang ia keluarkan.

"Ya jadi kalau ada yang berhentiin saya buat beli dia nawar Rp 400 ribu saya lepas. Karena kan saya beli dari sananya (Cibinong) murah cuma Rp 200 ribu. Tapi kan harga segitu perhitungkan jarak sama biaya transport dan uang makan juga," sambungnya.

Setelah dikurang ongkos pulang pergi Rp 40 ribu dan biaya makan Rp 20 ribu, keuntungan bersihnya segera ia berikan ke istrinya.

Bila masih tersisa, ia pun berpesan kepada sang istri agar disisihkan untuk keperluan kuliah anak-anaknya di masa yang akan datang.

"Anak saya yang pertama SMA, kedua SMP yang terakhir SD. Saya kepengin mereka bisa kuliah. Makanya dikit-dikit dikumpulin," ungkapnya.

Kendati demikian, Rahmat menuturkan tak yakin apakah anaknya bisa kuliah atau tidak.

Pasalnya, uang yang selama ini dikumpulkan pasti digunakan untuk kebutuhan mendesak.

Bahkan ia sempat berucap jika kuliah bagi anak-anaknya adalah 'mimpi'.

"Namanya cuma kerja begini, anak banyak ya ada aja kebutuhannya. Jadi pakai uang tadi itu juga. Ya buat saya kuliahin anak cuma mimpi," ucapnya sedih.

Meskipun begitu, Rahmat tak ingin patah semangat.

Sekalipun mimpi, yang terpenting ia pernah memulai untuk mengumpulkan uang untuk pendidikan anak-anaknya.

"Setidaknya anak saya tahu kalau bapaknya sudah berusaha. Yang penting mereka bisa sekolah sampai SMA dulu kalau kuliah enggak bisa. Syukur-syukur ada yang dapat beasiswa," katanya.

Rumah Ngontrak

Rahmat, penjual bale bambu dari Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/12/2019)
Rahmat, penjual bale bambu dari Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/12/2019) (Tribunjakarta.com/Nur Indah Farrah Audina)

Usai mengungkapkan kuliah anak hanya mimpi baginya, Rahmat mengatakan hal ini lantaran kendala ekonomi.

Selain untuk keperluan mendesak, uang yang ia sisihkan juga sering terpakai untuk biaya kontrakan.

Saat ini, diketahui Rahmat masih mengontrak seharga Rp 500 ribu perbulan.

"Kenapa saya bilang mimpi? hal ini karena uang itu masih sering dipakai untuk biaya kontrakan juga," katanya.

Baginya tak apa jika uang tersebut harus terpakai, asalkan istri dan anak-anaknya memiliki tempat untuk berlindung.

"Tapi ya sudah enggak apa-apa. Ini kan buat kita juga. Mungkin memang rezekinya baru sampai di situ aja," katanya.

Tetap Bertahan Jadi Penjual Bale

Bila mengingat anak sulungnya sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas (SMA), Rahmat selalu ingin menguliahkannya.

Hanya saja keadaan ekonomi menjadi alasan utama dan anaknya cukup pengertian akan hal itu.

Ketika disinggung untuk mencari pekerjaan lain, Rahmat menjawab hanya akan menjual bale.

Hal tersebut dikarenakan jualan bale tak memerlukan modal.

Dengan sistem setor dari bosnya, Rahmat bisa berjualan setiap hari.

"Bukannya enggak mau cari penghasilan lagi. Semua orang tua pasti mau kasih yang terbaik buat anak apalagi perkara pendidikan. Tapi kan sejauh ini, yang saya rasain sistem kerjanya setor ya ini aja. Mungkin yang lain ada tapi kan ambil barangnya enggak di daerah Cibinong," jelasnya.

Kendati demikian, Rahmat tetap mengucapkan bismillah tiap kali bekerja dan terus berusaha.

"Yang penting usaha aja. Siapa tahu ke depannya saya punya rezeki buat kuliahin anak kan. Sejauh ini bismillah aja dan jangan sampai libur kerja kalau badan masih sehat," ujarnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved