Sisi Lain Metropolitan
Mengenal Sosok Michael Khafidz, Pendiri Perpustakaan dan Rumah Belajar Forum Aksara
Michael Khafidz (34) merupakan sarjana Ilmu Tafsir Al-Quran Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir
Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar
TRIBUNJAKARTA.COM, RAWALUMBU - Michael Khafidz (34) merupakan sarjana Ilmu Tafsir Al-Quran Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir.
Pria kelahiran Kelurahan Bojong Menteng, Rawalumbu, Kota Bekasi aktif sebagai pendiri Perpustakaan dan Rumah Belajar Forum Aksara.
Ayah dua orang anak ini nampak bersemangat ketika menceritakan awal mula mendirikan Perpustakaan dan Rumah Belajar Forum Aksara Bojong Menteng.
"Ini kita sambil cerita aja ya, mengalir saya emang gini kata kalau ngomong agak berapi-api," kata Michael saat dijumpai di Forum Aksara, Senin, (30/12/2019).
Sebagai putra asli kelahiran Bojong Menteng, Michael, memulai ini semua dengan tujuan merubah citra warga kampung yang tadinya dikenal jauh dari kata berpendidikan menjadi lebih berpendidikan.
Forum Aksara sendiri merupakan sebuah tempat yang memiliki koleksi ribuan buku-buku bacaan untuk anak dan masyarakat umum.
Warga kampung Bojong Menteng bebas membaca buku di tempat tersebut, ditambah setiap pekannya digelar kegiatan belajar bersama untuk anak-anak usia sekolah.
"Saya lama si pasantren, lulus pesantren saya sekolah di Timur Tengah (Mesir), abis pulang saya lihat kondisi kampung saya kok begini bangat ya," ujarnya sambil menyeruput secangkir kopi.
Bukan tanpa alasan, warga kampungnya ketika itu bisa dibilang tidak peka dengan budaya pendidikan.
Anak muda di sana kata dia, banyak yang hanya lulusan SMP atau SD lalu bekerja serabutan atau bekerja di tempat lain.
Pergaulan warga sekitar juga indentik dengan sunda gurai, jarang ditemukan aktivitas warga terutama anak-anak muda yang menghasilkan nilai positif.
"Kalau bisa dibilang di sini Tanjung Priok-nya Bekasi, tiap malem anak muda kerjaan mabok main gaple, yang ibadah ada yang ibadah cuma enggak bisa ngajak ini anak-anak muda ke masjid," jelas dia.
Berangkat dari keresahan itu, Michael sejak periode 2013 hingga 2014 berusaha membaur dengan anak-anak muda Bojong Menteng.
Dia yang memiliki latar belakangan pendidikan Tafsir Quran tak sungkan ikut bergaul dengan warga anak muda yang hobinya main gaple dan mabok-mabokan.
"Saya dakwa pertama bukan ke masjid, tapi main kartu, main gaple, main ceki, main capsa, maim biliar," ujarnya.
Dari ikut bergaul itu, Michael secara perlahan mulai dekat dengan anak-anak muda warga Bojong Menteng.
Ia kemudian berusaha menggerakkan anak-anak muda tersebut melakukan kegiatan-kegiatan positif. Melalui diskusi dan pendekatan, akhirnya ia mampu menggerakkan kegiatan pawai obor menyambut tahun baru islam pada saat itu.
"Kita bikin acara pawai obor yang ikut ribuan warga, semua gabung se kampung Bojong Menteng," imbuhnya.
Tidak sampai di situ, Michael tahu anak-anak muda butuh suatu pemantik lain yang dapat menarik perhatian mereka untuk ikut begerak.
Sambil diselingi kumpul-kumpul pengajian rutin di rumahnya, Michael lalu membentuk tim kecil untuk membuat acara konser musik.
"Saya pengen warga Bojong Menteng rempug lagi, kumpul semua, akhirnya saya bikin konser musik yang disponsorin majelis taklim," ungkapnya sambil tertawa.
Alasan membuat konser musik itu sederhana, ia ingin menarik simpati anak-anak muda agar berkumpul dan menyatu.
"Kalau enggak pakai cara itu (konser musik) pakai cara apa lagi," jelas dia.
Dari kesuksesannya mengumpulkan anak-anak muda itu, ia lantas mulai menyelipkan nilai-nilai dakwa. Nilai-nilai yang menggerakkan anak-anak muda melakukan kegiatan-kegiatan positif.
Sebagai 'Ustad Kampung', Michael dikenal anak-anak muda sana sebagai guru. Sapaan itu yang kemudian menjadi panggilan kehormatan warga untuknya.
Puncaknya ketika di tahun 2014, anak-anak muda di bawah bimbingannya berencana membuat sebuah kegiatan bakti sosial bagi-bagi buku ke warga.
Buku ini rencananya didapat dari sumbangan untuk selanjutnya akan dibagikan ke anak-anak usia sekolah dan warga kampung Bojong Menteng.
"Kata saya oke saya bantu tapi saya punya satu syarat, buku yang sudah terkumpul jangan sampai jadi bungkus tempe, orang kampung mau dipake apa, ini harus terbaca," ungkap Michael.
Ia lalu memutar otak dan tercetuslah rencana membuat perpustakaan untuk warga. Bertempat di bantaran Kali Bekasi, tempat yang semula hanya sekedar lokasi nongkrong anak-anak muda pecinta alam disulap menjadi perpustakaan mini.
"Tempat ini dulu cuma tempat nongkrong aja anak-anak pecinta alam, saya datang kebetulan anak-anak mudanya ngaji juga sama saya," jelas dia.
• Ibra Azhari Bantah Medina Zein Konsumsi Narkoba
• Polisi Geledah Ruangan PNS Polrestro Jakarta Selatan yang Tabrak Pesepeda di Sudirman
Bermodalkan dana seadanya hasil sumbangan kegiatan bakti sosial pengumpulan buku, dibuatlah rak-rak lemari buku dan beberapa fasilitas seperti papan tulis.
"Pas sudah kebentun perpustakaan mini ini lalu anak-anak kasi nama Forum Aksara," imbuhnya.
Sejak saat itu, Perpustakaan dan Rumah Belajar Forum Aksara aktif melakukan berbagai kegiatan.
Kegiatan utama yang digelar adalah tentu layanan perpustakaan gratis untuk warga. Ada 1000 judul lebih buku yang tersedia di Forum Aksara.
Kegiatan rutin lain yang hingga kini dilakukan ialah rumah belajar. Sistem belajar ini adalah relawan Forum Aksara mengajak anak-anak usia sekolah belajar bersama.
"Belajar bersama itu setiap sabtu-minggu, intinya seperti ngerjain PR bareng, anak-anak yang masih SMA ngajarin yang SD, kemudian ada juga relawan dari mahasiswa juga," jelas dia.
Michael menjelaskan, hingga kini Forum Aksara memiliki sekitar 30 relawan aktif dan sekitar 60an anak-anak didik yang setiap akhir pekan menggelar kegiatan belajar bersama.
"Sistemnya seperti kaderisasi, jadi ketika dia sudah SMA dia akan bantu adik-adiknya yang SD belajar bareng terus seperti itu," paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/michael-khafidz-pendiri-perpustakaan-dan-rumah-belajar-forum-aksara.jpg)