Sisi Lain Metropolitan
Kisah Tya Bocah Yatim Penjual Bakpao, Mimpi Bisa Sekolah dan Kenal Baca di Pengajian
Pantang bagi Tya (12) meminta jajan ke ibunya karena hanya sebagai kuli pungut di Pasar Induk Kramat Jati. Keinginan terbesarnya adalah bersekolah.
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Y Gustaman
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina
TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Jangankan diminta mengenang kasih sayang, mengingat wajah dan nama sang ayah Tya Wati (12) tak bisa.
Entah sudah berapa kali Tya bertanya kepada sang ibu, kemana gerangan ayah kandungnya.
"Bapak kamu sudah meninggal. Pas mau jenguk nenek kamu yang sakit di Jawa, dia enggak lihat jalan. Habis itu tertabrak kereta," hanya itu penjelasan Jas yang Tya tahu.
Tya sudah yatim ketika usianya sekitar enam tahun.
Setelah ayah meninggal, Tya dan adiknya, Galih diasuh oleh ibunya, Jas (33).
Jas saat itu mengandung adik bungsu Tya, Deni Andria yang kini berusia 6 tahun.
Hidup serba pas-pasan, Jas harus banting tulang sebagai kuli pungut di Pasar Induk Kramat Jati.
Upah yang didapat pun tak mencukupi untuk membiayai hidup ketiga anaknya.
Ia tahu diri keluarganya bukan orang berada, ekonomi kekurangan, sehingga ibu tak sekali harus mengutang.
Pernah Tya diajak Jas untuk meminjam uang ke saudara dan teman-teman sesama kuli pungut di Pasar Induk Kramat Jati.
"Bagi gue duit dong, bakal anak gue makan," begitulah ucapan sang ibu yang Tya dengar.
Tya sampai hapal di luar kepala jawaban saudaranya, menimpali permintaan Jas, "Kalau ke sini pinjam uang mulu buat makan."
"Dari situ saya kepengin punya uang sendiri sebelum sekolah," kata Tya.
Bersekolah seperti anak-anak sebayanya bagi Tya hanya angan-angan belaka, tersebab sang ibu tak memiliki Kartu Keluarga.