Konflik Natuna, Eks Anggota Tim Mawar Nilai China Sedang Rendahkan Indonesia dan Alihkan Perhatian
Konflik di perairan Natuna, Kepulauan Riau wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) belum membuat China mengerahkan satu pun kapal perang mereka.
Penulis: Bima Putra | Editor: Suharno
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra
TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR REBO - Konflik di perairan Natuna, Kepulauan Riau wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) belum membuat China mengerahkan satu pun kapal perang mereka.
Beda dengan Indonesia yang sudah mengerahkan sejumlah kapal perang dan pesawat tempur untuk memantau aktivitas kapal nelayan China.
Pengamat intelejen sekaligus eks anggota Kopassus, Fauka Noor Farid mengatakan langkah tersebut menunujukkan China hendak pamer kekuatan.
"Dia ingin memamerkan kekuatannya. Kan baru-baru ini China berhasil membuat kapal induk yang terbaru (Kapal Perang Shandong)," kata Fauka di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (14/1/2020).
Mengingat masih banyaknya kapal nelayan China setelah Presiden Joko Widodo meninjau perairan Natuna beberapa waktu lalu.
Pasalnya kapal-kapal nelayan China hanya didampingi coast guard, bukan kapal perang sebagaimana yang dilakukan pemerintah Indonesia.
"Bisa saja ini test case (uji coba), tapi tes case-nya China justru merendahkan kita. Kenapa? Karena yang dikirim hanya kapal nelayan dan coast guard," ujarnya.
Meski menilai negara dengan kekuatan militer ke-3 di dunia itu menyombongkan diri, Fauka menyebut pemerintah perlu menambah kekuatan militer.
Dia menilai China diduga sengaja membuat kekuatan militer Indonesia terfokus sepenuhnya di Natuna dan melemahkan wilayah lain.
"Misalnya dari KRI apa yang mengawasi wilayah selatan, semua ditarik fokus ke Natuna. Berarti kan ada wilayah-wilayah yang terlepas dari pengawasan angkatan laut kita," tuturnya.
Kosongnya pengawasan di wilayah perbatasan lain membuat potensi penyeludupan narkoba, perdagangan manusia, dan lainnya.
Dibanding kapal perang dan pesawat tempur, eks anggota Tim Mawar Kopassus ini menyarankan pengerahan kapal nelayan ke Natuna.
"Kita kan punya kapal nelayan besar, perintahkan saja semua. Seratus kapal besar berangkat ke Natuna, mendampingi kapal ikan. Cukup itu saja," lanjut Fauka.
Sebagai informasi, China baru saja mengklaim memiliki hak di ZEE atas dasar Nine-Dash Line yang dibuat berdasar peninggalan nenek moyang mereka.
Jalur ini membentang sejauh 2.000 km dari daratan China hingga beberapa ratus kilometer dari Filipina, Malaysia, dan Vietnam.
Melalui klaim Nine-Dash Line China mengklaim perairan Natuna sebagai bagian dari wilayahnya, baik di darat maupun perairan.