Masuk 10 Besar Kota Termacet di Dunia Versi TomTom, Ini Komentar Pemprov DKI
Meski secara peringkat, posisi Jakarta turun dibandingkan 2018, nyatanya tingkat kemacetan dalam indeks indeks tersebut tak mengalami perubahan.
Penulis: Dionisius Arya Bima Suci | Editor: Erik Sinaga
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci
TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Data Indeks Lalu Lintas TomTom (TomTom Traffic Index) yang baru saja dikeluarkan oleh perusahaan teknologi penyedia informasi kemacetan kota-kota di dunia menunjukan, tingkat kemacetan di Jakarta tidak mengalami perubahan sejak 2018 lalu.
Meski secara peringkat, posisi Jakarta turun dibandingkan 2018, nyatanya tingkat kemacetan dalam indeks indeks tersebut tak mengalami perubahan.
Dalam rilis terbarunya, Indonesia menempati posisi 10 atau turun tiga peringkat dibanding 2018 dengan tingkat kemacetan mencapai 53 persen.
Ini berarti sejumlah kebijakan yang dikeluarkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan selama 2019 lalu tak cukup ampuh mengatasi kemacetan di ibu kota.
Adapun pada 2019 lalu, setidaknya ada tiga kebijakan yang menjadi fokus utama mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu untuk mengatasi kepadatan lalu lintas di Jakarta.
Pertama, integrasi moda transportasi melalui program JakLingko yang diklaim mampu meningkatkan jumlah pengguna angkutan umum di Jakarta.
Kemudian, revitalisasi trotoar yang disebut Anies mampu merangsang masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan transportasi umum.
Orang nomor satu di Jakarta itu pun menyebut, Pemprov DKI menjadikan pejalan kaki sebagai prioritas utama pembangunan transportasi di ibu kota.
Terakhir ialah perluasan ganjil genap di 16 ruas jalan yang melengkapi kebijakan serupa yang sebelumnya diterapkan di 9 ruas jalan ibu kota.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengaku belum mempelajari rilis yang dikeluarkan oleh TomTom tersebut.
Meski demikian, ia mengklaim kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Gubernur Anies selama 2019 lalu, khususnya ganjil genap efektif mengurangi kemacetan di ibu kota.
"Prinsipnya, hasil pengukuran kami setelah ada perluasan ganjil genap itu terjadi peningkatan kinerja lalu lintas di 25 ruas jalan yang diterapkan peraturan itu," ucapnya, Kamis (30/1/2020).
Syafrin mengklaim, terjadi peningkatan rata-rata kecepatan kendaraan dari 25 km/jam menjadi 33 km/jam.
"Kemudian terjadi pengurangan volume lalu lintas sebanyak 30 persen," ujarnya saat ditemui di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/kepala-dinas-perhubungan-dki-jakarta-syafrin-liputo-saat-ditemui-di-balai-kota.jpg)