Formula E

Ikatan Arsitek: Jaga Kesakralan Monas, Jangan Paksakan untuk Formula E

Ketua Umum AIA, Ahmad Djuhara menilai, Monas bukan cuma Cagar Budaya, melainkan sebuah lokasi sakral yang penih nilai sejarah.

Tayang:
Penulis: Wahyu Aji Tribun Jakarta | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
TribunJakarta.com/Dionisius Arya Bima Suci
Rancangan rute lintasan balap Formula E di kawasan Monas, Gambir, Jakarta Pusat. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Ikatan Arsitek Indonesia (AIA) menilai, rencana Pemprov DKI Jakarta menggelar balapan internasional Formula E di Monas.

Ketua Umum AIA, Ahmad Djuhara menilai, Monas bukan cuma Cagar Budaya, melainkan sebuah lokasi sakral yang penih nilai sejarah.

Dirinya menilai, Pemprov DKI tidak bisa sembarangan mengubah kawasan Monas menjadi lintasan balapan Formula E.

Menurutnya, harus ada studi kelayakan sebelum dilakukan perombakan.

"Studi kelayakan sebuah studi atau penelitan yang dilakukan ahli melibatkan ahli cagar budaya antropolgi sejarawan. Kami menyayangkan sebetulnya kata kuncinya itu sebearnya sakral," kata  Djuhara saat dikonfirmasi Tribun, Jumat (21/2/2020).

Dia menjelaskan, studi kelayakan harus melibatkan banyak pihak.

Termasuk sejarawan, arkeolog hingga antropologi untuk menentukan boleh tidaknya tempat itu diubah.

Dia, menjelaskan ini akan sulit dilakukan, ditambah sirkuit Formula E butuh pit stop, tribun penonton dan lainnya.

Djuhara juga menegaskan, Monas lokasi yang sakral.

Hal itu penting diingat dan harus dihormati betul.

"Masa berani orang bilang itu enggak sakral? Jadi harus ada rasa hormat," tambah Djuhara.

Djuhara menjelaskan, hal ini bukan cuma perkara cagar budaya, melainkan kesakralan Monas itu sendiri.

"Kami arsitek menganggap, Monas itu seperti manifestasi bangsa," jelasnya lagi.

Menurutnya, Formula E tidak perlu dipaksakan untuk melintas di dalam Monas.

Bisa saja dilakukan di kawasan jalan medan merdeka.

"Saya kasih contoh menara Eiffel, itu identitas Prancis, tapi dia tidak sakral. Monas ini sakral, sama seperti Borobudur, Prambanan, bukan cuma Cagar Budaya, tapi juga sakral. Kenapa mesti maksain di Monas, tempat lain kan banyak," katanya.

Lintasan balap mobil listrik Formula E Jakarta atau Jakarta E-prix yang digelar bulan Juni nanti, bakal memakan sebagain area Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.

Imbasnya, sebagian area Monas tersebut mesti diratakan sesuai standar lintasan balap Formula E.

Itu berarti, kawasan lapangan Monas yang didominasi batu-batu mesti dibongkar, diganti dengan aspal mulus.

Untung rugi gelaran Formula E

Keuntungan

1. Mendukung program Presiden

Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Dwi Wahyu Daryoto selaku Chairman of Organizing Commitee Formula E 2020 Jakarta menilai gelaran Formula E sejalan dengan program kerja Presiden Joko Widodo.

Program kerja yang dia maksud yakni percepatan program kendaraan bermotor listrik yang diteken Jokowi melalui Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019.

Selain itu, lanjut Dwi, gelaran balap mobil listrik ini juga bisa dijadikan momentum untuk menciptakan citra Indonesia sebagai negara yang mulai bermigrasi ke kendaraan teknologi listrik.

Formula E 2020 dinilai bisa meningkatkan sinegritas antar stakeholder terkait untuk peralihan menuju kendaraan teknologi listrik.

2. Ajang promosi pariwisata Indonesia

Selain mendukung program Presiden, gelaran balap mobil listrik yang dilengkapi 4.000 toilet bertaraf internasional itu dinilai bisa mendongkrak pariwisata Indonesia.

Dwi mengungkapkan, sebanyak 4.000 toilet berstandar internasional disediakan sebagai ajang promosi pariwisata Indonesia, bukan semata event olahraga.

Jumlah toilet itu diklaim bisa menggambarkan jumlah turis atau penonton yang akan mendatangi Formula E 2020 Jakarta.

"Kalau memang tadi ada 4.000 toilet, kalau yang antre (setiap toilet) saja 10 orang, itu sudah 40.000 orang," kata Dwi.

Promosi pariwisata Indonesia juga bisa dilihat dari sisi perkawinan antara cagar budaya kawasan Monas dan migrasi menuju teknologi kendaraan listrik.

Sehingga, Formula E 2020 bisa menampilkan sisi harmoni antara tradisi, kebudayaan, dan teknologi.

Sependapat dengan Dwi, wartawan senior otomotif, Arief Kurniawan menganggap gelaran balap mobil listrik Formula E 2020 Jakarta berpotensi menciptakan citra baik bagi Indonesia dan Jakarta.

Pemerintah dan pihak penyelenggara Formula E 2020 bisa memperkenalkan kawasan Monas di kancah Internasional sebagai cagar budaya sekaligus citra 'ramah lingkungan' untuk dijadikan lokasi balap mobil listrik.

Sehingga, pemerintah bisa mendapatkan sejumlah keuntungan sekaligus yakni citra positif untuk pariwisata dan keuntungan secara finansial.

3. Tingkatkan pendapatan negara

Dwi memperkirakan peningkatan gross domestic product (GDP) Indonesia dalam penyelenggaraan Formula E 2020.

Dwi mengatakan, berdasarkan perhitungan Bank Indonesia, GDP Indonesia bisa meningkat sebesar 0,02 persen dalam balapan yang hanya berlangsung sehari tersebut.

Jumlah itu lebih besar dibandingkan pendapatan GDP Indonesia saat penyelenggaraan Asian Games 2018 lalu, yakni 0,08 persen selama 2 minggu.

"Dari tim BI itu menghitung dampak persentase increase terhadap GDP satu hari tanggal 6 (Juni) itu 0,02 persen," kata Dwi.

Sehingga, Dwi yakin Formula E 2020 bisa menghasilkan pendapatan riil bagi negara sebesar Rp 500-600 miliar.

Kerugian gelaran balap mobil listrik

Tak hanya dukungan, gelaran balap mobil listrik ini juga menuai kritik dari anggota DPRD DKI Jakarta.

1. Habiskan anggaran

Fraksi PDI-Perjuangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta juga mengkritik besarnya anggaran yang dikeluarkan Pemprov DKI untuk penyelenggaraan ajang balap Formula E itu.

Anggota fraksi PDI-P Gilbert Simanjuntak mengatakan ajang balap mobil listrik yang digelar di Hongkong memakan biaya sekitar 250 hingga 300 juta dollar Hong Kong (HKD), atau setara dengan Rp. 529 miliar (asumsi 1 HKD = Rp 1.763).

Sementara, Pemprov DKI Jkaarta mengeluarkan dana berlipat ganda untuk menyelenggarakan ajang balap mobil listrik itu.

"Apa yang membedakan biaya penyelenggaraan di Jakarta dua kali lipat biaya di Hong Kong, sementara bahan untuk membangun ada di Indonesia (batu, semen, pasir)," ujar Gilbert dalam pesannya, Selasa (11/2/2020).

2. Bikin banjir

Selain itu, Gilbert mengatakan kawasan Monas bahkan Istana Negara terancam banjir imbas pengaspalan lintasan Formula E di lokasi itu.

Menurut dia, pengaspalan yang dilakukan jelas menutup susunan batu alam di pelataran Monas.

Sehingga membuat aliran air tersendat dan akan mengancam area tersebut hingga Istana Negara yang berada di seberangnya.

"Menutupi cobblestone dengan hotmix akan membuat banjir semakin berat di kawasan Monas dan Istana," ucap Gilbert dalam pesannya, Jumat (15/2/2020).

Untuk mengakali ancaman banjir, Pemprov DKI Jakarta harus membangun saluran air di sekitar lintasan.

Hal itu juga menyalahi aturan karena secara tak langsung sudah mengutak atik kawasan Monas sebagai sebuah cagar budaya nasional. (TribunJakarta/Kompas.com)

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved