Kampanyekan Sisterhood Empowerment, Perempuan Diajak Saling Menguatkan dan Menginspirasi

Sambut Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2020 mendatang, Lock&Lock; Indonesia, bersama Lazada berkolaborasi dengan ilustrator Dinda Puspitasari.

Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Suharno
TRIBUNJAKARTA.COM/PEBBY ADHE LIANA
Ilustrator Dinda Puspitasari (kiri) berkolaborasi bersama Lock&Lock; dalam koleksi spesial Hari Perempuan Internasional, Kamis (20/2/2020). 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, SUDIRMAN - Perempuan dituntut untuk ahli dalam melakukan pekerjaan yang multitasking.

Selain hanya sekedar mengurus keperluan rumah tangga seperti memasak, bersih-bersih rumah, mengurus anak, terkadang banyak perempuan masa kini yang juga mulai bekerja dan membantu beban suami dalam menyusun keuangan rumah tangga bersama-sama.

Dalam rangka menyambut Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret 2020 mendatang, Lock&Lock Indonesia, bersama Lazada berkolaborasi dengan seorang ilustrator muda Dinda Puspitasari untuk mengkampanyekan tagline Sisterhood Empowerment.

Yakni sebuah kampanye yang diartikan sebagai gerakan pemberdayaan sahabat perempuan melalui stiker ilustrasi gambar dan quotes yang dapat menginspirasi para wanita.

"Kalau ngomongin Sisterhood Empowerment ini sebenernya gender quality masih jadi tantangan terbesar di semua negara. Nah salah satunya di Indinesia ada cultural dan social pressure yang membuat perempuan itu gak gampang atau sulit untuk lebih maju," ujar Vice President Marketing Lazada, Sawitri Hartoto, Kamis (20/2/2020).

Melalui kolaborasi ini, Lock&Lock akan merilis tumbler terbarunya bersama Dinda Puspitasari pada tanggal 27 hingga 29 Februari mendatang.

Dimana, dalam setiap penjualan akan dijual dalam satu paketnya bersama dengan tiga stiker ilustrasi dari Dinda Puspitasari tersebut.

Maknanya, Sawitri pun mengingatkan mengenai tantangan dalam menggapai kesuksesan bagi seorang perempuan.

"Ada perempuan berhasil di posisi tinggi contohlah jadi CEO. kata orang pasti ada aja yang bilang 'oh pantes aja dia gak nikah-nikah' atau 'ih pasti anaknya gak diurus, ih pasti suaminya berantakan. Selalu ada stigma negatif. Karena dari sisi sosial dan budaya kita memang menyebabkan perempuan itu ada disamping atau dibawah bukan setaraf," kata dia.

Ia mencontohkan bahwa masyarakat Indonesia terkadang masih ada saja yang berfikir negatif apabila melihat seorang wanita sukses dalam karir.

Misalnya, dengan berpendapat bahwa wanita tersebut tidak mengurusi rumah tangganya, wanita tersebut memiliki rumah tangga yang berantakan, atau bahkan pekerjaannya menjadi penghalang bagi dirinya yang belum menikah.

Kejadian seperti ini, dinilai banyak terjadi di lingkungan masyarakat.

Apalagi, kendala bagi setiap wanita untuk menggapai mimpinya seringkali juga berasal dari gender yang sama.

Melalui kampanye ini, para wanita diingatkan untuk selalu menjadi sosok yang valuable. Baik dalam keluarga, juga lingkungan. Salah satunya dengan saling menguatkan serta memberi dukungan satu sama lainnya.

"Orang yang sering jatuhin perempuan itu justru adalah perempuan sendiri. Misalnya ada cewe cantik dandan, malah dikatain genit banget. Ada wanita ambisius, dibilang ih ambisius banget. Padahal kita semuaa punya hak untuk meraih sesuatu, punya hak untuk ambisius," paparnya.

"Harusnya dengan kampanye ini kita semua bisa saling ingatkan 'you can, ayo kamu bisa maju' itu adalah salah satu bentuk movement kecil. Jangan dengerin paradigma negatif ke arah kita. Nah kita mau ajak kalau ada wanita temen kita yang sukses, ayo sama-sama kita doain dan rayain. sama-sama seperti itu," tambah Sawitri.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved