Tips Memilih Batik Asli di Tengah Maraknya Batik Tiruan
Pasalnya, hanya orang yang benar-benar mengerti batik dapat mengetahui batik tersebut asli atau tidak.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR MINGGU - Di tengah merebaknya batik tiruan atau cetak, keberadaan batik asli kian tersamarkan.
Publik hampir sukar membedakan antara batik yang memang berasal dari goresan asli sang pembatik atau produk massal batik cetak.
Berangkat dari keresahan itu, pegiat batik mulai gencar untuk mempopulerkan kembali batik asli yang telah menjadi warisan dunia.
Yayasan Batik Indonesia memiliki inisiatif berbagi dengan awak media untuk membantu mensosialisasikan batik asli kepada masyarakat umum apa itu "Batik Beneran" di Synthesis Kemang, Jakarta Selatan.
Dalam acara tersebut, Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia, Komarudin Kudiya menerangkan terkait perbedaan batik asli dan batik tiruan.
Menurutnya, masih banyak orang yang tak menyadari ada batik yang memang asli dibuat dengan goresan tangan seniman pembatik dan ada batik yang dibuat dengan proses cetak (printing).
Batik yang asli merupakan batik tulis yang dibuat dengan menggunakan lilin panas atau malam.
Sementara batik tiruan itu berasal dari tekstil. Biasanya proses pembuatannya tak menggunakan tangan melainkan dicetak.
Proses printing jelas melewatkan cara membuat batik yang diwariskan nenek moyang dengan bertemunya canting dan lilin panas selama proses membuatnya.
"Sekarang kalau ada orang yang membuat ragam hias dari tamarin, beras ketan, atau eco print, mohon maaf itu tidak bisa disandingkan dengan batik," ungkapnya kepada awak media pada Sabtu (22/02/2020).
Bagaimana Membedakannya Secara Kasat Mata?
Dalam membedakan kain batik asli atau tidak, Komarudin mengakui tak mudah.
Pasalnya, hanya orang yang benar-benar mengerti batik dapat mengetahui batik tersebut asli atau tidak.
Namun, ada dua cara yang bisa dilakukan bagi pemula untuk membedakannya secara kasat mata yakni, melihat dari jenis kain dan melihat kesamaan warna kain batik tampak depan dan di belakangnya.
Jenis kain batik asli berasal dari kain serat alami antara lain sutra, katun, kain rayon, dan kain rami.
"Warna kain batik tampak depan atau belakang hampir sama warnanya. Kemudian kita harus tahu jenis kain yang digunakan itu apa," ungkapnya saat ditanya TribunJakarta.com.
Komarudin sempat membentangkan kain batik berwarna dasar kuning kepada awak media saat tengah melakukan presentasi di depan.
"Ini coba dipegang halus enggak? halus ya, seperti sutra ya," katanya kepada awak media.
Namun tak berselang lama, Komar memutar kain tersebut sehingga tampak belakang kain terlihat.
Kala diperlihatkan, warna tampak depan kain dan tampak belakangnya jauh berbeda.
Ada ketimpangan warna antara kuning sebagau warna asli di depan dan warna putih di belakangnya.
"Coba lihat, Ini bukan batik, tapi kalau lihat motifnya ini seperti batik. Tapi ini adalah asli digital print. Kalau dibilang asli spanduk boleh, lah," jelasnya.
Saat ini, lanjut Komarudin, banyak sekali penjual yang mengaku-ngaku menjual batik asli dengan membuat ragam hias yang menyerupai batik asli.
Padahal, proses pembuatannya tidak sama seperti batik tulis atau cap.
"Itu bukan batik. Apalagi kalau kita lihat di market place atau portal online, masa batik dijual Rp 100 ribu dapat tiga. Itu sebenarnya bukan batik tapi tekstil bercorak batik atau tiruan," jelas pria yang memiliki toko batik di Kota Bandung, Jawa Barat tersebut.
• Pemain Sepak Bola Indonesia Tewas Akibat Tersambar Petir, Mengalami Luka Bakar di Sekujur Tubuh
• Pemkot Bekasi Jamin Biaya Pemakaman untuk Warganya Nol Rupiah
• Mahasiswi Ini Kaget Anak Kucing Terjebak di Kap Mobilnya
Batik Tulis Bernilai Mahal Sebagai Apresiasi Karya Para Pembatik
Batik tulis lebih mahal ketimbang batik tiruan karena dihasilkan dari tangan langsung pembatiknya.
Batik tulis dihasilkan dari jerih payah sang pembatik yang memerlukan segenap energinya.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia, Yanti Airlangga.
Menurut Yanti, setiap kain batik itu memiliki cerita dan nyawa.
"Mungkin kain adalah benda mati, tapi begitu ada gores tangan pembatik itu menjadi bernyawa dari masing-masing pembatik," terangnya.
Yanti melanjutkan menghasilkan karya kain batik adalah sebuah anugerah. Pasalnya, tak semua orang bisa membatik.
Butuh ketelatenan, dan ketelitian dalam membuatnya.
Selain itu, proses pembuatan yang memakan waktu lama menjadi faktor batik mahal sehingga seyogianya publik bisa memaklumi alasan tingginya harga batik tulis.
"Ada batik yang berbahan spanduk, apakah kita mau memakai baju itu. Psikologis kita sendiri kan apakah mau memakai kain yang sebenarnya untuk spanduk," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/yayasan-batik-indonesia-menggelar-workshop-1.jpg)