Preman Bakar Transgender di Cilincing

Nyalakan Korek Api Ancam Transgender Mira, Pelaku: Awas Saya Bakar!

Usai memainkan korek api tersebut di dekat tubuh Mira, PD juga mengancam akan membakar Mira.

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Wahyu Aji
TribunJakarta/Gerald Leonardo Agustino
Konferensi pers ungkap kasus pembakaran terhadap transgender, Rabu (8/4/2020) di Mapolres Metro Jakarta Utara. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, KOJA - PD, salah satu tersangka yang masih buron dalam kasus pembakaran transgender Mira (43) di Cilincing, berperan menyalakan korek api.

Ketika tubuh Mira sudah berlumuran bensin usai disiram tersangka lainnya AP (27), PD lalu mendekati tubuh Mira sambil memainkan korek tersebut.

Hal itu dilakukannya untuk membuat Mira mengakui perbuatannya mencuri ponsel sopir truk dan meminta Mira mengaku ke mana ponsel tersebut dijual.

"Saat sudah disiramkan bensin oleh AP ternyata PD menakut-nakutin korban dengan keluarkan korek api," kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto di kantornya, Rabu (8/4/2020).

Usai memainkan korek api tersebut di dekat tubuh Mira, PD juga mengancam akan membakar Mira.

Ia berteriak di hadapan Mira dengan kondisi korek api yang sudah menyala.

"Awas saya bakar, saya bakar, dan seterusnya," ucap Budhi menirukan apa yang disampaikan tersangka PD kepada Mira.

Ketika korek api dinyalakan, api langsung menyambar tubuh Mira yang berlumuran bensin.

Tubuh Mira yang terbakar sempat coba dipadamkan oleh para tersangka.

Namun, karena terlanjur panik, mereka akhirnya melarikan diri dari lokasi kejadian, meninggalkan Mira seorang diri dijilati api.

Mira kemudian sempat memadamkan dirinya sendiri dengan mencari kubangan air di garasi truk trailer tempat dirinya dibakar.

Setelah itu, Mira mencari pertolongan dari warga sekitar. Sejumlah saksi yang melihat kondisi Mira langsung melarikannya ke RSUD Koja.

Mira akhirnya tutup usia pada Minggu (5/4/2020) siang setelah dirawat semalaman.

Adapun tersangka yang ditetapkan dalam kasus ini berjumlah enam orang.

Enam tersangka tersebut masing-masing berinisial AP (27), RT (24), AH (25), PD (DPO), AB (DPO) dan IQ (DPO).

Untuk para tersangka yang sudah ditangkap, yakni AP, RT, dan AH, polisi menetapkan pasal 170 KUHP ayat 2 tentang penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

"Ancaman hukuman pidana maksimal 12 tahun," kata Budhi.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved