Breaking News:

Hingga 20 April Tercatat 6.000 Orang Mudik dari Terminal Kalideres, Mayoritas ke Lampung

angka tersebut tetap saja cukup tinggi mengingat sudah berulang kali pemerintah mengimbau agar masyarakat tak pulang kampung untuk sementara

TRIBUNJAKARTA.COM/ELGA HIKARI PUTRA
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di Terminal Kalideres Jakarta Barat untuk mencegah penyebaran virus corona, Senin (16/3/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Elga Hikari Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KALIDERES - Imbauan pemerintah agar masyarakat tak pulang kampung sepertinya tak terlalu didengar sebagian masyarakat.

Terutama untuk mereka yang penghasilannya terdampak adanya pandemi corona. 

Di Terminal Kalideres, Jakarta Barat saja, setiap harinya masih ada ratusan penumpang yang berangkat menggunakan bus antar kota antar provinsi (AKAP) ke sejumlah kota dan kabupaten di sejumlah wilayah Jawa dan Sumatera.

Kepala Terminal Kalideres, Revi Zulkarnaen mencatat, untuk jumlah penumpang luar kota yang berangkat dari Terminal Kalideres di bulan April dari tanggal 1 hingga 20, sudah ada sebanyak 6.018 orang dengan rata-rata 250-300 orang setiap harinya.

Mereka berangkat menggunakan sebanyak 1.106 bus.

Revi tak menampik jumlah tersebut memang lebih sedikit dibanding saat periode normal. 

Namun, angka tersebut tetap saja cukup tinggi mengingat sudah berulang kali pemerintah mengimbau agar masyarakat tak pulang kampung untuk sementara.

"Paling banyak untuk tujuan Lampung, kemudian untuk ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat," kata Revi saat dihubungi, Selasa (21/4/2020).

Tawuran Remaja, Satu Orang Kena Bacok, dan Tiga Pelaku Diamankan Petugas

Marco Motta Bersyukur Keluarga di Italia dalam Kondisi Sehat

Bimbang

Revi mengatakan, masyarakat yang tetap nekat mudik saat ini mengaku lantaran tak ada pemasukan bila tetap berada di Jakarta.

Sebab, mayoritas dari penumpang adalah para pedagang maupun pekerja informal yang pendapatannya terdampak adanya pandemi corona dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Karenanya, ketimbang hidup tanpa adanya pemasukan, mereka nekat mudik walaupun sadar dengan sejumlah resikonya.

"Saya kan suka nanya ke mereka kenapa tetap nekat mudik, ya dijawabnya karena memang enggak ada pemasukan disini. Yang dagang katanya enggak ada yang beli, kemudian yang kerja di pabrik kantornya pada tutup," kata Revi.

Penulis: Elga Hikari Putra
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved