Usaha Bunga Anggrek Layu di Tangerang Selatan, Harga Jual Anjlok
Sidik mengatakan terjangan virus corona atau Covid-19 sudah melayukan bisnis bunga anggrek
Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Erik Sinaga
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir
TRIBUNJAKARTA.COM, PAMULANG - Tangerang Selatan (Tangsel) karib dengan mekarnya bunga anggrek. Selain menjadi simbol kota, bunga yang memiliki berbagai jenis itu memang marak dibudidayakan di kota penyangga DKI Jakarta itu.
Namun mekarnya anggrek kini hanya bisa dilihat di kebun-kebun penangkarannya.
Satu di antaranya, di kebun Sidik, di bilangan Benda Baru, Pamulang, Tangsel.
Sidik mengatakan terjangan virus corona atau Covid-19 sudah melayukan bisnis bunga anggrek.
Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang melarang resepsi pernikahan hingga pertemuan lain, membuat permintaan menurun drastis.
Harga jual pun anjlok, jauh dari pasaran pada hari normal tanpa pandemi.
"Anggrek kita juga kan, karena enggak boleh ada acara nikahan, pertemuan, apapun itu dibatasi, ya sudah, anggrek pada enggak bisa laku, kembang-kembang lain pun sama," ujar Sidik di kebunnya, Selasa (12/5/2020).
• Pemkot Jakarta Utara Mulai Terapkan Sanksi ke Pelanggar PSBB
• Tak Penuhi Kriteria BNPB, 30 Orang Ditolak Berangkat Naik Bus AKAP Terbatas
• Tak Penuhi Kriteria BNPB, 30 Orang Ditolak Berangkat Naik Bus AKAP Terbatas
Sidik mengatakan, satu rangkai anggrek berisi 100 batang biasanya seharga Rp 350 ribu.
Setelah pandemi, Sidik bahkan menjualnya hanya Rp 15 ribu.
"Sebatang kita bisa jual itu Rp 3 ribu sampai Rp 2.500, seiket atau segembol kan 100 batang ya, itu biasa kita jual Rp 350 ribu, itu sekarang kita jual Rp 15 ribu seikat," ujarnya.