Virus Corona di Indonesia

PSBB Dinilai Masih Longgar, Penggali Kubur Covid-19: Cuma Bisa Prihatin

Imang Maulana (49), penggali kubur yang sehari-hari bekerja sesuai protokol penanganan Covid-19 itu amat prihatin dengan masyarakat belakangan ini

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Muhammad Zulfikar
TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Para petugas pemakaman tengah menimbun peti jenazah Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur pada Selasa (12/5/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) DKI Jakarta masih longgar belakangan ini.

Bila dilihat kenyataan di lapangan, sebagian masyarakat masih banyak yang beraktivitas di luar.

Masih ada saja masyarakat yang abai dengan penerapan jaga jarak atau social distancing dan penggunaan masker.

Petugas medis yang menjadi garda terdepan pun merasa kecewa pengorbanannya berjibaku dengan virus malah dibalas dengan perilaku masyarakat yang tidak disiplin.

Tagar "Indonesia Terserah" sempat menghiasi lini masa jagat media sosial. Tagar yang berisi keputusasaan akan perilaku masyarakat dalam menghadapi bahaya Covid-19.

Semua yang memiliki rasa peduli dalam memberantas Covid-19 prihatin melihatnya, tak terkecuali penggali kubur di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

Imang Maulana (49), penggali kubur yang sehari-hari bekerja sesuai protokol penanganan Covid-19 itu amat prihatin dengan masyarakat belakangan ini.

Padahal, Imang dan rekan-rekan yang lain mengaku kewalahan menangani jenazah yang datang setiap hari.

"Ya amat prihatin aja dengan perilaku masyarakat kebanyakan. Padahal kita sudah kewalahan menyiapkan lubang untuk jenazah Covid-19," ungkapnya pada Jumat (22/5/2020).

Bandara Soekarno-Hatta Bentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19

Tata Cara dan Niat Salat Idul Fitri di Rumah, Lengkap Dengan Bacaan Suratnya

Imang melihat, informasi jumlah jenazah Covid-19 yang melonjak dianggap sebagai angin lalu saja.

Masyarakat yang melanggar mungkin harus terpapar dulu baru sadar.

"Padahal di media diumumkan kalau yang positif terpapar virus Covid-19 melonjak. Masyarakat seolah buta dan tuli."

"Atau haruskah terpapar dahulu baru kemudian kesadaran itu muncul. Haruskah lebih dahulu tertular baru kemudian menyesal. Saya cuma bisa ngenez aja," lanjutnya.

Imang berharap agar masyarakat bisa lebih sadar dan peduli terhadap imbauan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

"Harapannya agar semua pihak masyarakat lebih sadar diri untuk peduli akan pentingnya upaya memutus mata rantai pandemi Covid-19."

"Sebelum lebih banyak lg korban berjatuhan. Mari kita sayangi nyawa kita. Nyawa anak istri kita, keluarga, tetangga dan sekitar kita," ujarnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved