AirNav Terbitkan NOTAM Gangguan Balon Udara Liar, Pelanggar Bisa Didenda Sampai Rp 500 Juta

AirNav Indonesia memperingati pilot untuk lebih waspada gangguan Balon udara liar melalui penerbitan notice to airmen (NOTAM) nomor A1165/20.

Tangkapan Layar Kompas.com
Balon Udara yang Mendarat di Desa Ngloro, Kecamatan Saptosari Minggu (24/5/2020)(Dokumentasi Desa Ngloro) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - AirNav Indonesia memperingati pilot untuk lebih waspada gangguan Balon udara liar melalui penerbitan notice to airmen (NOTAM) nomor A1165/20.

Direktur Utama AirNav Indonesia, M. Pramintohadi Sukarno, mengatakan, pihaknya terus memberikan informasi terkini kepada stakeholder penerbangan terkait kondisi terakhir di ruang udara.

Terutama yang terpantau terdapat Balon udara liar dari ukuran kecil sampai raksasa.

Terutama, lanjut Pramintohadi, pilot yqng akan terbang di area Pekalongan, Wonosobo, Parakan, dan Kajen.

"Kami memperingatkan agar para pilot yang melewati area ruang udara tersebut berhati-hati. Ketinggian balon udara liar diperkirakan mulai dari 0 - 28.000 kaki dengan arah dan kecepatan terbang yang tidak diketahui," kata Pramintohadi dalam keterangannya, Selasa (26/5/2020).

Meski sudah mengeluarkan peringatan, hingga hari ini, AirNav Indonesia belum mendapatkan laporan pilot (pilot report) yang menyatakan melihat balon udara di area ruang udara tersebut.

Tapi, sudah ada laporan terdapat sebuah balon udara yang jatuh di area Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang pada Minggu (24/5/2020).

Pramintohadi juga mengingatkan kepada para pelaku penerbangan balon udara liar.

Bahwasanya penerbangan balon udara liar tersebut sangat mengancam keselamatan penerbangan dan terdapat sanksi tegas yang menanti pelaku.

“Kami kembali mengingatkan kepada para pelaku penerbangan balon liar aparat penegak hukum bisa memberikan sanksi pidana bagi pihak-pihak yang mengancam keselamatan penerbangan sesuai dengan yang diatur di dalam Undang-Undang nomor 1 tahun 2009 tentang penerbangan," terang Pramintohadi.

Ia melanjutkan, pasal 441 menyatakan kalau jelas ada pidana penjara paling lama dua tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta.

Hari Ini, Operasional KRL Kembali Normal Sesuai Aturan PSBB

60.457 Orang Naik KRL di Hari Pertama Lebaran, Turun 90 Persen Dibanding Tahun Lalu

Pramintohadi mengatakan, terdapat aturan yang harus dipatuhi dalam menerbangkan balon udara ditambatkan yang dijelaskan di dalam PM 40 Tahun 2018 tentang penggunaan balon udara pada kegiatan budaya masyarakat.

Namun, beberapa pemerintah daerah bahkan saat ini sudah melarang penerbangan balon udara dengan ditambatkan, karena kondisi pandemi Covid-19 dan upaya untuk mengimplementasikan jaga jarak (physical distancing).

Penulis: Ega Alfreda
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved