Bahas Soal Penerapan New Normal, dr Tirta Nilai Masih Terlalu Dini: Saya Bilang Sih Masih Jauh

dr Tirta Mandira Hudhi atau yang akrab disapa dr Tirta turut menanggapi terkait fase new normal atau tatanan normal baru di tengah pandemi virus coron

YouTube/ Indonesia Lawyers Club
dr. Tirta saat menjelaskan pentingnya mencuci tangan. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Dokter sekaligus influencer dr Tirta Mandira Hudhi atau yang akrab disapa dr Tirta turut menanggapi terkait fase new normal atau tatanan normal baru di tengah pandemi virus corona.

dr Tirta mengatakan menerapan new normal di Indonesia masih sangat prematur untuk dilakukan.

Sebab, menurut dia, puncak kasus Covid-19 di Indonesia saja belum bisa terlihat kapan akan terjadi.

Namun, dari data Kementerian Kesehatan, lanjut dia, kasus virus corona di Indonesia terus meningkat.

Presiden Joko Widodo diperiksa suhu tubuhnya saat meninjau kesiapan penerapan prosedur standar new normal (normal baru) di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Selasa (26/5/2020). Dalam tinjauan kali ini, Jokowi menyampaikan pengerahan TNI/Polri secara masif di titik-titik keramaian untuk mendisiplinkan masyarakat dengan tujuan agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan sesuai ketentuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Presiden Joko Widodo diperiksa suhu tubuhnya saat meninjau kesiapan penerapan prosedur standar new normal (normal baru) di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Selasa (26/5/2020). (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Hal itu diungkapkan dr Tirta dalam acara Fakta yang kemudian diunggah di kanal YouTube Talk Show tvOne, Selasa (25/5/2020).

"Tapi kalau saya bilang sih masih jauh, ini aja puncak, sekarang kita Juni katanya mau new normal, ini aja puncaknya gak tahu lho kapan."

"Meroket ini (kasus Covid-19 di Indonesia), ketika negara lain turun kita satu-satunya yang meroket," ungkap dr Tirta.

Dia mengatakan, untuk bisa menekan penyebaran virus corona yang semakin meluas, pemerintah perlu melakukan pembatasan terhadap mobilitas masyarakat.

dr Tirta lantas memberikan contoh, ia mengatakan, salat Id bisa dilakukan di zona hijau tapi tetap menerapkan protokol kesehatan.

Orangtua Kerja, 2 Balita di Pasuruan Tewas Terpanggang Dalam Mobil Tetangga, Ini Dugaan Polisi

"Yang patut direm adalah mobilisasi, kalau hijau kalian salat Id dengan prosedur new normal pakai masker atau tidak cium tangan, gapapa," kata dia.

Halaman
12
Editor: Muji Lestari
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved