Sisi Lain Metropolitan

Cerita Entus, Jualan Kasur Saat Pandemi Covid-19: Jual 4 Kasur Butuh Waktu Lebih dari Seminggu

Sumardi (58) atau akrab disapa Bapak Entus terlihat tetap semangat menjajakan kasur jualannya

Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Nur Indah Farrah Audina
Bapak Entus, penjual kasus keliling Depok-Jakarta, Sabtu (30/5/2020) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Suasana jalanan siang ini tampak begitu lengang di kawasan Ciracas, Jakarta Timur.

Meski begitu, Sumardi (58) atau akrab disapa Bapak Entus terlihat tetap semangat menjajakan kasur jualannya.

Dengan tangan yang memengang dua kasur, Bapak Entus masih gagah menyusuri jalan tersebut.

Bapak Entus menceritakan sudah menggeluti profesi sebagai penjual kasur sejak 20 tahun belakangan.

Bapak Entus, penjual kasus keliling Depok-Jakarta, Sabtu (30/5/2020)
Bapak Entus, penjual kasus keliling Depok-Jakarta, Sabtu (30/5/2020) (TribunJakarta/Nur Indah Farrah Audina)

Tak ada lagi yang menggunakan jasanya sebagai kuli bangunan, membuat Bapak Entus memilih menjadi penjual kasur keliling dan meninggalkan keluarganya yang tinggal di Cengkareng.

Meski dua anaknya sudah menikah, Bapak Entus masih memiliki satu anak yang masih duduk di bangku kelas 10 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Sehingga ia tetap harus bekerja guna mencukupi kebutuhan tersebut.

"Istri sama anak saya ada di Cengkareng. Ini saya ikut bos tinggalnya di Kelapa Dua Depok. Nanti saya pulang seminggu sekali," katanya kepada TribunJakarta.com, Sabtu (30/5/2020).

Setiap pagi, Bapak Entus berangkat dari rumah bosnya dengan membawa empat kasur sekaligus.

Tanpa arah, ia menyusuri jalanan dengan ongkos seadanya. Bila tak ada uang untuk transport, Bapak Entus akan berjalan puluhan kilometer.

"Setiap hari bawa 4 kasur. Saya kan sistemnya setor. Kalau yang besar saya jual Rp 350 ribu, yang kecil Rp 250 ribu Jadi enggak ada modal buat transport. Kalau enggak ada uang ya jalan aja. Hitungannya banyakan jalannya," lanjutnya.

Tanpa kata lelah, setiap hari ia selalu menjajakan kasurnya guna menafkahi keluarganya.

Sayangnya, sejak wabah Covid-19, Bapak Entus menuturkan kesulitan menjual kasurnya.

Selain kasur tak termasuk dalam kebutuhan pokok, sejumlah akses jalan yang ditutup juga mempengaruhi omset jualannya.

"Ya sekarang sudah sepi. Untuk ngelarisin satu kasur aja susah banget. Makanya harus jalan lebih jauh biar laku," ungkapnya.

Saat ini, untuk menjual empat kasur Bapak Entus membutuhkan waktu seminggu lamanya.

Hal itu juga membuat dirinya jarang kembali ke rumah akibat kendala biaya yang dialaminya.

Sebab, uang tersebut lebih dinanfaatkan Bapak Entus untuk uang transport saat berjualan keliling.

Butuh kesabaran

Menjadi penjual kasur selama puluhan tahun, rupanya mengajari Bapak Entus banyak hal.
Satu diantaranya ialah soal kesabaran.

Sulitnya mencari penglaris kasur, membuatnya bermental besi dan menerima semua dengan apa adanya.

"Sisi baiknya dari berjualan ini adalah saya bisa jadi manusia lebih sabar dan tabah. Kalau mau apa-apa pertimbangannya banyak. Sebab kalau enggak sabar, pasti hidup saja isinya sudah keluhan semua," ungkapnya.

Selain itu, sisi positif dari kondisinya saat ini ialah mendapatkan istri yang setia dan mampu bertahan dikala kondisi sulit sekalipun.

"Selain sabar buat diri sendiri, profesi saat ini juga menularkan sabar yang lebih untuk keluarga saya di rumah. Tiap kali saya enggak dapat uang, istri saya paham dan ngerti. Jadi kalau kita mau lihat sisi baiknya pastinya bakalan jadi manusia lebih baik," jelasnya.

Harapan

Meskipun begitu, Bapak Entus tetap memiliki segilintir harapan.

Harapan utamanya saat ini ialah agar anak bungsunya, Ahmad Fajri bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Sehingga ia akan berjuang lebih gigih untuk mengumpulkan uang bagi pendidikan anak bungsunya itu.

Sekolah Sempat Dibuka, Pemerintah Korsel Temukan 79 Kasus Baru Covid-19 dalam Sehari

Besok, Damkar Serentak Semprot Disinfektan di Puluhan Ruas Jalan Jakarta Timur

Tak Bisa Perlihatkan SIKM, 166 Kendaraan Dilarang Masuk Jakarta Utara

"Saya pengin anak saya bisa kuliah. Jadi biar bapaknya kerja begini, yang penting pendidikan nomor satu," katanya.

Selain itu, harapan lainnya ialah wabah Covid-19 ini cepat berlalu dan ekonominya kembali normal.

"Yang terakhir saya berdoa supaya wabah ini cepat berlalu. Sebab pembeli kasur begini biasanya warga yang tinggal di gang (jalan lingkungan). Jadi kalau akses jalan enggak ditutup, kasur ini cepat lakunya," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved