PPDB DKI Jakarta
Curahan Hati Orang Tua Murid Soal PPDB DKI 2020: Tunda Sekolah Jadi Opsi Terakhir
Pada tahun ini, PPDB agak berbeda karena menggunakan sistem daring atau online, dari pra pendaftaran hingga lapor diri.
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Wahyu Aji
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Terlempar dari jalur afirmasi, zonasi dan prestasi, sejumlah orang tua murid pilih tunda sekolah anaknya.
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta 2020 telah dibuka sejak beberapa waktu lalu.
Pada tahun ini, PPDB agak berbeda karena menggunakan sistem daring atau online, dari pra pendaftaran hingga lapor diri.
Selain itu, usia minimal juga diterapkan dalam PPDB tahun ini.
Imbasnya sejumlah orang tua kelimpungan memikirkan anak mereka.
Dahlia Putri, satu diantara orang tua murid mengatakan sudah mengikuti tiga jalur dalam PPDB.
Sayangnya, anaknya tetap terlempar akibat usia yang tak terbilang muda yakni 15 tahun 7 bulan.
"Saya sudah coba semua jalur, tetap ketendang karena usia sekarang tua-tua semua. Akhirnya saya coba di jalur prestasi namun masih tergeser juga karena rata-rata nilai anak saya 7,4," katanya kepada TribunJakarta.com, Kamis (2/7/2020).
Tak ingin menyerah, Dahlia tetap mengusahakan dan mencari informasi ke tiap-tiap sekolah perihal PPDB.
Seperti hari ini, ia rela keluar rumah dari Duren Sawit, Jakarta Timur menuju kawasan Makasar, Jakarta Timur untuk mencari informasi perihal jalur selanjutnya.
"Ini datang mau tanya-tanya juga, apakah ada bangku kosong. Saya juga ceritakan anak saya sudah terpental karena usia. Cuma balik lagi penjelasan pihak sekolah ke PPDB online," ungkapnya.
Serupa, Sariwulan orang tua murid lainnya pun tetap gigih mendatangi beberapa sekolah.
Ia yang merupakan seorang janda, tetap mengupayakan anaknya untuk bisa bersekolah negeri.
Keterbatasan biaya lagi-lagi membuatnya tak sanggup menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta.
Sehingga, hingga hari ini dirinya masih bertanya soal PPDB 2020 dan solusi untuk anaknya kepada pihak sekolah.
"Saya datang juga untuk konsultasi baiknya seperti apa. Setelah dijelaskan agak tenang sedikit tapi was-was juga. Jadi saya akan coba terus secara online," katanya.
Tunda sekolah
Baik Dahlia maupun Sariwulan mengatakan bisa menunda sekolah anaknya bila tahun ini tak diterima di sekolah negeri.
Bahkan pembahasan ini sudah mereka bicarakan dengan anak-anak mereka.
Seperti Dahlia, anaknya memulai komunikasi dan menginginkan sekolah di tahun berikutnya.
"Bun, gapapa aku sekolahnya ditunda tahun depan, yang penting tahun depan sudah tua (usianya)," ujar sang anak.
"Saya dengarnya jadi ketawa sih. Tapi kan ketawa sedih. Sebab opsi sekolah swasta saya juga belum punya karena uang pangkalnya juga mahal," katanya.
Selain itu, baik Dahlia maupun Sariwulan mengatakan saat ini anaknya sedang dalam keadaan yang tak baik secara batin.
"Namanya anak ya, walupun enggak ngomong tapi kita tahu mereka ngebatin juga mikirin sekolah. Anak saya misalnya, pas saya bilang istirahat (tunda sekolah) dulu langsung diam. Makanya ini saya juga masih cari informasi soal PPDB ini," ungkap Sariwulan.
Saat ini, keduanya berharap agar ada jalan terbaik untuk anak-anak mereka.
Sebab secara prestasi, kedua anak mereka terbilang rajin dan semangat untuk sekolah.