Breaking News:

Banyak Kasus Kekerasan Anak di Depok, Kak Seto Minta Predikat Kota Layak Anak Dievaluasi

Dalam kurun waktu satu bulan belakangan ini saja, terjadi dua kasus penculikan yang hingga kini pelakunya masih dalam pengejaran

Penulis: Dwi Putra Kesuma | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina
Kak Seto di Balai Rehabilitasi Sosial Anak Handayani, Cipayung, Jakarta Timur, Minggu (17/5/2020) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS - Banyaknya kasus kekerasan terhadap anak di Kota Depok, Jawa Barat, membuat predikat "Kota Layak Anak" yang telah disandang wajib dipertanyakan.

Dalam kurun waktu satu bulan belakangan ini saja, terjadi dua kasus penculikan yang hingga kini pelakunya masih dalam pengejaran.

Terbaru pada Selasa (7/7/2020) beberapa hari yang lalu, seorang bocah tujuh tahun berinisial MA nyaris menjadi korban penculikan di daerah Kampung Serab, Sukmajaya.

Menanggapi hal ini, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, menuturkan perlu ada evaluasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) ihwal predikat tersebut.

"Yang memberikan slogan itu kan dari Kementerian PPPA, kami mohon juga evaluasi dari Kementerian PPPA yang menganugerahkan penghargaan itu," ujar Seto Mulyadi atau Kak Seto sapaan akrabnya, pada TribunJakarta.com, Jumat (10/7/2020).

"Kita semua harus evaluasi sejauh mana konsistensi penjagaan wilayah masing-masing untuk bisa betul-betul ramah anak," timpalnya lagi menegaskan.

Imbas Polemik e-KTP Djoko Tjandra, Lurah Grogol Selatan Dinonaktifkan

Sergio Farias Antusias Liga 1 Dilanjutkan, Manajemen Persija Segera Panggil Pemain Berkumpul

Sebelumnya juga diwartakan, Kak Seto menyebut angka kekerasan terhadap anak meningkat di masa pandemi Covid-19.

Kak Seto menuturkan, berbagai permasalahan yang ada di tengah pandemi, kemungkinan membuat para orang tua mengalami frustasi dan tegang, hingga tingkat kewaspadaan terhadap anak menjadi berkurang.

Terakhir, ia menekankan perlu adanya peningkatan kontrol di dalam masyarakat.

"Kontrol masyarakat, media, sangat diperlukan sehingga bukan hanya simbol gengsi saja tetapi memang apresiasi terhadap suatu realita yang betul-betul bisa dibuktikan," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved