Napak Tilas Museum Joang 45, Bekas Hotel Megah Era Belanda di Menteng

Museum Joang 45 adalah salah satu gedung yang terletak di Jalan Menteng Raya nomor 31, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Tayang:
TribunJakarta.com/Pebby Adhe Liana
Muslim, pemandu wisata Museum Joang 45 menunjukan bangunan yang dulunya merupakan bekas kamar hotel Schomper 1 zaman Belanda. 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, KEBON SIRIH - Museum Joang 45 adalah salah satu gedung yang terletak di Jalan Menteng Raya nomor 31, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Selain menyimpan banyak benda bersejarah, Museum Joang 45 juga menjadi saksi bisu atas kebangkitan dan perjuangan rakyat dalam mempersiapkan kemerdekaan ketika Indonesia belum merdeka.

Gedung ini pertama kali dibangun pada tahun 1930-an oleh pengusaha berkebangsaan Belanda bernama LC Schomper.

Potret bangunan Gedung Joang 45 yang dulunya adalah hotel mewah di Batavia tahun 1938.
Potret bangunan Gedung Joang 45 yang dulunya adalah hotel mewah di Batavia tahun 1938. (TribunJakarta.com/Pebby Adhe Liana)

"Pada tahun 1926 kawasan kota Batavia adalah salah satu kawasan yang cukup luas dan padat. Banyak pendatang dari Eropa, dan pembisnis-pembisnis juga," kata Muslim seorang Pemandu Wisata, Gedung Joang 45, Selasa (14/7/2020).

"Lalu oleh pemerintah Hindia Belanda, kala itu akhirnya dicarilah sebuah tempat di pinggiran kota Batavia, di kawasan Menteng ini ditemukan. Kawasan yang cukup luas saat itu," jelasnya.

Dikisahkan, Batavia dibawah pemerintahan Hindia Belanda menjadi kota yang padat kala itu.

Sehingga, Belanda memutuskan segera mencari kawasan yang cukup luas di pinggiran Kota Batavia untuk membangun pemukiman elit bagi petinggi-petinggi Belanda.

Potret bangunan Gedung Joang 45 yang dulunya adalah hotel mewah di Batavia tahun 1938.
Potret bangunan Gedung Joang 45 yang dulunya adalah hotel mewah di Batavia tahun 1938. (TribunJakarta.com/Pebby Adhe Liana)

Hingga pada akhirnya pengusaha LC Schomper membangun hotel megah bernama Schomper 1 di lokasi yang kini dikenal dengan nama Jalan Menteng Raya.

"Hotel Schomper 1, hotel yang sangat megah saat itu" kata Muslim menjelaskan.

Kemegahan hotel, terlihat dari sisi arsitektur bangunan yang kini masih berdiri kokoh di Menteng, Jakarta Pusat itu.

Dengan lantai marmer, dinding yang dicat warna putih gading, beserta tiang-tiang pilar yang besar memperlihatkan bahwa hotel ini cukup mewah pada masanya.

Potret bangunan Gedung Joang 45 yang dulunya adalah hotel mewah di Batavia tahun 1938.
Potret bangunan Gedung Joang 45 yang dulunya adalah hotel mewah di Batavia tahun 1938. (TribunJakarta.com/Pebby Adhe Liana)

Terdapat beberapa ruangan yang mana dulunya adalah bekas kamar hotel yang diperuntukan oleh tamu hotel.

Antara lain adalah pejabat-pejabat Belanda, atau petinggi-petinggi pada masanya.

"Kita bisa lihat dari lantainya yang marmer saat itu, pilarnya yang besar-besar, menunjukan bahwa hotel ini sangat mewah kala itu," imbuh Muslim.

"Renovasi sudah dilakukan beberapa kali, namun artinya tidak merubah bentuk aslinya," ungkapnya.

Menjadi salah satu hotel yang megah pada tahun 1930an, dahulu hotel ini dikhususkan bagi para elit seperti petinggi-petinggi, serta pedagang besar pada masanya.

Museum Kesejarahan Jakarta di Kawasan Kota Tua, Balai Kota Masa VOC

Namun selang beberapa tahun hotel berjalan, kemenangan Jepang membuat gedung ini akhirnya diambil alih dan dikuasai Jepang pada 1942.

Dibawah naungan Sendenbu atau Jawatah Propaganda Jepang, Gedung ini kemudian diserahkan kepada pemuda Indonesia untuk dijadikan tempat pendidikan politik.

"Makanya tempat ini pernah juga jadi tempat pendidikan politik. Tujuannya untuk membantu Jepang selama mereka ada di sini," katanya.

Hotel megah Schomper 1 pun berubah menjadi tempat pendidikan politik, asrama angkatan baru Indonesia.

Ir.Soekarno, Moh.Hatta dan beberapa tokoh perjuangan lainnya ikut terlibat sebagai tenaga pengajar dalam pendidikan politik tersebut.

Museum Joang 45 Simpan Sederet Sejarah Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Hingga kemudian secara diam-diam menanamkan cita-cita kemerdekaan kepada para Pemuda Indonesia.

"Karena pengajarnya ini adalah pendiri-pendiri bangsa oleh saat itu. Akhirnya yang tadinya pendidikan diberikan untuk membantu membela Jepang, justru malah ditanamkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Makanya dari sini banyak sekali pergerakan pada saat itu. Tapi akhirnya ketawan dan asrama ini dibubarkan" jelasnya.

Gedung inipun sempat dialih fungsikan untuk beberapa kegiatan. Gedung ini juga menjadi saksi bisu atas pergerakan rakyat Indonesia dalam menuju kemerdekaan.

Setelah melalui sejarah panjang, pada 1974, gedung ini pun akhirnya diresmikan sebagai Museum Joang 45 oleh Presiden kedua Soeharto.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved