Idul Adha 2020

9 Sunnah Idul Adha, Salah Satunya Berangkat dan Pulang Melewati Jalan yang Berbeda hingga Bertakbir

Ada amalan 9 hari di bulan Dzulhijjah termasuk puasa Arafah dan mengumandangkan takbir di Hari Raya Idul Adha.

Editor: Siti Nawiroh
TribunJakarta/Ega Alfreda
Pelaksanaan Salat Jumat berjwmaah di pelataran Plasa Pusat Pemerintahan Kota Tangerang yang dipenuhi oleh ASN Kota Tangerang, Jumat (5/6/2020). 

TRIBUNJAKARTA.COM - Besok umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Adha 2020.

Hari Raya Idul Adha 2020 masuk di Bulan Dzulhijjah.

Bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang sangat mula yang mana merupakan bulan dilakukan ibadah haji serta penyembelihan kurban.

Diantara amalan-amalan yang ada, melaksanakan ibadah haji serta melakukan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha 10 Dzulhijjah adalah yang tertinggi.

Selain itu ada pula amalan 9 hari di bulan Dzulhijjah termasuk puasa Arafah.

Selain itu, dalam momentum hari raya idul adha pada 10 Dzulhijjah, masih ada banyak amalan yang bisa dilakukan oleh kaum muslimin.

Dalam buku Himpunan Putusan Tarjih tentang Tuntunan Idan dan Qurban yang disusun Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dijelaskan, diantaranya berikut ini amalan sunah dalam momentum Idul Adha.

  • Mengumandangkan Bertakbir

Mengumandang takbir atau takbiran pada hari raya Idul Adha adalah sesuatu yang disyariatkan oleh agama.

Pada hari raya idul adha, kumandang takbir yang digemakan adalah takbir mursal dan takbir muqayyad.

Pada takbir mursal idul adha, dilakukan setelah matahari terbenam pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga khatib selesai khutbah pada salat Id.

Sedangkan, untuk takbir muqayyad dikumandangkan mulai dari subuh dari tanggal 9 Dzulhijjah, mulai dilakukannya Puasa Arafah hingga setelah asar pada akhir hari Tasrik atau 13 Dzulhijjah.

Antara takbir mursal dan takbir muqayyad, keduanya tidak ada perbedaan lafadz.

  • Berhias Memakai Pakaian Bagus saat Salat Idul Adha

Orang yang menghadiri salat Idul Adha baik laki-laki maupun perempuan dituntunkan agar berpenampilan rapi, yaitu berhias, memakai pakaian bagus (tidak harus mahal, yang penting rapi dan bersih), dan wangi-wangian sewajarnya.

Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya, Nabi saw selalu memakai wool (Burda) bercorak (buatan Yaman) pada setiap ‘Id. (HR. Asy-Syafi’i dalam kitabnya Musnad asy-Syafi’i).

Diriwayatkan dari Zaid bin al-Hasan bin Ali dari ayahnya ia mengatakan, "Kami diperintahkan oleh Rasulullah saw pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) untuk memakai pakaian kami terbaik yang ada, memakai wangiwangian terbaik yang ada, dan menyembelih binatang kurban tergemuk yang ada (sapi untuk tujuh orang dan unta untuk sepuluh orang) dan supaya kami menampakkan keagungan Allah, ketenangan dan kekhidmatan." (HR. Al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak, IV: 256).

  • Tidak Makan sejak Fajar Sampai Selesai Salat Idul Adha
Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved