Breaking News:

Komnas PA Tolak Uji Coba Belajar Tatap Muka saat Pandemi Covid-19

Komnas PA menolak digelarnya uji belajar tatap muka yang dilakukan sejumlah pemerintah daerah.

TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Suasana belajar tatap muka siswa SDN Pekayon Jaya VI Kota Bekasi, Senin, (3/8/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR REBO - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menolak digelarnya uji belajar tatap muka yang dilakukan sejumlah pemerintah daerah.

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengatakan uji coba tak seharusnya digelar selama status pandemi Covid-19 masih belum berakhir dan vaksin belum ditemukan.

"Apa pun alasannya, zona hijau, kuning, oranye atau warna lainnya jangan berlakukan anak sebagai kelinci percobaan atas serangan virus corona," kata Sirait di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (11/8/2020).

Menurutnya hak tersebut tak berlebihan bila melihat penambahan kasus terkonfirmasi dan tingkat kepatuhan warga atas protokol kesehatan.

Dia mengibaratakan anak-anak yang mengikuti uji coba belajar tatap muka sebagai 'kelinci percobaan' atas kebijakan pemerintah daerah.

"Siapa yang bisa menjamin di zona hijau sekalipun virus corona tidak mewabah. Hari ini situasinya hijau, hitungan detik bisa berubah begitu cepat menjadi merah atau kuning," ujarnya.

Merujuk data Kementerian Kesehatan, Sirait menuturkan sebanyak 8,3 % kasus terkonfirmasi terjadi pada anak atau 9.390 kasus terkonfirmasi.

Sementara kasus anak terkonfirmasi secara nasional hingga 2 Agustus 2020 lalu angkanya fluktuatif, paling rendah 101 dan terbanyak 213 per hari.

Namun Sirait tak menampik pembelajaran jarak jauh (PJJ) juga berdampak buruk bagi kesehatan jiwa karena harus berada terus di rumah.

"Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, 47% anak merasa bosan tinggal di rumah, 35% khawatir ketinggalan pelajaran, 15% merasa tidak aman," tuturnya.

Lalu 34% merasa takut terinfeksi Covid-19 19, 20% merindukan teman-temannya, dan 10% khawatir penghasilan orang tua yang mulai berkurang.

Renovasi Rampung, Kapan Masjid Istiqlal Diresmikan?

Berapa Lama Sperma di Luar Tubuh Bisa Bertahan Hidup? Ini Kata Dokter

Sirait mengatakan pemerintah harus bisa menyediakan jaringan internet bebas biaya dan ketersediaan gawai untuk anak mengikuti PJJ.

Hingga membuat kurikulum yang sesuai agar anak tak bosan selama mengikuti PJJ dan para orangtua tak merasa stres sehingga melakukan kekerasan.

"Pemberian modul-modul pembelajaran yang sederhana yang dapat digunahan para orangtua untuk mendampingi anak-anaknya belajar dan sekolah di rumah, tidak sulit dan membosankan, kurikulim khusus covid 19," lanjut Sirait.

Penulis: Bima Putra
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved