Sisi Lain Metropolitan
Jeritan Sejumlah Pengemudi Ojol Ketika PSBB DKI Jakarta Kembali Diperketat
Pendapatan sehari-hari tak seberapa dibanding saat mereka mencari orderan di masa normal.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, SETIABUDI - Menjelang magrib, Jalan Raya Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan, masih ramai kendaraan.
Faqih (30) dan Ardiansyah (34) tengah duduk santai sembari menunggu orderan di bangku kota. Sementara kedua motor mereka terparkir di pinggir jalan.
Selama pandemi Covid-19 yang masih gelap ujungnya, hidup mereka kian susah.
Pendapatan sehari-hari tak seberapa dibanding saat mereka mencari orderan di masa normal.
Sehari ini saja, Ardiansyah baru mendapat tiga orderan sedangkan Faqih mendapatkan enam orderan.
Penghasilan hari ini tentu jauh sekali dengan dulu yang bisa meraup sekira Rp 300 ribuan per harinya.
Ardiansyah memiliki tiga orang anak yang masih kecil. Paling besar berusia 7 tahun, kedua berusia lima tahun dan terakhir 4 bulan.
Karena Covid-19, ia terpaksa menitipkan dua anaknya ke rumah ibunya di Subang, Jawa Barat.
Sedangkan anaknya yang masih 4 bulan ikut bersamanya dan mertua di rumah kontrakan di kawasan Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan.
Bukan saja untuk biaya susu anak yang dikeluarkan, Ardiansyah juga harus membantu mertuanya bayar kontrakan per bulan Rp 700 ribu.
Selama Pandemi Covid-19, mereka jarang membayar penuh untuk biaya kontrakan per bulan.
"Ayah mertua kerja dagang bakso tapi kan juga masih sepi. Jadi bayar enggak full per bulan. Misal 50 persen dulu, sisanya nanti," ujarnya kepada TribunJakarta.com pada Kamis (10/9/2020).
Istrinya yang bekerja sebagai karyawan restoran juga membantu Ardi dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Namun, gajinya yang per bulan di bawah UMR terkena pemotongan akibat dampak Covid-19.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/faqih-dan-adriansyah.jpg)