Sisi Lain Metropolitan

Berhasil Rakit Dua Sepeda Listrik, Mudjahid Siap Buat Kanal Youtube

Berhasil rakit sepeda listrik, Mudjahid Roussteia (60) akan buat channel atau kanal Youtube.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Muhammad Zulfikar
(pixabay)
Ilustrasi youtube 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, PONDOK MELATI - Berhasil rakit sepeda listrik, Mudjahid Roussteia (60) akan buat channel atau kanal Youtube.

Baru-baru ini nama Mudjahid Roussteia malang melintang di sejumlah media massa.

Bapak satu anak ini mendadak viral sejak seminggu terakhir.

Kendati begitu, viralnya Mudjahid Roussteia lantaran hasil karyanya yang menghasilkan dua buah sepeda listrik.

Menariknya, satu diantara sepeda yang digunakan merupakan sepeda lama yang sudah jarang dipakai.

Namun, melalui tangannya, sepeda tersebut disulap menjadi sepeda listrik dengan kecepatan mencapai 60 km/jam.

Serta mampu menempuh jarak hingga 60 kilometer atau bertahan hingga 4 jam lamanya.

"Sejauh ini sudah hasilkan dua sepeda listrik. Sekali dicharger, listriknya hanya 25 watt. Biasanya 4 jam sudah penuh," katanya kepada TribunJakarta.com, Jumat (18/9/2020).

Menghasilkan suatu karya baru di usia senja, rupanya tak membuat Mudjahid Roussteia besar kepala.

Di tengah pandemi, dirinya masih ingin berbagi ilmu kepada masyarakat.

Terutama mereka yang terdampak pandemi Covid-19.

"Saya ingin bantu orang. Kalau berguna buat sesama insyaAllah baik. Biar enggak bisa bantu secara materi tapi ilmunya bisa dibagikan," jelasnya.

Nantinya, masyarakat yang ingin belajar bisa menyesuaikan waktu dengan Mudjahid Roussteia.

Selain itu, untuk ke depannya, ia berencana membuat chanel Youtube.

Di mana dalam video yang diunggahnya berisikan cara modifikasi sepeda tua dan baru menjadi sepeda listrik.

"Ke depannya saya mau buat Youtube. Jadi berhubung masih pandemi, demi kebaikan lebih baik saya buat itu. Jadi orang yang mau belajar bisa lihat caranya di chanel saya. Didoakan saja ya," jelasnya.

Awal mula pembuatan sepeda listrik

Mudjahid menceritakan, awalnya ia hanya menuruti permintaan salah seorang tetangganya.

Di mana tetangga tersebut memang dekat dan bisa dikatakan sudah tak muda lagi.

Namun, karena saat ini sedang tren sepeda, tetangganya dan sejumlah warga di lingkungan tempat tinggalnya menggeluti tren tersebut.

Sayangnya, akibat faktor usia, stamina tetangganya itu tak sekuat anak muda.

Hingga timbulah ide pembuatan sepeda listrik.

"Bisa ngga bikinin sepeda tenaga listrik?," ujar tetangganya.

"Ya sudah nanti tak bikinin," sahut Mudjahid tanpa pikir panjang.

"Awalnya percakapan seperti itu. Sebab istilahnya ketika gowes bareng yang muda, yang tua sulit mengimbangi dan cenderung mudah lelah. Makanya percakapan itu terjadi," jelasnya.

Akhirnya, sekitar Bulan April 2020, Mudjahid mencari perangkat dan peralatan pendukung untuk pembuatan sepeda listrik.

Dalam satu minggu pembuatan sepeda listrik, prosesnya sempat tak berjalan lancar.

Kesulitan demi kesulitan ditemui oleh Mudjahid.

"Setelah itu saya beli dinamo 250 dan 350 watt ternyata belum cocok. Sampai akhirnya pakai dinamo yang 1.000 watt baru cocok. Jadi kegagalan itu saya jadikan sebuah tantangan aja," ujarnya.

"Kemudian saya kumpulkan barang lainnya serta control speed untuk mengatur kecepatan sepeda listrik," jelasnya.

Menariknya, saat awal pembuatan sepeda listrik, Mudjahid justru menggunakan sepeda tua yang berusia puluhan tahun.

"Bisa dikatakan pembuatan awal sepeda listrik itu dari pemanfaatan barang bekas juga. Sebab, sebelum semua perlengkapan dibeli, saya pakai sepeda tetangga saya itu yang sudah lama enggak di pakai," jelasnya.

Selanjutnya, sepeda listrik pertama dengan kecepatan hingga 60km/jam kelar dikerjakan dalam kurun waktu satu minggu.

Kemudian disusul dengan sepeda listrik keduanya yang diberi nama special edition.

Putri Wapres Tanggapi Komisioner KPU Tangsel yang Urusi Pendaftaran Pilkada Saat Terinfeksi Covid-19

Dua Kelompok Pelajar Terlibat Tawuran di Bulak Kapal Bekasi

Persija Jakarta Siap Hadapi Lanjutan Kompetisi Liga 1 2020

Bukan lulusan elektro

Meski telah menghasilkan dua sepeda listrik, Mudjahid mengungkapkan bila ia bukanlah lulusan elektro.

Dirinya merupakan lulusan hukum pada tahun 1980-an.

Namun, kecintaannya pada dunia elektro dan listrik ini sudah muncul sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Kala itu, ia melihat kakaknya kerap membuat radio.

"Mulai dari situ saya banyak baca buku soal elektro. Selanjutnya pas SMA mulai berekperimen hingga akhirnya terjun di dunia kerja melamarnya di bagian IT," jelasnya.

Menurutnya, siapapun bisa berkarya dan menyukai hal-hal yang justru melenceng dari latar belakang pendidikannya.

Asalkan ditekuni, hal tersebut bisa menjadi karya dengan nilai belasan juta.

Cara pengoperasian sepeda listrik

Dari dua sepeda listrik yang dibuat oleh Mudjahid, dirinya membutuhkan biaya sekitar Rp 9 juta sampai Rp 10 juta.

Hal ini lantaran dinamo yang digunakan cukup mahal.

Selain itu, control speed hingga rem yang digunakan juga menambah biaya modal pembuatan.

"Ini aman, karena kita bisa atur kecepatan sepedanya. Serta remnya cakram. Sehingga aman," jelasnya.

Berikut cara menggunakan sepeda listrik rakitan Mudjahid:

1. Nyalakan listrik lebih dulu. Untuk hal ini menggunakan kunci yang ada di bawah jok sepeda.

2. Atur kecepatan pada control speed.
Pada tombol ini ada 6 speed. Di mana satu kotaknya akan bertambah 10 km/jam.

Sehingga bila Anda akan gowes santai, hanya perlu tekan menu S+ sampai terlihat satu atau dua kotak saja (kecepatan 10 km/jam atau 20 km/jam)

3. Tarik pedal gas perlahan. Pada tahap ini penggunaannya tak jauh berbeda seperti menarik pedal gas pada motor matic

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved