Banjir Kepung Jakarta
Ketua Pansus Banjir DPRD Sentil Pemprov DKI: Rencana Bagus Tapi Banjir Semakin Parah
Panitia Khusus (Pansus) Banjir DPRD DKI mengkritik kinerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menangani banjir.
Penulis: Muhammad Rizki Hidayat | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat
TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Panitia Khusus (Pansus) Banjir DPRD DKI mengkritik kinerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menangani banjir.
Menyoal ini, Pansus Banjir DPRD DKI menyentil Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta.
Ketua Pansus Banjir DPRD DKI, Zita Anjani, mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan Dinas Sumber Daya Air DKI pada rapat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda), kemarin (5/10/2020).
Menurut Zita, semua paparan yang dijelaskan pihak Dinas Sumber Daya Air telah didengarkan.
"Kami sudah dengar paparannya dari rencana jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang," kata DKI, Zita, Selasa (6/10/2020).
"Tapi dengan rencana yang ada, banjir di DKI semakin parah, itu yang ingin kami telusuri," lanjutnya.
Zita melanjutkan, Pansus Banjir DPRD DKI akan memfokuskan segi anggaran dan prioritas penanggulangan banjir lebih dulu.
Sebab, menurut dia, banjir Jakarta masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah.
Karenanya, Pansus DPRD DKI hingga kini masih mencari penyebab banjir di Jakarta
"Kami mau lihat sejauh mana implementasinya. Jangan sampai rencana bagus, tapi penerapannya belum maksimal," jelasnya.
"Temuan kelemahannya, akan jadi bahan rekomendasi dari kami untuk Pemprov DKI. Mungkin dari segi anggaran, SDM, atau hal yang lebih besar lagi," tutup Zita.
Petugas Damkar Selamatkan Bayi Prematur Saat Banjir
Dini hari sekira pukul 03.00 WIB pada Senin (5/10/2020), Kali Krukut tiba-tiba meluap akibat hujan deras.
Luapan air mulai memasuki permukiman warga di Jalan Kemang Selatan 12 RT 002 RW 007, Cilandak, Jakarta Selatan.
Permukiman warga tergenang mencapai sekira 1 meter.
Petugas Damkar beserta perangkat lingkungan lainnya terjun ke lokasi mencari warga yang hendak dievakuasi menggunakan perahu karet.
Pada evakuasi pertama, petugas berhasil mengangkut delapan orang warga karena rumah mereka terendam banjir.
Usai mengantarkan warga itu, evakuasi petugas ternyata belum usai.
Di lain kelompok, anggota damkar bernama Erik Sucipto, Wahyu Nugroho, Kupijar dan Slamet harus mengevakuasi bayi prematur yang terjebak banjir di rumah.
Aduan itu mereka dapatkan dari petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Cipete Selatan.
Udara dan air yang dingin tak membuat nyali mereka ciut demi menuntaskan sebuah kewajiban.
• Mogok Kerja Nasional, Ribuan Buruh Tangerang Blokade Jalan M Toha
• Mimpi Cerai dengan Istri Justru Pertanda Baik, Ini Artinya Menurut Primbon Jawa
Terkendala Gang Sempit
Bersama perahu karet mereka menyusuri permukiman warga.
Proses evakuasi tidak berjalan mulus.
Akses masuk permukiman warga yang berciri sempit menjadi kendala petugas.
Bayangkan, lebar perahu dan Gang Minatu RT 005 RW 001 hampir sama.
Tidak ada pilihan selain petugas untuk tetap memaksa masuk ke gang sempit itu.
Akses jalan yang berkelok-kelok pun dipersulit dengan banyaknya motor warga yang terparkir.
Menurut Erik Sucipto (30), saat menuju rumah korban, tinggi banjir hanya sepinggang sekira 80 sentimeter.
Begitu masuk ke dalam permukiman, banjir sudah sampai sedadanya.
Erik terpaksa membongkar jemuran milik warga yang menghalangi akses masuk.
Ketika di lokasi, ia sempat melihat betapa kecilnya bayi prematur yang tengah digendong sang ibu.
"Bayinya kecil banget, digendong sama ibunya,"
Erik dan anggota damkar lainnya berupaya agar bayi dan ibunya tidak basah.
Perahu didekatkan ke depan rumah itu.
"Ada empat orang yang naik perahu itu. Ibu, bayi, sama dua orang keluarganya. Kita antarkan sampai ke titik aman," lanjutnya.
Perahu karet berisi empat warga itu ditarik Petugas Damkar dari bawah seraya berjalan membelah air berwarna kecoklatan itu.
Akhirnya, bayi prematur yang sedang sakit itu dibawa dengan mobil pribadi sesampainya di titik aman.
Erik mengaku sempat khawatir ketika mengevakuasi bayi itu.
Soalnya, sang ibu juga merasa panik ketika harus menggendong dan naik ke perahu.
Namun, kekhawatirannya beringsut sirna.
"Ya senang bisa menyelamatkan bayi itu. Saya merasa puas," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/banjir-cawang.jpg)