Kunjungan Prabowo ke Pentagon Tuai Kontroversi, Media Amerika: Setelah 2 Dekade Dilarang Datang

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menghadiri pertemuan dengan sejumlah pejabat tinggi pemerintahan Amerika Serikat (AS), di Pentagon.

Tribunnews.com/Fahdi Fahlevi
Prabowo Subianto saat tiba di Polda Metro Jaya untuk menjenguk Eggi Sudjana dan Lieus Sungkharisma, Senin (20/5/2019) malam. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menghadiri pertemuan dengan sejumlah pejabat tinggi pemerintahan Amerika Serikat (AS), di Pentagon.

Kunjungan Prabowo tersebut rupanya menuai kontroversi di Amerika Serikat.

TONTON JUGA

Sejumlah organisasi pengawas hak asasi manusia (HAM) menyurati Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo untuk membatalkan pertemuan tersebut.

Surat desakan itu dilayangkan pada Selasa (13/10/2020) dan berisi informasi soal Prabowo yang diduga terlibat dalam pelanggaran HAM masa lalu.

"Kami menulis surat ini untuk menyampaikan kekhawatiran kami terhadap keputusan Departemen Luar Negeri AS yang memberikan visa kepada Prabowo Subianto,

untuk datang ke Washington D.C menemui Menteri Pertahanan Mark Esper dan Ketua Kepala Gabungan Staf AS Mark Milley pada tanggal 15 Oktober," ujar Koordinator Kontras Fatia Maulidiyanti dikutip dari surat yang dikirimkan ke Menlu AS, Kamis (15/10/2020).

Tak cuma itu, media Amerika Serikat The New York Times dalam artikelnya yang dimuat Rabu (14/10/2020) juga menyoroti kedatangan Prabowo Subianto.

Baca juga: Dituntut 6 Bulan Bui, Vanessa Angel Tatap Bayinya: Semoga Kami Gak Dipisahin Ya Allah, Aku Sedih

TONTON JUGA

Dikutip TribunJakarta.com dari YouTube Kompas TV, The New York Times menyebut selama dua dekade, Prabowo telah dilarang mengunjungi AS. Namun kini hal itu dicabut.

Pelarangan tersebut terjadi di masa Presiden Bill Clinton, George W. Bush hingga Barack Obama.

Menurut media itu ini membuktikan pentingnya Indonesia sebagai sekutu AS yang berpotensi penting melawan China, terutama di Laut China Selatan (LCS).

Namun di sisi lain, kata The New York Times ini menandakan degradasi hak asasi manusia ke masalah diplomatik kecil.

Baca juga: Indadari Muntah Darah Disebut Keluarga Kena Santet, Ditemukan Kafan Berisi Benda yang Bikin Ngeri

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved