Sosok Rangga ‘Pahlawan Ibu’ Asal Aceh, Psikolog: Karakter Menolong Orang dan Membela Kebenaran

Bocah malang ini nekat melawan Samsul yang hendak merudapaksa ibundanya

Penulis: Dwi Putra Kesuma | Editor: Erik Sinaga
ISTIMEWA
Ilustrasi Pembacokan 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS – Kisah haru datang dari Tanah Rencong. Seorang bocah berusia sembilan tahun bernama Rangga yang masih duduk di bangku sekolah dasar, tutup usia di tangan Samsul Bahri.

Diketahui, menggunakan tangan kosong, bocah malang ini nekat melawan Samsul yang hendak merudapaksa ibundanya tercinta.

Malang baginya, tubuhnya yang kecil tak mampu berbuat banyak setelah dihujani bacokan senjata tajam oleh pelaku, dan tewas seketika bersimbah darah di kediamannya pada Sabtu (10/10/2020) tepat satu pekan yang lalu.

Selesai menghabisi nyawa Rangga, pelaku pun langsung melancarkan aksi bejatnya kepada ibunda Rangga. Setelah itu, ia membungkus jasad bocah kecil ini menggunakan karung dan membuangnya ke aliran kali.

Namun tak berselang lama dari kejadian tersebut, polisi pun berhasil meringkus pelaku dan terpaksa harus melumpuhkannya menggunakan timah panas lantaran melawan dan mencoba melarikan diri ketika hendak diringkus.

Kejadian ini pun menyita jutaan perhatian publik. Warganet, menyebut bahwa almarhum Rangga merupakan sosok ‘pahlawan ibu’ dan berharap pelakunya mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya.

Lantas, bagaimana tanggapan mengenai sosok Rangga dari kacamata seorang psikolog.

Menanggapi kejadian naas ini, psikolog Universitas Pancasila (UP), Aully Grashinta, menjelaskan, apa yang dilakukan oleh Rangga merupakan sebuah perlawanan yang memerlukan keberanian besar.

“Sebenarnya tidak ada yang tahu apa sebenarnya terjadi pada hari itu. Yang pasti pada saat itu Rangga berada di tempat kejadian, dan berada pada situasi gawat,” ujar Aully dikonfirmasi wartawan, Sabtu (17/10/2020).

Menurut Aully, ketika itu almarhum Rangga paham bahwa dirinya sedang dalam posisi genting untuk menyelamatkan ibundanya tercinta, dan bentuk tindakan untuk menyelamatkan ibunya adalah dengan memberikan perlawanan terhadap pelaku.

“Ada dua hal yang dilakukan oleh seseorang yaitu fight atau flight. Nah yang dilakukan anak ini adalah fight. Untuk seseorang bisa fight memang perlu dorongan keberanian yang besar,” ungkapnya.

Lanjut Aully, keberanian yang dimiliki Rangga kemungkinan tak lepas dari pendidikan karakter yang diterimanya.

“Mengingat usianya yang masih kecil, hal ini menunjukkan bahwa dorongan keberanian dari anak ini cukup besar. Hal ini tentunya didasarkan pada pendidikan karakter yang diterimanya selama ini,” ucapnya.

Aully mengatakan, kemungkinan almarhum Rangga kerap mendapat pendidikan karakter dari ke-dua orang tuanya untuk menolong seseorang yang dalam kesulitan.

Tak hanya itu, kemungkinan pendidikan karakter Rangga semasa hidup lainnya yang tertanam dibenaknya adalah kebenaran harus dibela.

Baca juga: Ruko Perkantoran di Cilangkap Terbakar

Baca juga: Naik Motor Bonceng Tiga, Satu Orang Tewas di Jagakarsa gegara Tabrak Pohon

Baca juga: Penting untuk Wanita! Ini 7 Obat Tradisional yang Ampuh Mengatasi Nyeri Haid, Cuma Pakai Bumbu Dapur

Ke-dua pendidikan karakter ini, yang menurut Aully mendasari tindakan Rangga hingga berani melawan pelaku yang akan merudapaksa ibunya ketika itu.

“Misalnya keberanian, spontanitas menolong orang lain, membela yang benar, kemampuan pengambilan keputusan dan lainnya. Jadi ada dorongan yang kuat untuk membela orang yang disayanginya tanpa memikirkan keselamatannya sendiri,” pungkasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved