Menyeruput Kopi Sambil Menikmati Alam Terbuka Berprotokol Kesehatan di Bali

Di Gianyar, Bali, ada satu tempat kopi bernuansa alam bernama Kumulilir yang bisa dijadikan referensi bagi Anda yang ingin berlibur.

Penulis: Elga Hikari Putra | Editor: Wahyu Septiana
TribunJakarta/Elga Hikari Putra
Paket kopi yang disajikan di kedai kopi Kumulilir. 

Sebuah sertifikat verifikasi dari Dinas Pariwisata Pemkab Gianyar terpampang untuk lebih meyakinkan pengunjung bahwa tempat ini menerapkan protokol kesehatan.

Pengunjung harus berjalan beberapa ratus meter melewati sawah dan perkebunan untuk menuju tempat kopi.

Sebuah burung raksasa yang dibuat dari anyaman bambu berdiri tegak di tengah sawah. Menjadikan tempat favorit bagi pengunjung untuk berfoto.

Selama berjalan menuju lokasi ngopi, pengunjung juga akan dipandu melihat-lihat penyajian kopi luwak, mulai dari proses pakan hewan luwak, penjemuran biji kopi hingga menumbuk dan menyangrai biji kopi yang berasal dari luwak.

Seekor luwak yang menghasilkan biji kopi di tempat ini memang berada di dalam kandang.Makanan bagi hewan itu pun juga tersedia di kebun area Kumulilir.

Setelah melihat penyajian kopi, wisatawan dapat memesan berbagai jenis kopi. 

Paket kopi yang disajikan di kedai kopi Kumulilir.
Paket kopi yang disajikan di kedai kopi Kumulilir. (TribunJakarta/Elga Hikari Putra)

Ada paket sampel 10 jenis kopi dan teh yang ditawarkan Kedai Kopi Kumulilir seharga Rp 50 ribu.

Di paket itu pengunjung dapat menjajal mulai dari teh rosela, teh jahe, teh kunyit, kopi asli Bali, kopi vanila, cokelat asli dan berbagai jenis teh dan kopi lainnya.

Jika mau lebih spesial lagi, pengunjung dapat memesan satu cangkir Kopi luwak yang dihargai Rp70 ribu percangkir.

"Yang favorit memang kopi Bali dan kopi luwak," ujar Nyoman Deyana, pemilik kedai kopi Kumulilir, Sabtu (7/11/2020).

Situasi Saat Pandemi

Selain penerapan cek suhu dan cuci tangan di pintu masuk, penerapan protokol kesehatan juga dilakukan di lokasi ngopi yang berada di ketinggian.

Saat berjalan menuju tempat ngopi, pengunjung bisa melihat proses pembuatan kopi.
Saat berjalan menuju tempat ngopi, pengunjung bisa melihat proses pembuatan kopi. (TribunJakarta/Elga Hikari Putra)

Kursi yang ada disana dibuat berjarak dan dikurangi kapasitasnya.

Nyoman mengatakan, pandemi Covid-19 membuat usahanya terdampak begitu besar bahkan sempat tutup beberapa bulan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved