Peran TCEC Serangan dalam Menjaga Populasi Penyu dan Upacara Keagamaan di Bali  

Sejak beberapa tahun terakhir, TCEC Serangan jugalah yang menyuplai kebutuhan penyu kegiatan keagamaan di Bali.

Penulis: Elga H Putra | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Elga Hikari Putra
Penyu yang dikonservasi di TCEC Serangan, Bali. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Elga Hikari Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, DENPASAR - Penyu menjadi hewan yang diperlukan dalam upacara keagamaan umat Hindu di Bali.

Namun di satu sisi, hewan tersebut dilindungi negara karena populasinya yang semakin berkurang.

Di Indonesia memang salah satu negara yang masih ditemukan penyu.

Enam dari tujuh spesies penyu di dunia ada di Indonesia.

Demi menjaga keseimbangan antara kegunaan penyu dalam kegiatan keagamaan dan keseimbangan populasi penyu, Made Sukanta bersama sejumlah relawan di Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu atau Turtle Conservation and Education Center (TCEC) di Pantai Serangan, Denpasar, Bali terus bergerak melakukan edukasi dan pembesaran penyu.

Penyu yang dikonservasi di TCEC Serangan, Bali.
Penyu yang dikonservasi di TCEC Serangan, Bali. (TribunJakarta/Elga Hikari Putra)

Sejak beberapa tahun terakhir, TCEC Serangan jugalah yang menyuplai kebutuhan penyu kegiatan keagamaan di Bali.

"Kami yang menyediakan penyunya bukan mengambil di alam, tapi dari hasil pembesaran. Misalnya kami memiliki induk dari 100 butir telur yang menetas, 95 kita lepas, 5 kita sisihkan untuk upacara," kata Made saat menjelaskan peran TCEC Serangan, Minggu (9/11/2020).

Semua itu dilakukan setelah BKSDA Bali bersama WWF berunding dengan para pemuka agama di Bali hingga tercapai titik temu agar kepentingan keagamaan dan hukum nasional tak saling bertubrukan.

"Jadi untuk kelangsungan hidup tetap berjalan dan upacara juga berjalan," katanya.

Saat ini, ada tiga tiga jenis penyu yang dikonservasi di Pulau Serangan dengan total keseluruhan ada 30 ekor untuk penyu remaja dan dewasa serta 50 ekor tukik atau anak penyu.

Untuk tukik sendiri dilepas di sejumlah pantai di Bali maksimal saat mereka berusia satu hari.

"Hal itu agar insting bertahan hidup dia tetap terjaga," ucap Made.

Adapun dari 30 ekor penyu dewasa dan remaja yang ditampung di TCEC Serangan karena beberapa alasan. Mayoritas karena kondisi kondisi penyu yang cacat dan sakit sehingga tak memungkinkan untuk dilepaskan ke alam.

Beberapa contohnya, seekor penyu berukuran besar yang berusia sekitar 30 tahun harus diamputasi kaki atau flippernya.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved