Moms, Kenali Perbedaan Antara Stres dan Burnout Menurut Psikolog
Di masa pandemi Covid-19, para ibu rentan mengalami stres. Ini cara membedakan stres dan burnout menurut psikolog.
Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Di masa pandemi Covid-19, para ibu rentan mengalami stres.
Selain dipusingkan dengan urusan ekonomi yang mungkin merosot dan banyak menghabiskan waktu di rumah, Moms juga harus ekstra sabar karena mengajari anak-anak sendirian di rumah.
Istilah burnout pun kian populer belakangan ini. Lalu apa bedanya dengan stres?
Psikolog dari TigaGenerasi, Putu Andani, M.Psi menuturkan, bahwa stres, burnout, dan depresi merupakan masalah yang memiliki tingkatan berbeda.
Menurut Putu, burnout masuk ke dalam masalah yang lebih kritis ketimbang hanya stres biasa.
"Burn out ini ada ditengah-tengah antara stres dan depresi. Ini titik yang lumayan kritis, maksudnya kalau kita bisa meregulasi dengan baik itu kurang lebih akan membuat kita menjadi lebih kuat," kata Putu dalam diskusi Peran Ibu di Masa Pandemi dan Tantangan di Tahun 2021 bersama Babe, Rabu (16/12/2020).
Dalam tingkatannya, kata Putu stres berada pada level paling awal.
Kemudian, setelah itu tingkatan kedua, barulah burnout dan yang paling parah ada level ke tiga yang berujung pada depresi.
Untuk membedakan antara stres dan burnout, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan.
"Yakni kelelahan secara mental. Kalau stres itu cenderung lebih singkat," imbuhnya.
Burnout, ditandai dengan rasa kelelahan yang luar biasa secara mental. Dampaknya, bisa menimbulkan jarak antara orangtua dengan anak.
Misalnya, merasa lelah berlebih dan butuh istirahat akhirnya orangtua hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari anak hanya secara tanggung jawab saja.
Seperti sebuah pekerjaan yang memang harus dikerjakan, tanpa adanya ikatan emosional.
"Akhirnya apa? Perasaan itu jadi gak ada. Ini yang disebut dengan parental burnout," tuturnya.
Jika sudah terjadi, apa yang perlu dilakukan?
Menurut Putu, setiap orangtua yang mulai berasakan burnout wajib untuk segera pergi beristirahat dari rutinitas sejenak.
Ceritakan mengenai apa yang dirasakan bersama orang-orang terdekat untuk membangun suasana yang positif.
Misalnya kepada pasangan, atau kepada sahabat.
Setelah itu Anda bisa meregulasi diri hingga mampu memberikan afirmasi yang positif terhadap diri sendiri.
Baca juga: Pandemi Covid-19, Wagub DKI Tegaskan Tak Anggarkan Acara Malam Tahun Baru
Baca juga: Atasi Tekanan Darah Tinggi dengan Cara Alami Tanpa Obat, Misalnya Lakukan Manajemen Stres
"Jadi kita ibu-ibu biasanya melakukan sesuatu gagal dan stres. Padahal kalau kita inget ini kan pertama kali kita coba lho. Jadi afirmasi positifnya misalnya adalah bilang ke diri kita kalau gagal ini baru pertama. Jadi ada afirmasi-afirmasi positif yang kita berikan ke diri kita," kata Putu.
"Setelah itu evaluasi. Sudah tenang nih, sudah break, udah cerita, lalu kita evaluasinya adalah jadi rutinitasnya harus seperti apa sih? jadi apakah ada standar yang harus di turunkan? Jangan-jangan harus ada standar yang harus diturunkan. Nah kalau hal ini sudah dilakukan sebisa mungkin tapi masih terjadi, segera kontak ahli," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/stres_20180215_182820.jpg)