Perajin Tempe dan Tahu Prediksi Harga Kedelai Terus Naik Hingga Akhir Februari
Naiknya harga kedelai dari Rp 7.200 ke Rp 9.200 per kilogram yang membuat pedagang tempe tahu mogok sebagai bentuk protes
Penulis: Bima Putra | Editor: Wahyu Aji
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra
TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Naiknya harga kedelai dari Rp 7.200 ke Rp 9.200 per kilogram yang membuat pedagang tempe tahu mogok sebagai bentuk protes pada 1-3 Januari 2021.
Namun kenaikan harga imbas China meningkatkan impor ke Amerika Serikat sebagai satu negara produsen kedelai terbesar di dunia itu diprediksi belum berakhir.
Ketua Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta, Sutaryo memprediksi harga kedelai global terus naik hingga akhir Februari 2021.
"Karena awal Maret China sudah mengalihkan pembelian (kedelai) ke Brazil. Brazil nanti Maret baru panen, jadi sampai akhir Februari kemungkinan terus naik," kata Sutaryo saat dikonfirmasi di Jakarta Timur, Minggu (3/1/2021).
Menurutnya ada empat negara produsen kedelai yang menyuplai pasokan 95 persen kedelai secara global, yakni Amerika, Brazil, Argentina, dan Kanada.
Namun dari empat negara kualitas kedelai Amerika Serikat paling cocok secara global, dia mencontohkan kedelai Argentina yang kurang cocok untuk produksi tempe.
"Saya prediksi sebelum China beralih (impor) pasaran dunia enggak akan turun, bisa naik lagi. Karena secara logika bisnis barang laris masa enggak naikin. Kalau secara matematis kenaikan (kedelai) akan tembus Rp 10 ribu (per kilogram)," ujarnya.
Pun nantinya harga kedelai global bakal turun, Sutaryo memprediksi butuh waktu sedikitnya dua bulan setelah China mengalihkan pembelian dari Amerika.
Mengacu kenaikan harga kedelai global secara derastis pada tahun-tahun sebelumnya, dia mengaku pesimis harga kembali stabil di Rp 7.000 per kilogram.
"Perkiraan di atas Rp 8.000, walaupun dalam posisi China sudah beralih. Butuh beberapa bulan untuk turun, bisa dua sampai empat bulan baru turun harganya," tuturnya.
Sutaryo menyebut kenaikan harga kedelai di Indonesia karena hingga kini pemerintah tidak memiliki ketahanan pangan dalam produksi kedelai.
Program swasembada kedelai yang dicanangkan pemerintah Indonesia sejak tahun 2006 tak terealisasi sehingga Indonesia menuruti harga global.
"Pemerintah cenderung keenakan impor. Padahal begitu terjadi gejolak seperti ini enggak ada daya tahan. Kalau dibilang kedelai lokal enggak cocok dibikin tempe, kan biar dibagi saja," lanjut Sutaryo.
Menurutnya pemerintah tak serius mewujudkan swasembada karena dalih kedelai lokal tidak cocok dijadikan bahan baku tempe, lebih cocok untuk tahu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/presiden-jokowi-di-pasar-bogor_20181031_192951.jpg)