Breaking News:

Apa itu Bitcoin yang Harganya Melonjak Tinggi Usai Diborong Tesla, Apakah Alat Judi?

Harga bitcoin kini melonjak tinggi, lalu apa itu bitcoin? Apakah bitcoin alat judi? Bitcoin adalah mata uang.

TRIBUNNEWS.COM
Ilustrasi bitcoin. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Harga bitcoin kini melonjak tinggi, lalu apa itu bitcoin? Apakah bitcoin alat judi?

Investor ternama dunia, Warren Buffett menyebut bitcoin adalah alat judi, simak alasannya di artikel ini.

Sebelumnya, perusahaan mobil listrik, Tesla pada Senin (8/2/2021) waktu Amerika Serikat mengumumkan telah membeli bitcoin sebesar 1,5 miliar dollar AS.

Jumlah tersebut setara dengan Rp 21 triliun (kurs RP 14.000).

Langkah Tesla tersebut mendorong harga bitcoin menyentuh angka 44.200 dollar AS atau Rp 618,8 juta.

TONTON JUGA:

Selain itu, harga saham Tesla pun melonjak lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin pagi.

Dilansir dari CNBC, Selasa (9/2/2021) dalam sebuah dokumen yang diajukan kepada Komisi Sekuritas dan Perdagangan (SEC), perusahaan mengatakan telah membei bitcoin untuk melakukan diversifikasi dan membuat aset perusahaan lebih fleksibel.

Ramalan Shio Untuk Hari Rabu 9 Februari 2021 Besok, Ada 6 Shio Hoki dan 6 Shio Ciong

Beredar Kabar Ustaz Maheer At-Thuwailibi Meninggal Karena Disiksa, Begini Respon Keluarga

Perselingkuhan James Konjongian dan Angel Sepang, Michaela Paruntu Memaafkan Meski Labrak 3 Kali

BLT Subsidi Gaji Rp 2,4 Juta Bakal Diganti, Karyawan Swasta Bisa Dapat Rp 3,5 Juta, Ini Syaratnya

Di dalam dokumen yang diajukan ke SEC tersebut, Telsa pun memberi peringatan kepada investor mengenai volatilitas dari bitcoin.

Selain itu, perusahaan juga mengatakan pembelian mata uang kripto tersebut dilakukan untuk memaksimalkan imbal hasil uang tunai yang mereka miliki.

Tesla pun mengatakan, perusahaan juga mulai menerima pembayaran dan transaksi dengan bitcoin untuk produk mereka. Namun demikian, hal itu hanya dilakukan untuk produk-produk tertentu.

Dengan demikian, Tesla menjadi produsen mobil pertama yang menerima pembayaran dengan bitcoin.

Bitcoin senilai Rp 21 triliun yang perusahaan miliki akan memberikan likuiditas bila Tesla mulai menerima pembayaran dengan mata uang kripto.

Sebelumnya, CEO Tesla Elon Musk kerap disorot lantaran berkontribusi terhadap kenaikan harga mata uang kripto, mulai dari bitcoin hingga bitcoin. Melalui akun Twitter, Musk kerap mengunggah pesan positif terkait mata uang kripto dan mendorong lebih banyak orang untuk berinvestasi melalui mata uang digital tersebut.

Dua pekan lalu, miliarder tersebut bahkan menambahkan tagar #bitcoin di bio Twitternya. Langkah Musk tersebut membuat harga bitcoin melambung hingga 20 persen.

Lalu apa itu bitcoin?

Cryptocurrency atau mata uang kripto perlahan tapi pasti mulai dikenal oleh sebagian investor di Indonesia, baik dengan modal besar ataupun pas-pasan. 

Mata uang kripto layaknya bitcoin sendiri merupakan satu di antara aset digital yang nilainya bisa naik dan turun menyesuaikan arah dolar Amerika Serikat (AS). 

"Aset crypto yang sekarang kan dibandingkan dengan dolar AS. Jadi, segala sesuatu yang berkaitan dengan dolar AS akan mempengaruhi pergerakan harga," ujar Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra melalui pesan singkat kepada Tribunnews, Senin (25/1/2021).

Ilustrasi bitcoin.
Ilustrasi bitcoin. (TRIBUNNEWS.COM)

Selain itu, Ariston menjelaskan, cryptocurrency sebagai aset digital juga ada persoalan menyangkut pasokan atau supply. 

"Supply seperti bitcoin yang memberlakukan halving atau pengurangan (setengah) produksi," katanya. 

Di sisi lain, dia menambahkan, mata uang digital lain yakni e-renminbi dikeluarkan dan diawasi oleh bank sentral di Negeri Tirai Bambu. 

Sama halnya jika nanti Indonesia memiliki mata uang digital bernama e-rupiah maka pengawasannya dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). 

"Kalau aset crypto, pihak swasta. Kalau e-rupiah ini ranahnya BI," pungkas Ariston.

Apakah bitcoin alat judi?

Investor ternama dunia, Warren Buffett, tidak menyukai Bitcoin. Faktanya, dia tidak menyukai cryptocurrency atau mata uang kripto.

Dia menggambarkannya sebagai "racun tikus", "fatamorgana", dan "alat judi".

Dia tidak sendiri. Mitra dekatnya Charlie Munger memberi label Bitcoin sebagai "demensia," membandingkannya dengan "perdagangan kotoran".

Melansir The Motley Fool, jika Anda menyukai mata uang kripto seperti Bitcoin, Anda mungkin memutar mata saat mendengar pernyataan Warren Buffett.

Investor tua seperti Warren Buffett sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. 

Tapi ini masalahnya: mungkinkah Anda salah?

Jangan marah karena Warren Buffett membenci mata uang kripto.

Dari sudut pandangnya, dia memiliki beberapa poin yang solid.

The Motley Fool menulis, Warren Buffett jarang berinvestasi dalam aset yang tidak produktif, dan menganggap spekulasi Bitcoin bukanlah investasi.

Warren Buffett sangat peduli dengan reputasinya, dan hanya berinvestasi pada apa yang dia ketahui.

Warren Buffett memang memiliki beberapa poin yang kredibel. Pertama, Bitcoin masih sangat spekulatif, meski juga sangat menjanjikan.

Itu tidak menghasilkan apa pun yang bernilai nyata, selain dari lebih banyak Bitcoin.

Bitcoin, menurut Warren Buffett, penuh dengan aktivitas kriminal dan jahat meskipun semakin sering digunakan untuk transaksi yang sah.

Dan terlepas dari popularitasnya, hanya sedikit orang yang dapat menjelaskan cara kerjanya.

Meski mempertimbangkan semua itu, dia masih salah meragukan cryptocurrency.

Warren Buffett juga bisa salah

Warren Buffett menjadi orang pertama yang mengakui bahwa dia pernah salah dalam berinvestasi di masa lalu.

Setelah menyebut maskapai penerbangan seperti Air Canada sebagai "jenis bisnis terburuk," dia menanamkan miliaran ke dalam industri penerbangan untuk menjadi pemegang saham teratas di empat maskapai berbeda. 

Kemudian, setelah mengatakan emas tidak memiliki kegunaan, dia menjadi investor utama di salah satu penambang emas terbaik dunia.

Pelajarannya sederhana: terkadang orang berubah pikiran. 

The Motley Fool menjelaskan, pelajaran ini juga berlaku untuk Bitcoin.

"Karena ukuran pasar mereka relatif kecil, ada kemungkinan Bitcoin dan pesaingnya dapat memenuhi kebutuhan yang berkembang itu," kata investor legendaris Ray Dalio, kepala hedge fund terbesar di dunia seperti yang dikutip The Motley Fool.

Dia menambahkan, “Bagi saya, Bitcoin telah berhasil melewati batas dari ide yang sangat spekulatif yang mungkin tidak akan ada dalam waktu singkat menjadi mungkin ada dan mungkin memiliki nilai di masa depan."

Editor: Suharno
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved