Rayakan Imlek di Jakarta, Ini Cerita Umat Islam Keturunan Tionghoa: Toleransi Mempersatukan Kami
Sejak kecil, Ratu diajarkan bertoleransi di lingkungan keluarganya. Beberapa keluarganya yang keturunan Tionghoa menganut agama Buddha dan Kristen.
Penulis: Muhammad Rizki Hidayat | Editor: Wahyu Septiana
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat
TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Ratu, seorang perempuan ini merupakan keturunan Tionghoa yang beragama Islam.
Darah Tionghoa ini didapatkan dari sang ibu tercintanya.
Sejak kecil, Ratu diajarkan bertoleransi di lingkungan keluarganya.
Sebab, tak semua keluarga Ratu beragama Muslim.
Beberapa keluarganya yang keturunan Tionghoa menganut agama Buddha dan Kristen.
Saat perayaan imlek, tentu saja keluarga besarnya berkumpul.
• Polisi Akan Gelar Rekonstruksi Penusukan Anak Buah Anies, Plt Kadis Parekaf DKI Gumilar Ekalaya
"Kalau perayaan imlek kayak begini, biasanya memang keluarga besar saya berkumpul di rumah yang dihuni tertua di keluarga kami," kata Ratu, saat dihubungi TribunJakarta.com, di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Jumat (12/2/2021).
"Di sana, kami biasanya disuguhkan makanan yang enak-enak," lanjutnya.
Ratu bercerita, keluarganya yang beragama Buddha tentu saja tidak memakan daging.
"Jadi keluarga saya yang Buddha hanya makan sayur-sayuran dan buah-buahan," jelas Ratu.
Keluarga Ratu yang beragama Kristen, membawa masakannya dari rumah masing-masing berupa daging bebek panggang.
• Rawan Ular Masuk Rumah saat Musim Hujan, Simak 6 Cara untuk Mencegahnya
"Nah, toleransi di keluarga saya memang begitu. Punya keluarga berbeda keyakinan justru mempersatukan kekeluargaan lebih erat," tutur Ratu.
"Kami saling menghargai satu dengan lainnya. Alhamdulillah selalu harmonis sejak dulu," tutup Ratu.