Breaking News:

Mantan Dirut Garuda Indonesia Ari Askhara Tidak Ditahan Selama Proses Sidang: Ini Penjelasan Jaksa

Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara alias Ari Askhara tidak ditahan selama proses persidanganya

Penulis: Ega Alfreda
Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Ega Alfreda
Mantan Direktur Utama Maskapai Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara alias Ari Askhara menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Tangerang pada Senin (15/2/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara alias Ari Askhara tidak ditahan selama proses persidanganya di Pengadilan Negeri Tangerang.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ari bersama mantan Direktur Operasional Garuda Indonesia Iwan Joeniarto menjalani sidang perdana di ruang 4 Pengadilan Negeri Tangerang, Senin (15/2/2021).

Dari pantauan langsung di ruang 4 Pengadilan Negeri Tangerang, keduanya dihadirkan secara langsung untuk mendengarkan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), Pantono.

Sidang berlangsung selama sekira 120 menit yang dipimpin langsung oleh Hakim Ketua Nelson Panjaitan.

Ari dan Iwan pun tampak tidak menggunakan rompi tahanan seperti terdakwa lainnya melainkan mengenakan kemeja batik lengan panjang super rapi.

Iwan menggunakan kemeja batik lengan panjang berwarna kebiruan, sementara Ari mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna cokelat mewah.

Dari informasi di lapangan mengatakan bahwa keduanya ternyata tidak ditahan selama proses persidangan.

Kasie Intel Kejaksaan Negeri Kota Tangerang, R Bayu Probo Sutopo menjelaskan, alasannya adalah perihal pemeriksaan penerbangan lantaran keduanya mantan pejabat di maskapai pelat merah, Garuda Indonesia.

"Pertimbangan tidak ditahan itu berdasarkan hasil pemeriksaan. Ada beberapa pertimbangan, dalam hal ini (mereka) masih dibutuhkan terkait dengan kegiatan yang ada di penerbangan," jelas Bayu di Kejari Kota Tangerang, Senin (15/2/2021).

Sebab, ia mengklaim kalau penyelidikan tersebut demi kepentingan negara lantaran melibatkan proses penerbangan antara negara.

Kendati demikian, Bayu menekankan kalau proses penyelidikan terus dipantau langsung oleh Kejati Banten.

"Karena sejak awal, penelitian berkas perkara jaksa dari Kejati Banten sudah mengikuti perkembangannya," sambungnya.

Sebagai informasi, Ari dan Iwan didakwa pasal berlapis setelah terseret kasus penyelundupan beberapa unit Harley Davidson dan sepeda Brompton.

Bayu Probo Sutopo menjelaskan kalau Ari dan Iwan didakwa tiga pasal sekaligus.

"Pertama Pasal 102 Huruf E Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Kepabeanan. Kedua pasal 102 Huruf H dan ketiga Pasal 103 Huruf A," ungkap Bayu di kantornya.

Keduanya pun diancam hukuman penjara minimal satu tahun dan paling lama 10 tahun.

Tak hanya itu, Ari dan Iwan juga dikenakan sanksi uang minimal sebesar Rp 50 juta dan maksimal Rp 5 miliar.

"Itu (ancaman hukuman) untuk keduanya (Ari dan Iwan). Rencana sidang ditunda hari Kamis dengan agenda pembacaan eksepsi dari para terdakwa," ucap Bayu.

Kuasa hukum dari Ari, Arvin juga pelit omongan soal proses sidang perdana kliennya.

"Ya pokoknya kita ikuti dan hormati proses hukum yang berlaku ya. Itu saja ya teman-teman," singkat Arvin.

Baca juga: 698 Tenaga Kesehatan di Kecamatan Cilincing Telah Divaksin Covid-19

Baca juga: Maharkan Diri, Gembong Optimis ITB Naik Peringkat Hingga Hunian Dosen Terpenuhi

Baca juga: Wagub DKI Klaim Berhasil Tangani Covid-19: Lihat Angkanya, Kesembuhan 90 Persen, Kematian 1,6 Persen

awal mula Ari Askhara dan Iwan Joeniarto terlibat dalam kasus kepabeanan dan penyelunduban tersebut adalah saat pesawat baru yang dibeli PT Garuda Indonesia mendarat di hanggar milik PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten.

Petugas Bea dan Cukai menemukan sejumlah barang mewah di lambung pesawat dengan nomor penerbangan GA9721 jenis Airbus A330-900.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved