Sisi Lain Metropolitan

Kisah Sang Pelukis Senior, Hartono Ungkap Alasan Tak Pernah Torehkan Namanya di Spanduk Pecel Lele

Pelukis spanduk pecel lele senior, Hartono (51) enggan menaruhkan namanya di setiap spanduk yang selesai dilukisnya.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Sosok Hartono, pelukis Spanduk Pecel Lele saat ditemui di kontrakannya di kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Bekasi pada Sabtu (20/2/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Pelukis spanduk pecel lele senior, Hartono (51) enggan menaruhkan namanya di setiap spanduk yang selesai dilukisnya.

Tak seperti pelukis tersohor yang biasa membubuhkan tanda di tepi lukisan, sang maestro pelukis spanduk pecel lele ini hanya menyelesaikan karyanya sesuai pesanan pelanggan.

Hartono beralasan agar pelanggannya merasa nyaman.

Soalnya, banyak dari penjual pecel lele yang tidak mau ada namanya.

"Karya saya enggak saya beri nama karena orang lamongan itu kadang-kadang enggak mau terus terang. Misalkan penjual A punya nomer kontak saya, terus penjual B kepingin bikin spanduk itu, si A enggak bakal kasih tahu. Mungkin takut tersaingi. Akhirnya saya simpulkan percuma kasih tanda," ujarnya kepada TribunJakarta.com.

Lagi pula, tanpa ada namanya, pesanan spanduk dari penjual pecel lele terus berdatangan. Bahkan, di masa pandemi pun tak sedikit yang pesan.

Ini Cerita Hartono, Pelukis Spanduk Pecel Lele

Sebagian besar spanduk pecel lele karya Hartono (51) telah menginvasi berbagai daerah di Indonesia, bahkan sampai ke ujung Papua.

Dari sebuah rumah kontrakan sederhana seluas 3 x 12 meter, pria asal Desa Ngayung, Maduran, Jawa Timur itu telah menelurkan sekitar 4.000-an karya spanduk lukisan pecel lele.

Jumlah pengusaha pecel lele yang mengandalkan jasa lukisnya pun kian bertambah.

Hartono terlihat santai duduk di depan laptop sambil melihat-lihat desain spanduk pecel lele di rumah kontrakannya di kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Bekasi.

Hari itu, pada Sabtu (20/2/2021) ia tampak senggang. Bila sedang ada pesanan, Hartono enggan menerima tamu lantaran waktunya banyak tercurahkan untuk menyablon dan melukis spanduk.

Hartono sedang melukis spanduk pecel lele di rumah kontrakannya Kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Bekasi pada Senin (22/2/2021).
Hartono sedang melukis spanduk pecel lele di rumah kontrakannya Kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Bekasi pada Senin (22/2/2021). (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)

"Kalau saya ada tamu, biasanya saya cari waktu saat tidak sedang membuat spanduk. Soalnya, akan memakan waktu lama," ujarnya sambil menghembuskan asap rokok.

Hartono bercerita tentang masa lalunya saat merantau ke Jakarta pada tahun 1992. Ia tak langsung menjadi seorang pelukis spanduk pecel lele kala itu.

Ia bekerja ikut adik sepupunya yang membuka usaha warung sea food di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Hartono, yang saat itu masih bujang, juga menyambi pekerjaan lain ketika sedang tidak bekerja di tempat sepupunya itu. 

Siang hari ia berada di Depok untuk mengais rezeki tambahan sedangkan malam harinya bekerja di warung sea food.

"Dari tahun 1992 sampai 1997 itu saya mondar-mandir Depok ke Pondok Pinang. Di Depok saya pernah jadi tukang minyak dan tukang buah. Malam bantuin saudara, siang dorong minyak atau jual buah dingin," ungkapnya.

Pada tahun 1997, ia memutuskan untuk berhenti ikut saudaranya. Hartono kemudian membuat usaha warung pecel lele sendiri.

Namun, ia membutuhkan spanduk untuk warungnya. Hartono kemudian meminta tolong kepada temannya Teguh (51) di kampung.

Sesampainya di kampung, Teguh malah tak berkenan membuatkan spanduk pesanan dari teman dekatnya itu.

Ia malah menyarankan Hartono untuk membuat sendiri. Padahal, Teguh lah yang lebih dulu memulai usaha jasa lukis spanduk pecel lele.

Sosok Hartono, pelukis spanduk pecel lele sedang memegang cetakan kardus berbentuk hewan untuk dilukis di spanduk pada Sabtu (20/2021).
Sosok Hartono, pelukis spanduk pecel lele sedang memegang cetakan kardus berbentuk hewan untuk dilukis di spanduk pada Sabtu (20/2021). (TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS)

Hartono menyangka Teguh tak ingin membantunya lantaran ia bisa melakukannya sendiri.

"Mungkin saya dulu juara Kabupaten, ngapain meminta bantuan. Jadi dia itu agak enggak enak," ceritanya.

Bila ditarik kembali ke masa kecilnya, Hartono dan Teguh merupakan teman satu SMP. Semasa sekolah itu, mereka berdua dikenal pintar melukis.

Hartono mengakui Teguh jago dalam melukis. Ia sempat menyabet juara Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) tingkat Kabupaten dari tingkat SD sampai SMP.

Ketika masuk SMA, mereka berpisah. Namun, Hartono dan Teguh bertemu di sebuah kompetisi lukis antar sekolah tingkat kecamatan. 

Hartono pun berhasil menyabet juara pertama dan Teguh juara dua. Karena bakat dan prestasi ini yang barangkali Teguh menolak tawaran Hartono

Teguh hanya menjelaskan cat-cat yang digunakan dan menyarankan Hartono untuk membuat sendiri.

Ternyata, hasil karya Hartono untuk usahanya sendiri menarik perhatian temannya di Paguyuban Keluarga Besar Ngayung (PKBN) Jabodetabek.

Ia disarankan untuk menjual jasa lukisnya kepada penjual pecel lele lainnya.

Selama berjualan pecel lele, Hartono juga terkadang melayani pesanan melukis spanduk pecel lele.

Total Melukis Spanduk

Pada tahun 2008, Hartono memutuskan untuk 'gantung wajan' dan beralih total menggeluti usaha jasa lukis spanduk pecel lele.

Sewa tempat yang mahal dan kewajiban mencukupi kebutuhan hidup dua anak buahnya menjadi pertimbangan Hartono untuk berhenti.

Ia beberapa kali pindah lapak warung pecel lele. Setiap pindah, usahanya seakan kembali dari nol.

"Ketika kita geser tempat, itu nanti kita dari awal lagi seperti kembali ke titik nol," lanjutnya.

Ia juga memberanikan diri terjun di dunia lukis spanduk karena sudah banyak penjual pecel lele yang mengetahui keahliannya.

Bersama istrinya, Sriningsih (47), Hartono mulai merintis usaha tersebut. 

Spanduk dibuat dengan dua teknik, sablon dan lukis. Teknik sablon untuk mencetak huruf sedangkan gambar-gambar hewan dilukis dengan cat.

Teknik melukis Hartono belajar secara otodidak. Ia sering melakukan survey ke berbagai spanduk pecel lele. Setelah itu, ia pelajari bentuk tulisan dan gambarnya.

Rata-rata spanduk pecel lele hanya awet selama dua tahun. Lebih dari itu biasanya sudah rusak dan kusam.

Menurut Hartono, yang belajar dari pengalamannya berdagang, penjual pecel lele biasanya menyimpan spanduk ala kadarnya saja. Padahal, spanduk itu penting untuk sebuah jenama usaha.

"Ketika udah malam kan capek. Jadi kadang-kadang main gulung aja. Diikatnya asal-asalan. Akhirnya besok jamuran, kalau termasuk orang yang rajin setelah kehujanan sarungnya itu direndam di bak dan dijemur," jelasnya.

Hartono (51), sosok pelukis spanduk pecel lele di rumah kontrakannya di kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Bekasi pada Senin (22/2/2021).
Hartono (51), sosok pelukis spanduk pecel lele di rumah kontrakannya di kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Bekasi pada Senin (22/2/2021). (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)

Ia juga menggunakan cat berwarna 'ngejreng' untuk warna tulisan dan gambar di spanduk agar terlihat mencolok dan menyala di malam hari.

Soal warna ini, lanjut Hartono, sebagian besar pelukis pecel lele asal Lamongan memakai pakem ini.

"Kalau kita pakai warna standar saja itu tidak menyala kalau malam. Untuk mengakalinya pakai warna terang. Kena lampu warung itu jadi terang. Di pinggir spanduk dikasih kain lis dengan warna stabilo agar terlihat kontras juga," lanjutnya.

Sudah Lukis 4.000-an

Sejak 2008 hingga sekarang, Hartono sudah melukis sekitar 4.427 spanduk dengan beragam ukuran.

Ia selalu mencatat order yang masuk di sebuah buku panjang sejak 2008. 

Kebanyakan pelanggannya datang dari penjual pecel lele. Hanya beberapa saja yang berasal dari penjual sea food dan lainnya. 

Soal harga, ia mematok Rp 130 ribu per meter. Spanduk yang dipesan pun beragam ukuran. Spanduk terpanjang yang pernah dibuatnya mencapai 25 meter.

Dalam sebulan, ia biasanya menghabiskan sekitar 280 meter sampai 300 meter spanduk.

Pelanggan pun banyak yang berasal bukan saja dari dalam kota, tetapi juga luar kota.

"Dari Aceh sampai Papua, pokoknya sebagian besar Pulau Indonesia sudah masuk semua. Saya pernah kirim ke Sentani, Papua. Ongkirnya saja Rp 1,3 juta," ujarnya.

Bisnis di Tengah Pandemi

Meski pandemi Covid-19 membuat banyak bisnis seret, tetapi tidak demikian bagi Hartono.

Pesanan demi pesanan mampir di ponselnya itu. Ia mengaku pendapatannya sempat tertunda sesaat di awal pandemi.

Pesanan baru diambil dua bulan setelah jadi lantaran warung pecel lele tutup total.

Kendati demikian, masih banyak penjual pecel lele baru yang memesan kepadanya. Bahkan, seorang aktor tanah air, yang baru merintis usaha baru pecel lele, memesan spanduk kepadanya.

"Pengusaha-pengusaha pecel lele yang baru banyak yang berdatangan. Hari ini aja ada empat spanduk tiba-tiba pesen. Enggak tahu mereka dapat nomer darimana. Biasanya nyari di google," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved