Breaking News:

Insentif Kendaraan Bermotor dan Properti Diyakini Bakal Percepat Pemulihan Ekonomi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, stimulus diberikan untuk mendorong konsumsi dan peningkatan utilitas industri

Kontan
Harga mobil bekas Toyota Avanza 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Pemerintah memberlakukan relaksasi atau insentif Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM) dan perumahan untuk mendorong pemulihan ekonomi.

Kebijakan ini berlaku mulai 1 Maret 2021 sampai 31 Agustus 2021.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, stimulus diberikan untuk mendorong konsumsi dan peningkatan utilitas industri otomotif dan juga properti. Pasalnya, kedua sektor ini terhantam keras di tengah pandemi Covid-19.

“Otomotif adalah industri padat karya yang memiliki 1,5 juta orang pekerja langsung dan 4,5 tenaga kerja tidak langsung. Industri Pendukung Otomotif menyumbang Rp700 triliun pada PDB 2019. Juga terdapat ±7.451 pabrik yang menghasilkan produk input untuk industri otomotif. Karena itu kita perlu mempertahankan basis industri otomotif nasional,” jelas Menko Airlangga Hartarto saat konferensi pers bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Senin (1/3/2021).

Stimulus Perumahan

Sementara itu, Menko Airlangga juga menjelaskan bahwa pemerintah memberikan stimulus untuk perumahan berupa pajak pertambahan nilai (PPN). Pasalnya kontribusi sektor properti berupa real estate dan konstruksi terhadap PDB selama 20 tahun terakhir terus meningkat, dari 7,8% pada tahun 2000, menjadi 13,6% pada tahun 2020. Namun tahun lalu pertumbuhan sektor properti mengalami kontraksi -2,0%, bahkan sektor konstruksi turun lebih dalam -3,3%.

“Pekerja di sektor properti juga terus meningkat sejak 2000 sampai 2016 dan sedikit melandai hingga 9,1 Juta di 2019, namun turun menjadi 8,5 Juta di 2020. Ini yang menjadi pertimbangan pemerintah,” tambah Menko Airlangga.

Oleh karena itu, momentum saat ini dimanfaatkan sebagai peluang untuk mengungkit pertumbuhan ekonomi melalui insentif-insentif tersebut agar mampu menggairahkan konsumsi, utamanya masyarakat kelas menengah untuk melakukan konsumsi yang tinggi. Hal ini juga didukung oleh program vaksinasi yang mulai berjalan dan penularan kasus Covid-19 mulai menurun.

Baca juga: 4 Mobil Honda yang Mendapat Penerapan PPnBM 0 Persen, dari Mobil Honda Brio hingga HRV

Baca juga: Penerapan PPnBM 0 Persen Pengaruhi Harga Mobil Bekas, Daihatsu Xenia Turun Rp 15 Juta

Makin Cepat

Kebijakan relaksasi ini ditanggapi positif oleh Riyanto Umar, Senior Researcher Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang mengatakan bahwa kebijakan tersebut dapat mendorong pemulihan ekonomi nasional semakin cepat.

"Kebijakan ini sangat bagus, pada kondisi normal kalau harganya turun 10 persen maka diperkirakan demand (permintaan) mobil bisa naik lebih dari 15 persen. Tapi di tahun ini dengan adanya insentif PPnBM diperkirakan permintaannya akan naik di kisaran 15-20 persen, terutama di market otomotif 1500cc," ujar Riyanto.

Pasalnya, kata Riyanto, insentif ini memang dinanti oleh konsumen sejak tahun lalu, sehingga dengan diberlakukannya kebijakan ini, bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat.

"Jadi ini cukup mendorong aktivitas sektor otomotif dan turunannya, maka dari sisi manufacturing bisa disiapkan. Termasuk sektor pemasok bahan baku, industri komponen, dan juga termasuk jasa penunjangnya," ucap Riyanto.

Terlebih, sektor otomotif pada tahun lalu turun tajam hampir 50 persen. Dimana, penjualan mobil di 2020 turun drastis, dari 1 jutaan unit menjadi 500 ribuan unit. Industri mesin beserta perlengkapannya dari 80,5 persen jadi 40 persen dan kendaraan bermotor dari 80,8 persen jadi 40 persen.

“Dengan adanya insentif PPnBM, kami yakini mampu menggairahkan perekonomian di Tanah Air dan menimbulkan dampak yang luas bagi sektor otomotif. Juga mampu kembali menyerap tenaga kerja yang terdampak selama pandemi. Utamanya pada bulan Maret-April 2021 ini insentif yang diberikan fasilitas pengurangan PPnBM sebesar 100 persen. Sehingga ini berimplikasi positif untuk industri otomotif dan turunannya,” pungkasnya.

Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved