Cerita 4 Keluarga Terisolasi karena Akses Jalan Ditembok: Buntut Kalah Pilkades?
Empat keluarga di Desa Widodaren, Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah kesulitan keluar masuk rumahnya
TRIBUNJAKARTA.COM- Empat keluarga di Desa Widodaren, Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah kesulitan keluar masuk rumahnya.
Pasalnya akses jalan yang biasa digunakan untuk keluar masuk telah ditembok setinggi 3 meter.
Satu-satunya akses jalan, empat keluarga tersebut harus memutar dan melewati saluran air atau got.
Sempat diberi uang muka Rp 50 juta
Tri Budi, salah satu pemilik rumah yang terisolasi bercerita akses jalan tersebut sudah dibeli dengan harga Rp 100 juta.
Baca juga: Turap Longsor di Jagakarsa Jakarta Selatan Timpa 1 Rumah Warga
Bahkan ia sudah membayar uang muka Rp 50 juta yang diserahkan kepada Sukendro pada 18 Desember 2020.
Tanah yang dibeli memiliki lebar depan 3,33 meter dan lebar belakang 3,66 meter.
Baca juga: Pamit Pergi Ke Kondangan, Elya Ditemukan Tak Bernyawa di Pinggir Jalan
Namun oleh Sukendro, uang tersebut dikembalikan secara sepihak melalui menantunya sebelum pelaksanaan Pilkades Desember 2020.
Namun saat kalah pilkada, akses jalan tersebut ditutup tembok tepatnya mulai 27 Februari 2021.
Akibatnya ada empat keluarga yang kesulitan keluar. Mereka adalah Suharto, ayah Tri Budi, Kismanto, Agus, dan Amsori.
Baca juga: Rencana 40 Hari Rina Gunawan, Teddy Syach Ungkap Keinginan Mendiang Istri Dibuatkan Ini: Hitam Semua
"Setelah kalah pilkades dibangun tembok ditutup mulai 27 Februari 2021 sampai sekarang. Tiga rumah dari tiga kepala keluarga (KK) yakni milik ayah saya Suharto, terus ada Pak Kismanto, Agus, dan Amsori tertutup akses jalannya. Saya juga tidak tahu alasan penutupan apa," kata Budi, Rabu (10/3/2021).
Untuk keluar mereka harus memutar melewati saluran air atau got. Jika tidak hati-hati, maka mereka bisa terperosok.
Baca juga: Rencana 40 Hari Rina Gunawan, Teddy Syach Ungkap Keinginan Mendiang Istri Dibuatkan Ini: Hitam Semua
"Saya tidak tahu permasalahannya apa, sampai ditutup begini jalannya. Kami hanya bisa melaporkan kasus ini ke pemerintah desa," tambah Budi.
Karena rumor, batal dijual
Sementara itu Andrianto Susatyo (37), anak Sukendro, pemilik tanah, saat ditemui Kompas.com menjelaskan, pihak keluarga tetap bersikeras tidak akan menjual tanah yang kini sudah dibangun tembok rumah itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/tembok-yang-dibangun-menutup-akses-tiga-rumah-warga-di-desa-widodaren.jpg)