Kenali Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson, Cuma Sekali Suntik Hingga Efek Sampingnya
Berikut sejumlah fakta mengenai vaksin Covid-19 Johnson & Johnson yang disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
TRIBUNJAKARTA.COM - Berikut sejumlah fakta mengenai vaksin Covid-19 Johnson & Johnson yang disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Vaksin J&J menjadi vaksin Covid-19 ketiga yang mendapat dukungan secara resmi dari WHO.
WHO menyetujui penggunaan darurat vaksin Covid-19 buatan perusahaan farmasi Johnson & Johnson (J&J) pada Jumat (12/3/2021).
Sebelumnya, dukungan serupa juga diberikan kepada vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech dan vaksin yang dikembangkan oleh Universitas Oxford-AstraZeneca.
Vaksin J&J juga menjadi vaksin Covid-19 pertama yang hanya membutuhkan satu kali suntikan.
Sedangkan vaksin yang saat ini beredar, seperti Pfizer-BioNTech, Sinovac, Oxford-AstraZeneca, dan Moderna, memerlukan dua kali suntikan.
"Setiap alat baru, aman dan efektif melawan Covid-19 adalah satu langkah lebih dekat untuk mengendalikan pandemi," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Mengenal vaksin J&J
Sebelum disetujui oleh WHO, vaksin Covid-19 J&J telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Otoritas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat pada 27 Februari 2021.
Vaksin J&J menjadi vaksin Covid-19 ketiga yang disetujui penggunaannya di Amerika Serikat oleh FDA. Dua vaksin lainnya adalah buatan Moderna dan Pfizer-BioNTech.
Melansir CNBC, Senin (1/3/2021) berdasarkan data dari FDA, vaksin J&J memiliki efektivitas sebesar 72 persen dalam hal mencegah terjadinya infeksi virus corona.
Vaksin tersebut juga tercatat 86 persen efektif mencegah timbulnya sakit parah dan kematian akibat Covid-19.
Untuk diketahui, vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech, tercatat 95 persen efektif dalam hal mencegah infeksi virus corona, setelah dua kali penyuntikan vaksin.
Menurut Kepala Penasihat Medis Gedung Putih Anthony Fauci, meski efektivitas vaksin J&J lebih rendah dibandingkan Moderna dan Pfizer-BioNTech, namun bukan berarti vaksin tersebut lebih lemah atau lebih buruk.
"Ketiganya adalah vaksin yang baik," kata Fauci.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/vaksin-lanud-halim.jpg)